
"Nggak ada yang lebih unik juga agak lebih jauh lagi gitu selain restoran ini?" celetuk Rahadi setelah ambil posisi duduk di restoran yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal Andhini dan Radit.
"Ngapain mencari yang jauh? yang dekat aja belum dicicipi ntar kamu ketagihan malah makan di sini," sahut Radit santai saja menanggapi komentar Rahadi.
"Kalau mau mengeksplor Melbourne mulai besok, sana telusuri dari ujung ke ujung, tapi ada syaratnya jangan minta diantar kan sudah gede. Masalahnya kenapa nggak bawa cewek liburannya?" ucap Andhini membuat Rahadian adik iparnya manyun.
Makanan datang semua sudah lapar, makan malam pertama dalam kebersamaan yang jarang terjadi.
"Kak, apa di kondominium Kakak ada orang Indonesia tinggal nggak?" tanya Rahadian mengagetkan Andhini juga Raditya. di sela-sela suapannya.
"Kalau itu nggak tahu, mungkin ada mungkin juga nggak ada. jujur semua orang di sini kurang sosialisasi jarang ngobrol sok akrab dan bertegur sapa tetapi bersikap ramah terhadap siapapun saat kita bertemu baik dengan penghuni lainnya. Walaupun tetangga sekalipun kami kurang begitu komunikasi jadi mungkin kalau untuk mencari orang Indonesia di harusnya di paguyuban, itu semua orang Indonesia ada, mahasiswa ada pekerja, ada pejabat dan pekerja lainnya yang sudah menetap di sini berbagai profesi yang ada di situ." tutur Andhini pada Rahadi yang kelihatan mukanya sulit di jabarkan.
"Kenapa memang? beribu orang di satu bangunan gedung berpuluh tingkat tinggi dari ribuan tempat tinggal berbagai etnis dan suku bangsa sulit untuk menjawab pertanyaan kamu." jawab Radit menambahkan jawaban Andhini.
"Aku kemarin satu lift sama cewek kelihatan Melayu tapi nggak sempat kenalan, Aku sadar saat cewek itu sudah belok dan menghilang entah masuk lorong yang mana." Rahadian nyengir sendiri mengingat kebodohannya tidak cepat tanggap.
"Nah ini dia penyakitnya, ya seperti itu nggak pede, gugup seperti bertolak belakang dengan omongannya seakan jadi Casanova." ledek Radit pada Adiknya.
Dalam hati Andhini dan Radit cemas juga jangan-jangan itu adalah Karina satu muka Melayu yang jarang ditemui kenapa begitu kebetulan seandainya itu adalah Karina?
Andhini juga Erika adalah muka-muka yang begitu mudah di kenali karena sebagian penghuni kondominium adalah warga lokal juga warga pendatang dari berbagai belahan dunia yang berbeda.
"Bukankah selera kamu bule? kok yang di cari orang Indonesia atau suku Melayu?" tanya Radit dengan muka di serius seriusin.
"Eh, siapa bilang? Aku masih menjunjung tinggi adat budaya walaupun itu tidak menutup kemungkinan tapi setidaknya ingin budaya yang tidak terlalu jomplang minimal masih dari benua Asia atau negara tetangga terdekat." sahut Radit mengungkapkan seleranya.
"Baiklah, lanjutkan seleksi pegawai nya besok Aku doakan ada teman malam minggu kamu di sini."
__ADS_1
"Aku turut seleksi kalau sudah ada yang kepilih ya?" tambah Andhini.
"Ah, Kak Andhini kayak milih makanan aja, sudah ah Aku merasa jadi orang yang begitu membutuhkan bantuan saat desakan begitu gencar datang dari sana sini mengharuskan Aku segera memiliki kekasih dan seorang pendamping nggak Pak Budi di Indonesia, Ibu sama Bapak Kak Radit juga Kak Andhini semuanya sama mendorong Aku cepat punya pendamping."
"Hahaha ...begitulah nasib jomblo, belum memiliki kekasih kapan punya kekasih sudah punya kekasih kapan menikah, sudah menikah kapan punya anak sudah punya anak kapan punya adik, terus saja Kalau mengikuti omongan orang."
"Hidup kami di bawa enjoy Rahadi, usaha kami jalani, tapi kami tak melupakan satu yang harus tetap kami pertahankan yaitu mencari kebahagiaan." tambah Andhini seakan memotivasi diri sendiri.
Raditya melirik istrinya sambil mengangguk, ada rasa bangga juga sedih dengan rumah tangganya yang kini harus dijalani seperti ini.
Sampai pulang kembali ke kondominium dan Rahadian ke kamar hotelnya, Andhini selalu waspada takut tanpa disengaja dirinya dan Radit saat bersama Rahadian bertemu dengan Karina mungkin akan terjadi kekakuan di antara mereka karena Karina sudah meminta izin kalau berjalan-jalan dan membeli makanan atau kegiatan di luar pergi ke minimarket semua sudah diizinkan Andhini.
"Mas, apa Karina sudah makan ya?" tanya Andhini setalah menutup pintu huniannya dan mengaitkan tas di gantungan kapstock.
"Mungkin sudah, kalau nggak coba kamu telephon soalnya tadi pulangnya agak siangan ya?" jawab Radit sambil merebahkan dirinya di tempat tidur.
"Dhini! ini sudah malam. Sudahlah Karina sudah besar bisa mengurus dirinya sendiri atau malah sudah tidur kalau cuma urusan makan bisa cari dan beli sendiri, semua sudah kita fasilitasi," jawab Radit seakan malas keluar lagi. Dan tak suka saat istirahatnya banyak gangguan.
"Ya ampun Mas, di tubuh Karina ada calon anakmu, Aku takut saja Karina belum makan, kasihan dia juga calon anak kita hanya memastikan saja." tukas Andhini lembut.
"Sudahlah, Aku capek Dhini mau istirahat, tidakkah kamu berpikir kalau Aku akan terganggu dengan pertemuanku sama Karina malam hari? Semenjak dia hamil Aku mengurangi dan sedikit menghindari pertemuan dan kebersamaan dengan dia, Aku merasa bersalah Dhini! Aku mencintai kamu! tapi Aku juga laki-laki normal yang tak bisa berkutik disaat kami berdua apa kamu berpikir seperti itu?"
"Mas! kenapa kamu seakan marah dan menyalahkan Aku? bukankah semua ini adalah kewajiban Mas juga? semua ini terjadi atas kesepakatan kita bersama? Aku hanya ingin Mas tengok dia itu saja." Andhini tetap menginginkan Radit menengok Karina.
"Aku tidak menyalahkan kamu, tapi Aku mau istirahat, Aku begitu banyak pikiran dengan keadaan kita menjalani kehidupan seperti ini."
"Kalau Mas tak perduli sama Karina dan anaknya berarti Mas Radit tak perduli juga padaku!"
__ADS_1
"Apa maksudmu? bukankah selama ini Aku menyetujui semua rencana mu itu, untuk apa? itu karena Aku peduli sama kamu Aku ingin mempertahankan rumah tangga ini dan ingin segera menyelesaikan semua perjanjian ini dan melepaskan semuanya. Kita kembali hidup normal tidak dalam kecemasan dan ketakutan seperti ini!"
"Tapi Aku menginginkan anak itu yang akan menjadi anak kita terjamin segalanya Mas."
"Baik Andhini, malam ini Aku menginap di tempat Karina, jangan salahkan Aku! bukan Aku menyalahi perjanjian dan aturan tapi semata mengikuti keinginanmu!" jawab Radit sambil memakai kembali pakaiannya.
"Mas, tapi Aku ingin bersamamu malam ini."
"Seperti Aku juga yang menginginkan kamu malam ini Andhini, tapi semua gara-gara kamu memaksa Aku! tidur sendiri dan jangan ganggu Aku."
"Mas!"
Radit keluar dan tak menghiraukan panggilan Andhini yang mengejarnya, memandang punggung Mas Radit suaminya yang berjalan tergesa tak terkejar.
Andhini berusaha mengejar dan ingin memberikan pengertian sama suaminya, kalau malam adalah waktu kebersamaanya, besok siang masih bisa Mas Radit bersama Karina.
Andhini berhenti di ujung belokan beberapa lorong dari huniannya samar terlihat Mas Radit masuk ke hunian Karina.
Bukan seperti itu yang diinginkan Andhini Mas Radit tetap memberikan tanggung jawab dan perhatian pada Karina karena kelihatannya Mas Radit tidak begitu menikmati memiliki istri dua dari kata-katanya mulai sedikit menghindari Karina setelah hamil. Dari ucapan dia tapi bisa berpaling dari dirinya ada rasa bahagia di hati Andhini karena cinta Mas Radit hanya untuk dirinya.
Andhini menangis di ujung lorong dan kembali ke kamarnya, Baru kali ini Mas Radit bicara begitu keras pada dirinya tak pernah sedikitpun Dia berbicara dalam kemarahan seperti itu, semenjak pernikahan tidak ada pertentangan yang serius di antara mereka.
*****
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1