
"Halo, Kak Andhini," ucap Rai dengan mempersiapkan kalimat untuk di ucapkan pada Andhini.
"Ya gimana Rai? Apa kalian bisa pulang bawa Karina dan Bayi itu?" jawab Andhini sambil membereskan kertas daftar list belanjaan stok barang yang akan segera di kirim dengan sebelah tangannya.
"Sepertinya belum Kak," suara Rai terputus sampai di situ.
"Tapi ketemu Karina?" sahut Andhini lagi, seperti ada nada kepenasaranan dari pertanyaannya.
"Ketemu, semua tak seperti yang di harapkan, Karina datang sendiri lalu Kak Radit marah dan Karina kabur Kak Radit mau menyusulnya tapi malah jatuh melompat tidak sampai akhirnya kecelakaan Kak Radit terluka dan sekarang pingsan belum siuman ada di rumah sakit dekat stasiun Caulfield," ucap Rai begitu mengagetkan Andhini.
"Apa? Astagfirullah, Mas Radit kecelakaan? gimana kondisinya? jadi sekarang sudah ada di rumah sakit?" suara Andhini terdengar begitu bergetar.
"Iya Kak, sekarang lagi ditangani dokter dan kondisi terakhir Kak Radit masih belum siuman saat Aku bawa dengan mobil ambulans sama petugas dari stasiun Caulfield tadi," jawab Rai bicara apa adanya.
Rai bisa membayangkan Kak Andhini begitu panik, dan tak bisa menyembunyikan perasaan kagetnya.
"Mas Radiiiit! kok jadi begini?" jerit Andhini sambil menangis memutuskan sambungan telepon pada Rai, membuat Erika yang ada di dekatnya kaget, lalu bangkit mendekatinya dan berulangkali bertanya.
__ADS_1
Andhini begitu marah pada keadaan, bukan jalan keluar yang di dapatnya dari semua masalahnya malah membuat suaminya terluka. Andhini menangis sambil menutup muka dengan kedua telapak tangannya, sejuta penyesalan kini menyesakkan dadanya kenapa harus sampai pada titik ini, padahal semua begitu sederhana kalau di jalani dengan keikhlasan seperti dirinya.
"Dhini ada apa? kenapa Mas Radit?" tanya Erika menggoyangkan lengan Andhini yang tersedu sambil telungkup di meja kerjanya.
Erika membiarkan sahabatnya tenang dulu, biasanya seperti itu, sebelum bisa bicara dan bercerita.
Andhini teringat pada pagi tadi saat suaminya begitu enggan bangun, malah memeluk dan menciumi perutnya dan akhirnya meminta juga, tak ada kata penolakan bagi Andhini kapanpun suaminya meminta, selagi sama-sama sehat. Selalu ada senyum kepuasan dan pelukan sayang saat bangun dalam kepuasan, tak tahunya mungkin itu hubungan suami istri terakhir sebelum suaminya kecelakaan. Andhini mengingatnya itu senyum terakhir dan pelukan sayang juga ciuman dan kemesraan lainnya sebelum suaminya kini kecelakaan.
Dari hari kemarin memang mereka berdua hanya di rumah tempat tinggal huniannya, menikmati kebersamaan di musim dingin begitulah hanya bermalas malasan saja, malah Andhini bicara mau mengurangi waktu kerjanya biarlah Erika yang mengurus semuanya, kini dirinya hamil dan akan sedikit memanjakan diri dengan lebih banyak istirahat dan jalan-jalan saja. Karena selama di Australia ini belum pernah jalan jalan ke mana yang kata orang indahnya bak surga dan mengesankan.
Hanya tempat tidur, sofa, dapur dan kamar mandi aktivitas mereka kemarin itu, entah firasat atau bukan kelihatan Mas Radit begitu manja saja di rasa Andhini kemarin, sedikit sedikit memeluknya, mencumbunya perasaan Andhini hanya rasa kangen saja setelah sekian lama tak merasakan semua itu, bahkan Andhini sempat menegurnya karena di tengah masalah yang belum selesai Mas Radit seolah lupa kalau mereka sedang di hadapkan pada permasalahan yang begitu rumit dan entah kapan akan selesai.
Andhini mengusap perutnya, dengan linangan air mata ada kesedihan yang begitu mengganjal di dalam dadanya, sesal yang tak berkesudahan atas semua tindakan mengizinkan suaminya menikah siri dengan Karina dan semua berakhir dengan keadaan seperti ini, Karina pergi entah ke mana dan untuk apa tujuannya, datang lagi di kira dengan membawa Bayinya tapi tidak sebelum tuntutan yang di ajukan di penuhi, datang dengan tuntutan yang di luar dugaannya, kini Mas Radit malah kecelakaan rasanya komplit sudah penderitaannya.
Lama Andhini merenungi diri dalam bayangan yang begitu jelek tentang keadaan suaminya karena sampai saat ini belum juga siuman ingin rasanya Andhini mencaci maki Karina, tapi semua akan hilang penyesalan dengan cara seperti itu? berbanding terbalik dengan rasa yang telah diberikannya begitu tulus mengangkat derajatnya berharap memperbaiki masa depannya dengan saling memberi manfaat tapi semua yang diharapkan dan niat baiknya tidak bersambut baik dengan penerimaan Karina malah menimbulkan kebencian dan sakit hati sendiri bagi Andhini.
"Dhini, kenapa Mas Radit?"
__ADS_1
Andhini terkejut sambil mengusap airmatanya, lalu menatap muka Erika mungkin satu-satunya orang yang dipercaya setelah kedua orang tuanya adalah Erika teman yang satu ini begitu setia dan dapat di percaya.
"Rika siapkan mobil kita ke rumah sakit dekat stasiun Caulfield. Mas Radit kecelakaan Dia meloncat menyusul Karina yang kabur entah seperti apa kronologisnya yang pasti Mas Radit sekarang di rumah sakit belum siuman dengan luka yang lumayan parah menurut kabar dari Rai."
"Oh, alah. Mas Radit kecelakaan? seperti apa percis kejadiannya Dhini?" tanya Erika sambil bersiap-siap mengambil tas dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya
"Gue nggak tahu Rika, sepertinya belum selesai semua cobaan hidup gue, tadinya gue sudah malas berhubungan dengan orang-orang bodoh hidup gue jadi berantakan tak tertata lagi, tapi dipikir selesainya kapan apa tak akan selesai?" ucap Andhini seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Belum saja Non, masa iya masalah nggak ada selesainya, tadinya gue juga merasa sudah tenang suami lo sudah bercerai secara masalah sudah semakin mendekati kata finish tapi ada saja ya hambatannya, si Karian semakin ngelunjak saja apa dia tahu kalau lo itu hamil?" tanya Erika merasa ingin bicara sama orang yang begitu mempermainkan sahabatnya ini," jawab Erika agak geram juga juga sama Karina kelihatannya.
"Apa pentingnya bicara dan memberitahukan semuanya pada orang lain? Anak gue tak mau di sangkut pautkan dengan masalah ini, sebenarnya gue sudah anggap semua selesai apapun keinginan Karina gue nggak perduli, tapi malah Mas Radit kecelakaan, semakin panjang juga masalah Karina menggantung, biar suatu saat kalau dia butuh paspor dan surat-surat penting lainnya pasti datang ke gue karena semua surat-surat penting gue yang simpan."
"Biar dia tidak besar kepala saja Dhini dan berpikir emang meminta uang segitu sedikit apa? kalau ucap ya pasti gampang tapi memiliki dan melihat semua orang belum tentu bisa mengatakannya.
Erika dan Andhini sudah duduk di mobil, ponsel Andhini berdering lagi, Andhini memberi kode jangan dulu berjalan pada Erika dan Erika mengangguk. Dengan perasaan was-was Andhini mengangkatnya dalam hatinya berharap itu bukan kabar buruk tentang suaminya karena yang meneleponnya adalah nomor baru dalam hati Andhini itu mungkin nomor Karina.
*******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️