
Karina bangun pas adzan subuh berkumandang, seperti kebiasaan kesehariannya. Membereskan tempat tidur dan mandi melakukan sholat subuh. Ingin rasanya Karina cepat memulai kerjanya dan melewati hari ini dengan lancar, mengurus, melayani dan menemani majikannya.
Semangat yang tertanam di dalam dirinya membangkitkan keikhlasan di dalam hatinya, Nyonya begitu banyak perusahaan siapa tahu kalau Nyonya sudah sembuh nanti terus tak membutuhkan perawatan dirinya lagi, Karina akan memberanikan diri meminta pekerjaan yang dirinya mampu.
Semoga misi pertamanya di keluarga luar biasa ini mengantarkan Karina pada pekerjaan lain, dan merubah cerita jalan hidupnya mengangkat dirinya dan adiknya dari keterpurukan.
Kamar Bi Ummah masih sepi belum kedengaran aktivitas, mungkin belum bangun. Karina nggak bisa diam hanya menunggu perintah di dalam kamarnya, itu bukan kebiasaannya.
Karina keluar mengambil sapu, menyapu teras sekeliling rumah besar yang tampak masih sepi di luar dan halamannya yang sangat luas, Karina menyapu sambil mengagumi tiap sapuan sapunya di lantai marmer dengan ukuran besar itu.
Perasaan dan ingatan Karina melayang pada Panti di mana adiknya pertama kali tidur sama temannya, mungkin sudah bangun dan mulai beraktivitas sama seperti dirinya.
"Suster? nggak usah menyapu itu kerjaan saya." Suara Bi Ummah mengagetkan Karina yang asyik menyapu dengan teliti.
"Nggak apa-apa Bi Ummah daripada saya diam, di kamar sambil menunggu Nyonya bangun dan saya mendapat tugas pertama, biar kita saling bantu Bi Ummah tenang saja saya terbiasa kerja apapun," jawab Karina santai saja sambil tetap menyapu daun kering yang di terbangkan angin ke teras.
"Bukan begitu suster, nanti saya kena teguran Nyonya apa Tuan, saya jadi nggak enak nanti."
"Bi Ummah, kita sama-sama kerja di sini, sebelum saya kerja yang menjadi tugas saya nggak apa-apa saya bantu Bi Ummah, kalau Bi Ummah kena tegur nanti saya yang akan ngomong sama Nyonya juga Tuan saya biasa beraktivitas sejak bangun jadi kalau leha-leha nggak ada yang dikerjakan aku merasa nggak betah."
"Ya sudah, tapi kalau Nyonya sudah bangun dan memanggil, suster harus cepat-cepat melayaninya." Bi Ummah tersenyum serba salah.
"Baik Bi Ummah, kalau nggak kasih saya pekerjaan lain," ucap Karina memandang Bi Ummah yang menarik nafas panjang.
Karina meneruskan pekerjaannya, dengan tanpa beban semua dilakukan dengan hati yang tulus dan kesungguhan.
Sudah jam setengah tujuh Nyonya belum ada tanda-tanda bangun, atau sudah bangun tapi belum membuka kamarnya.
Yang pertama keluar adalah Tuan Radit dengan pakaian kantor yang sudah rapi dengan setelan jas dipadukan dengan dasi yang begitu serasi, tinggi sembada begitu gagah dan elegan kelihatannya.
"Kok suster yang bawakan makanan sarapan ke meja makan? kemana Bi Ummah?" ucap Radit melihat Karina ikut membantu menyediakan sarapan sambil duduk di meja makan.
"Saya yang meminta Tuan, sebelum Nyonya memanggil saya, saya nggak enak hanya berdiam diri saja," ucap Karina agak malu. Radit hanya menaikkan alisnya sambil mengambil makanan dan memilihnya apa yang di sukai nya.
"Nyonya belum bangun karena meminum obat anti nyeri, jadi mungkin ada obat tidurnya, saya tak berani membangunkannya, tapi kalau nanti bangun tolong di bantu ya," ucap Radit tanpa melihat ke arah Karina.
Karina yang mengagumi Radit sempat meliriknya dari jarak dekat saat menyimpan teh hangat di teko keramik dengan dua cangkirnya.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Karina undur diri membiarkan Radit sarapan sendiri.
"Suster!"
Baru saja Karina mau belok ke ruang belakang Andhini memanggilnya.
"Ya Nya." Karina balik lagi dengan tergesa, mengetuk pintu dengan ragu perlahan membuka pintu kamar yang tak tertutup rapat.
"Suster tolong saya mau bangun. Mau duduk dulu," ucapan pertama Andhini saat melihat Karina muncul di kamarnya.
"Mari."
"Apa suami saya sudah berangkat?"
"Masih sarapan Nyonya."
"Saya kesiangan tidur lelap banget mungkin efek obat nyeri yang aku minum."
Karina tersenyum sambil mengangguk, berada di ruangan kamar tidur majikannya, membuat Karina merasa canggung. Mulai melipat selimut tebal yang sangat lembut saat di pegang, terlihat Andhini mengikat rambutnya dengan ikat rambut yang di simpan di atas tempat tidurnya.
"Suster, pertama aku mau mandi tolong bantu memapah aku ya. tapi sebelum mandi tolong lihat dulu apa Mas Radit masih di meja makan? takut mau pamit aku lagi di kamar mandi."
Karina keluar kamar dan melihat Tuan Radit masih ada di meja makan, lagi melihat-lihat ponselnya sambil makan.
Karina masuk lagi ke kamar dan memerintahkan pada Andhini.
"Baik suster, aku mandi menunggu suamiku pamit dulu sambil istirahat."
"Boleh aku urut perlahan saja pergelangan kakinya Nyonya? biar tidak terlalu kaku, dan nanti biar agak luwes dan terbiasa dan harus mulai di gerak-gerak kan. Ini bukan patah tulang mungkin hanya keseleo saja engkel yang tida pada tempatnya."
"Masuk akal suster, boleh tapi pelan ya."
"Iya, aku ambil minyak sayur dulu buat meregangkan urat dan ototnya juga biar licin tidak kaku saat saya pegang nanti."
Karina mau balik tapi di cegah Andhini.
"Nggak usah biar aku panggil Bi Ummah pakai bel saja, nanti juga datang."
Karina mulai membuka selimut kaki Andhini yang kelihatan masih bengkak dan luka luarnya masih agak basah.
__ADS_1
Bi Ummah datang langsung di minta membawakan minyak sayur ke piring kecil untuk meregangkan kaku pada kaki Andhini.
Karina mulai meneliti semuanya, hanya luka biasa dan keseleo saja.
"Maaf Nyonya, bisa di tekuk perlahan di lututnya? ayo kita coba di rasa-rasa dulu, akan lebih tidak enak kalau sama sekali tidak di gerakkan," ucap Karina sambil membantu memegang betis putih mulus Andhini.
Andhini meringis tapi lama-lama biasa, Karina mulai memegang mata kaki Andhini dan merasakan dengan perlahan perbedaannya, keseleo seperti ini anak Panti sering banget, habis olahraga, habis sepakbola atau main sama temannya. Karina mengerti cara menangani hal seperti ini.
Yang Andhini alami akan terasa kaku dan sakit karena ada luka luarnya yang memanjang di betisnya, itulah kendalanya.
Karina mulai mengurut perlahan, dengan perasaannya.
"Enak juga sus, mulai di gerakkan lumayan ringan."
"Iya Nyonya semoga lebih baik."
Masuk Radit melihat Andhini lagi di urut sama Karina.
"Sayang aku berangkat dulu, apa itu di urut ya? hati-hati suster saya titip istri ku ya tolong di bantu segala keperluannya."
Radit memeluk Andhini yang lagi duduk menjulurkan kakinya di urut sama Karina, mencium kening, kedua pipi dan selintas bibir Andhini.
Karina menundukkan kepalanya tak berani melihat kemesraan suami istri di hadapannya
"Hati-hati sayang, ingat jangan bilang Bapak Ibu atau siapapun, aku mau istirahat saja, udah jawab gitu aja kalau mereka tanya," ucap Andhini pada suaminya
"Oke, kamu juga hati-hati di rumah ya sayang." ucap Raditya sambil mengusap kepala dan rambut istrinya. Radit berlalu keluar kamar dan terdengar suara mobil di hidupkan suaranya semakin tak terdengar.
"Sudah dulu suster, aku mau mandi tolong antar aku ke kamar mandi."
"Baik Nyonya mari mau seperti apa? jalan di papah apa pakai kursi roda?"
"Aku mau coba jalan tapi di bantu ya, dari kemarin aku di bopong sama Mas Radit kalau mau mandi."
Karina memegang sebelah tangan dan pinggang ramping Andhini, kaki kirinya mulai menapak di lantai, kaki kanannya masing menggantung Andhini tak berani menginjakkan nya.
"Injakan aja perlahan Nyonya, biar di rasa dulu se-gimana sakitnya, juga biar yang kiri bisa melangkah walau tertatih ayo coba biar aku pegangin."
******
__ADS_1