
Seminggu kemudian.
"Mas, apa Mas Radit menyadari kalau rumah tangga kita ada yang kurang?" ucap Andhini sambil tetap tiduran di pangkuan Raditya.
Radit melirik istrinya sekilas ke bawah yang sejak tadi tidur di kedua pahanya saat mereka sudah istirahat sambil menonton TV, lalu mengabaikannya.
Radit mencoba memahami makna ucapan istrinya walau telah tahu kemana arahnya, tetapi Radit seolah tak ingin membahasnya saat ini.
Radit tetap mengusap-usap kepala Andhini dan tangannya membelai rambut seolah tidak mendengar ucapan istrinya.
Sebelah tangannya melihat-lihat ponsel, rasa lelah ingin mengistirahatkan raga dan otaknya setelah seharian kerja dengan cuaca di musim panas Australia membuat energinya begitu terkuras.
"Mas! denger nggak Aku ngomong?"
"Ya, apa tadi? Masya Allah Sayang ngantri banget di kantor ekspor impor saat Aku mengambil barang yang dikirim Pak Budi tadi." Radit mencoba mengalihkan pembicaraan mengalihkan topik permasalahan yang akhirnya pasti ke arah itu.
"Mas, kita sudah mau tujuh bulan ada di sini, Alhamdulillah usaha sudah berjalan malah sekarang kita kewalahan menerima pesanan barang kita yang selalu ludes terjual, usaha semakin tercium terutama semua orang Indonesia yang ada di kota Melbourne ini, tapi kenapa belum ada hasil untuk tujuan awal kita?" tanya Andhini langsung ke pokok permasalahan.
"Hanya sabar mau apalagi? jangan setengah-setengah kalau niat bersabar harus total menjalani semuanya dan ikhlaskan hati kita."
"Tapi aku tak bisa sabar."
"Loh, loh, loh maunya kamu itu seperti apa?"
"Mas coba cari solusi lain. Enak buat kita yang bisa memberiku satu ketenangan menjalani semuanya."
"Andhini Sayang, Aku tak tak menemukan satu solusi apapun selain sabar dalam hati dengan penuh keikhlasan menjalaninya," jawab Raditya begitu penuh perasaan dan hati-hati dengan ucapannya sangat menjaga setiap yang menjadi pendapatnya untuk tidak menyinggung istrinya.
__ADS_1
"Kenapa Mas tak mencari? Aku ingin ada perubahan dalam rumahtangga kita," sela Andhini kelihatan semakin serius.
"Andhini, sekarang kita sedang berikhtiar, periksa bolak balik ke rumah sakit apa itu bukan usaha kita?"
"Aku ingin usaha lain."
"Apa maksudmu? mengadopsi anak? atau program bayi tabung lagi di sini?" tanya Radit sambil memandang wajah cantik Andini di pangkuannya.
Andhini bangkit duduk lalu memegang kedua tangan Raditya yang begitu keheranan ada apa lagi dengan Andhini Istrinya?
"Aku ingin anak dalam rumah tangga kita, anak dari rahimku atau anak Mas Radit walau bukan dari Aku."
"Apa maksudnya?" tanya Radit begitu aneh dan keheranan banget mendengar pernyataan Andhini saat ini.
"Aku izinkan Mas Radit menikah lagi."
"Menikahlah Mas secara siri, Aku akan mencarikan perempuan yang mau dan cocok sebagai istri Mas Radit, Aku ingin ikut merawatnya walau anak Mas Radit dengan perempuan lain," tutur Andhini begitu jelas kedengaran di telinga Raditya.
"Andhini, kenapa kamu hukum aku seperti itu? Kamu melecehkan aku menjodohkan dengan seseorang yang aku tidak kenal? dimana selama ini rasa cintamu padaku?" Radit kelihatan agak emosi.
"Bu-bu-kan maksudku seperti itu Mas," jawab Andhini begitu gugup dan semakin memegang erat tangan suaminya.
"Lalu seperti apa keinginanmu? membiarkan aku mengkhianati cinta kita? mengkhianati pernikahan kita? apa kata orangtua kita? yang Aku dapatkan nanti adalah predikat seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab hanya karena tidak memiliki anak dengan begitu bebas melakukan sesuatu hal demi keinginan, di mata mereka itu adalah Aku akan menyakitimu Sayang, tidak! Aku menolaknya kali ini," ucap Radit dengan raut muka begitu tegang.
"Mas, Aku rela Aku ikhlas. Justru Itu demi kebahagiaan keluarga kita, keluarga besar kita kalau memang Aku tidak bisa memberikan Mas keturunan apa yang akan terjadi?"
"Jangan melebihi Yang Maha Kuasa dalam bicara Andhini, kalau memang kita sudah ditakdirkan tidak memiliki keturunan kita angkat anak, itu satu solusinya."
__ADS_1
"Namun ada yang bisa dilakukan dengan lebih baik, Mas Radit bisa memiliki keturunan sebagai anak yang sah dari hasil pernikahan, itu yang Aku maksud Mas."
"Lalu akan menjadi seperti apa kamu Andhini? sudahlah. Cukup aku mencintaimu dan kamu mencintai aku itu yang kita punya dalam rumah tangga ini, Aku sudah bahagia memiliki kamu, anak itu bukan masalah bagiku keturunan sampai generasi kita tidak masalah kalau memang itu yang sudah digariskan."
"Mas, tolonglah mengerti aku. Aku bicara baik-baik sama Mas semua itu karena Aku juga mencintaimu Mas, Kita tak mau kehilangan satu sama lain, percayalah mungkin ini jalan yang harus kita pilih."
"Andhini, tolong Aku. Jangan paksa untuk melakukan hal seperti itu, Aku tidak akan tega tidak akan sanggup menjalaninya tidak punya nyali untuk itu Aku tidak punya keberanian untuk itu jangankan untuk menikah lagi sebenarnya menyakiti hatimu juga aku tidak akan sanggup."
"Mas, tapi aku ingin anak yang kuat dari garis keturunan Mas sendiri, kenapa aku merasa sanggup sedang Mas Radit sebagai laki-laki kenapa tak ada kesanggupan untuk itu?"
"Bukan masalah kesanggupan atau tidaknya Andhini, ini masalah perasaan dan beban moril di mata keluarga kita apa kata mereka kita pindah ke Australia hanya untuk menyembunyikan satu kebohongan pernikahanku yang kedua di mata orang tua kita?"
"Mas, penuhilah satu permintaanku satu kali ini saja."
"Astagfirullah Andhini, kamu memaksa suamimu untuk menerima madu? istri macam apa kamu ini? sebagian besar wanita di seluruh dunia adalah menolak tak menginginkan suaminya berbagi dengan orang lain, tetapi kamu ini kedengarannya begitu aneh malah mengizinkan suamimu untuk menikah lagi?" semprot Radit dengan suara agak kencang.
"Demi satu kebahagiaan dan alasan aku tak mampu memberimu keturunan kenapa aku tidak ikhlas? Aku rela punya madu bahkan membayar istri yang mau Mas nikahi dan mengandung anak mas."
"Andhini, semua tak semudah yang kamu ucapkan. Dalam menjalaninya tidak akan semulus harapan kita, yang namanya berbagi belum tentu aku bisa adil, semua hanya akan menjadi bahan pertengkaran diantara kita."
"Bagiku tidak, katakan kalau Mas sanggup, Aku akan membayar berapapun perempuan yang mau Mas nikahi secara siri selama 6 bulan, kalau tidak hamil selama 6 bulan Aku akan merelakan kehidupanku dan rumahtangga kita tanpa anak dan kita hanya memiliki cinta." Dengan berlinang air mata Andhini berucap di hadapan suaminya.
Dilema bagi Raditya hidupnya seperti diombang-ambing dalam ketidakpastian walau dirinya dan Andini telah sepakat belum hadirnya anak di dalam rumah tangga mereka semua adalah bukan kesalahan salah satu dari mereka sebagai suami atau istri, tetapi itu adalah sesuatu yang harus diterima sebagai takdir.
Keinginan Andhini kali ini begitu di luar dugaan tak sedikit saja Raditya menyangka kalau Andhini begitu rela di madu juga sampai menginginkan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh dirinya sama sekali sebelumnya.
*****
__ADS_1