Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Bermain api


__ADS_3

"Ah, dokter jangan! jangan lakukan itu! cukup kita merasakan kehangatan dari sentuhan, Aku tak mau melakukannya, sungguh...." ucap Andhini dengan kesadarannya.


"Andhini, Aku merasakan keinginan dari penolakan kamu, tapi tak apa Aku menghargai mu, baiklah tapi beri Aku ciuman hangat Kamu Andhini!" suara dr Fadli dengan jiwa mudanya begitu bergelora ingin mengeksplor sesuatu yang dirinya kagumi, dengan bibir bergetar memberikan sentuhan ketenangan bagi Andhini yang menggelinjang di dalam pelukannya.


Andhini sadar dengan segala pancingannya, semua tak boleh terjadi walau semua tinggal satu langkah saja semua tercapai sudah, tapi Andhini lebih berpengalaman dalam mengendalikan yang seperti ini.


Biarlah menikmati sentuhan hangatnya, dan sedikit liar berpetualang seperti liarnya Mas Radit memperlakukan dirinya. Apa semua harus dibalas seperti itu? itu sama gilanya Andhini! tapi Andhini hanya membiarkan dr Fadli mendekapnya dengan erat dengan ciuman yang tak lepas seakan pesona dirinya yang di kagumnya takut hilang dan hanya mimpi sebatas fatamorgana saja.


Sama-sama menginginkan, dan sama-sama membangkitkan tetapi batasan tak begitu saja bisa ditembus. Andhini merasakan sentuhan yang bertubi-tubi dan tak terkendali dengan nafas sama panasnya.


"Dok, Aku mau minum ya." dr Fadli tak melepaskan Andhini sampai Andhini mendorongnya dengan sedikit keras hingga mereka sadar sendiri, Dr Fadli menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mengatur ritme nafas dan hasratnya yang terbendung, kemejanya berantakan separuh kancingnya terbuka dan pakaian Andhini juga tak jauh berbeda, Andhini merasa puas telah melihat satu keinginan yang tak tercapai. Serasa melihat suaminya sendiri yang menginginkan dirinya.


"Andhini, jangan panggil Aku dokter, panggil namaku atau siapa saja sesuka hatimu." ucap dr Fadli memejamkan matanya sambil tetap bersandar di sandaran sofa.


Andhini tersenyum mungkin seperti itu sikap laki-laki yang diperlihatkan kalau menginginkan sesuatu dan tak tercapai Andhini ingin melihat semua itu dari Mas Radit.


"Baik Mas, Aku suka kebersamaan ini, tapi sayang Aku takut kemalaman jadi Aku pulang dulu dan Aku tetap ikut program kehamilan minggu depan." Andhini semakin berani mengelus pipi dr Fadli yang memeluknya dari belakang dengan sedikit menggigitnya.


"Andhini, serasa Aku tak akan sanggup kalau tak bertemu selama seminggu." ucap dr Fadli begitu dekat di telinga Andhini.


"Ssssst.... Akan banyak waktu kebersamaan kita nanti dok eh, Mas! datanglah ke tempat supermarket, Aku ada di situ." ucap Andhini dengan manja.


"Ah, Andhini kamu begitu baik padaku, Tak akan Aku pertimbangkan pandanganmu itu, tapi Aku janji pasti datang." dr Fadli membalikkan badan Andhini dan memandangnya begitu lama di hadapannya, seakan tidak percaya Andhini yang sejak pertama kali mereka bertemu telah memikat hatinya kini begitu pasrah di hadapannya, telah memeluk dan menyentuhnya dengan kebahagiaan dengan satu kesalahan Andhini adalah istri orang lain.


Andhini telah bermain api tetapi dengan satu tujuan untuk menarik dokter Fadli biar lebih dekat dan masuk di kehidupannya tetapi dengan tujuan utama yaitu memberikan syok terapi bagi Mas Radit sendiri ingin melihat reaksinya apakah cinta itu masih ada?

__ADS_1


Andhini memberikan rasa sedikit karena dirinya juga butuh sentuhan tapi Andhini tahu batasan, sampai di mana yang masih dalam batas wajar dilakukannya walaupun tetap semua itu salah secara hukum rumah tangga dan Agama.


"Oke Mas Sayang, Aku pulang dulu." Andhini mencium pipi dr Fadli, dan kelihatan Andhini begitu sayang dengan usapan lembutnya, dan Andhini kembali memeluk dr Fadli yang terasa dadanya masih bergemuruh.


"Aku antar ya?"


"Lha, gimana jadi sling antar?"


"Tak apa, Aku masih ingin bersamamu sampai di supermarket mu dan memastikan kamu pulang dengan selamat bisa tidur dengan tidak tenang." ucap dr Fadli di akhiri dengan menggoda Andhini dengan ucapan tidak tenang.


"Lho, kok begitu do'a nya Mas? kita akan sama melewati malam ini dengan tidak tenang bukan?" Dr Fadli melepaskan pelukannya menahan segala hasrat yang dibangkitkan Andhini sesaat, Andhini tahu itu hatinya merasa takut juga dan merinding membayangkan tubuh tinggi tegap kekar dr Fadli dalam khayalannya. Akankan se-gagah Mas Radit saat pagi itu? Ah... Andhini hanya bisa membayangkannya.


Andhini tak berani berlayar lebih jauh lagi, jiwa muda dr Fadli mungkin kalau dibangkitkan Andhini sendiri tidak sanggup menahannya, dan itu akan menjadi kesalahan fatal.


Rasa yang di nyatakan hanya kesepian masing-masing dari harap dan damba saling kagum diantara keduanya.


Andhini mencium pipi dr Fadli saat lampu mobil di matikan sebelum mereka turun dari mobil, dr Fadli merasa di beri lampu hijau meraih tangan Andhini menggenggamnya, bibirnya sesaat beradu kembali dan menciumnya lama, lalu mereka turun bersama-sama dalam kebisuan.


Sungguh malam yang takkan terlupakan bagi keduanya semua terjadi begitu spontan tanpa diduga sama sekali ternyata mereka sama-sama suka dan menikmatinya tanpa ada paksaan atau saling memaksa walaupun dirasakan Andhini semua itu salah tetapi dari hati kecilnya merasa menikmati.


Andhini masuk lewat pintu kantor samping setelah melambaikan tangan pada dr Fadli yang mau menyetop taksi.


Andhini mengetuk pintu dan melirik jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan jam 20: 30, kelihatan Erika masih ada mungkin lagi persiapan mau pulang.


Erika mendengar deru mobil Andhini tapi diam saja tak menyambutnya, hanya menatap Andhini dengan pandangan sulit diartikan ada keheranan karena Andini terlihat agak kucel.

__ADS_1


"Lo dari mana?" tanya Erika sambil tetap memandang wajah Andhini.


"Gue habis program kebahagiaan, kenapa ada masalah?" sahut Andhini merasa biasa saja.


"Sepertinya lo habis program Anak dengan bibit yang berbeda!"


"Lo kelewat curiga Rika, gue nggak seperti itu kalau gue pulang pagi lo baru curiga!"


"Semua orang pasti akan curiga, lo habis pergi sama siapa, dan datang juga dengan siapa, gue tengok pas mobil lo datang lampunya mati, lo turun dengan mengigit bibir lo! apa maksudnya semua itu? apa gue orang dewasa harus pura-pura tak tahu?" cecar Erika membuat Andhini tak bisa menyembunyikan semuanya


Ya gue habis jalan sama dokter itu!


"Selera lo beda dikit apa, cari bule Australia kek kalau hanya buat intermezzo jangan cari masalah dengan orang se-Tanah Air, cari masalah saja! masalah lo itu sudah tertumpuk gue pikir lo akan bijaksana!" ucap Erika membuat Andhini atasannya dalam bekerja diam.


"Gue nggak ngapa-ngapain suer deh!" sahut Andhini meyakinkan.


"Oke gue percaya, hari ini anggap permulaan saja, juga sebagai pemanasan besok apa kalian bisa seperti hari ini?" tanya Erika di depan Andhini.


"Iya gue jujur, cuma ciuman sama pelukan, tak lebih dari itu." ucap Andhini membuat Erika terbelalak yang tadinya dirinya hanya memancing ternyata Andhini terpancing beneran sampai benar-benar jujur di hadapannya.


"Kritis kalian itu memang! tadi suami lo ke sini gue bela lo dan tutupi semuanya kalau lo lagi mencari barang lokal mungkin pulangnya malam, kurang apa gue coba?" Erika seperti kesal dengan Andhini yang mencari pelarian dari masalahnya sendiri dengan cara salah menurut Erika.


******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️

__ADS_1



__ADS_2