
"Ah Mas Radit akhirnya datang juga, Aku tahu Mas akan datang setiap malam dan siang ke sini, Aku hanya alasan saja nggak enak badan padahal Aku ingin bersama seperti malam-malam sebelumnya, Nak Sayang papamu datang nih ….pastinya kangen sama kita." Ucapan Karina jelas terdengar sama Andhini dari balik pintu. Sepertinya Karina bicara sama perutnya sendiri.
Benar adanya Karina hanya akal-akalan saja dan mencari alasan demi kebersamaan mereka, seperti beberapa malam sebelumnya dengan alasan belum makan ini itu dan alasan lainnya.
Semua itu kedengaran sendiri sama Andhini, sakit rasa hatinya seakan telah memberi dengan setulus hati dan perlu kesiapan lahir bathin tapi masih ingin menguasainya, Karina termakan obsesinya sendiri lupa kalau hubungan mereka sebatas waktu yang ditentukan. Ada ikatan perjanjian yang Andhini masih berpegang pada itu semua.
Ingin rasanya Andini marah besar menuduh dan menunjuk nunjuk mengeluarkan kata-kata kasar sebagai ungkapan dari semua perasaannya selama ini dan kecurigaan yang menjadi nyata adanya, semua sudah ada di ujung lidahnya tetapi Andhini berpikir lagi jauh semua orang berpikiran seperti Karina itu sah saja kebersamaan mereka hubungan suami istri mereka memang sah adanya, semua tidak melanggar aturan dan norma, berkembangnya perasaan seseorang tidak bisa kita prediksi juga dikendalikan sebelumnya, begitu juga perasaan dan hati Karina. Semua bisa saja terjadi semua bisa saja biasa saja dan semua bisa saja tidak terjadi sama sekali.
Mengingat semua itu agak reda amarah Andhini, hati dan perasaan kembali dialihkan pada hal lain kalau semua itu terjadi karena keinginannya. Mau tidak mau Andhini harus meredam semua marah sampai saatnya tiba, tapi seandainya suatu saat waktunya habis Mas Radit tetap harus berpisah dengan Karina. Karina harus memberikan bayinya untuk diangkat dan dalam pengasuhan keluarga Andhini dan bayi itu akan diasuh sepenuhnya dan diberi nama oleh Andhini dan Mas Radit, tau kalau ternyata Karina masih saja berhubungan dengan suaminya di luar keperluan lain selain urusan anak dan hubungan kekeluargaan disitulah Andhini akan mengambil sikap yang sebenarnya.
Andhini mendorong pintu dengan seketika Karina kelihatan tersentak kaget, mungkin Mas Radit belum sempat memberitahukan kalau dirinya datang ke situ bersama Andhini, Tapi Karina berusaha biasa saja.
"Semua sudah Aku dengar, Karina kamu kini sudah tak memperdulikan nasib rumah tanggaku dan Mas Radit yang di ujung tanduk karena pertengkaran yang semua berpangkal darimu, Aku mengerti walaupun belum merasakan hamil seperti kamu tapi sikap kamu terlalu berlebihan ingin menguasai semuanya harusnya kamu berpikir seperti apa perjanjian kita di awal itu! Kamu terlalu berlebihan menurutku menuntut sesuatu tang bukan hak mu, seperti waktu yang telah di sepakati, Aku tahu kamu seperti terisolasi tetapi tidak seharusnya bersikap seperti itu padaku, ingat! Aku telah menganggap kamu sebagai adik mengikhlaskan segalanya termasuk perasaanku sendiri." Andhini dengan tiba-tiba masuk mengagetkan Karina. Bicara walau masih santun tapi kedengaran ada emosi di nadanya.
"N-nyonya?" Karina sedikit gugup dan melepaskan tangan Mas Radit yang dipegangnya.
"Aku bukan orang egois seperti kamu, sekarang Aku tanya apa keinginanmu setelah kini hamil? Apa akan meninggalkan masalah yang tak terselesaikan di keluargaku dan keluarga Mas Radit? Kalau Aku tahu akan seperti ini menyesal Aku memilih kamu sebagai istri siri Mas Radit, sekarang semua pilihan ada di diri kalian berdua!" Lantang suara Andhini dengan menelan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan Aku Nyonya, Aku hanya butuh seorang teman saja, juga entah kenapa perasaanku juga semakin bertambah pada Mas Radit itu mungkin dari bayi dalam kandunganku." Karina berusaha membela diri dengan alasan bayi yang ada dalam kandungannya.
"Jangan berlindung di balik kandungan dan kehamilan mengatasnamakan anak menutupi semua ambisimu aku telah mengerti peta pikiranmu, janganlah seperti itu jangan merubah pandanganku dan sikapku yang selama ini baik terhadapmu menjadi berubah seketika, Aku menganggap kamu adalah orang yang istimewa tetapi jangan rubah penilaian ku selama ini hanya karena ambisi dan perasaan lain yang gak bisa kamu kendalikan!"
Karina diam, duduk dan menunduk. Radit merasa tak tega tapi semua harus dikembalikan pada permasalahan yang sebenarnya. Andini juga berpikir seperti itu sebenarnya tidak ada kebencian pada Karina tetap perilaku yang seperti sudah kelewat batas yang membuat Andhini tidak suka dan menyayangkan.
"Didiklah anak dengan akhlak baik sejak dari dalam kandungan, jangan di tanamkan kebiasaan bohong, karena itu Anakmu juga, walau nanti akan diasuh dan dibesarkan dalam keluargaku. Aku memaafkan semua yang sudah terjadi kembali pada awal perjanjian dimulai semua berjalan, kita jalani baik-baik saja, kecuali semua sudah keluar jalur Aku yang akan menjatuhkan pilihan sendiri seperti apa nantinya!"
"Baik Nyonya, Aku salah. Sekali lagi Aku minta maaf."
"Sudahlah Dhini, semua akan baik-baik saja masih banyak yang harus kita lakukan kedepannya," ucap Radit ingin menengahi tujuannya.
Radit ikut diam, merasa salah dalam tindakannya selama ini.
"Aku mengerti, kalau kalian masih bisa seiring sejalan dengan perjanjian dan keinginanku Aku bukan membatasi pertemuan kalian, Aku juga memahami selama ini juga banyak ngalah itu tak mengapa kalian juga harus bahagia, mungkin Aku juga takkan melakukan seperti ini kalau semua berjalan seperti diawal. Aku juga sangat mengerti kalian. Aku juga manusia biasa yang punya perasaan, mari kita perbaiki diri kita masing-masing." Andhini bicara seperti tanpa jeda dan menutup sendiri pembicaraannya dengan tanpa pamit keluar meninggalkan Radit dan Karina berdua.
Andhini keluar dan berjalan pulang ke lorong blok dimana dirinya tinggal. Terasa langkahnya melayang tak berarah seperti hatinya yang lagi tak tenang.
__ADS_1
Tak lama Radit menyusulnya dan berjalan dengan tergesa.
Andini pulang dan berjalan seperti melayang tak tentu arah dengan perasaan yang tak tenang. Gamang hati dan pikirannya begitu penuh dengan masalah.
Jelas dengar kebohongan Karina tadi kalau dirinya hanya mencari alasan dan ingin menguasai suaminya, tak peduli dengan nasib rumah tangga dirinya dan Mas Radit.
Entah seperti apa jalan pikiran Karina dan Mas Radit, apa yang ditakutkan sejak awal kalau suaminya akan kepincut sama istri sirinya sungguh itu satu kesalahan besar bagi Radit sebagai suaminya dan keputusan awal yang tak bisa Andhini sesali.
Masuk ke dalam huniannya Andhini melempar tas di tempat tidur terkuras sudah raga dan perasaannya tetapi Andini puas telah memberikan satu pelajaran pada suami dan Karina sendiri kalau semua itu bukan sesuatu hal yang pantas dilakukan mengabaikan dirinya dan menganggap tidak ada itu satu kesalahan sedangkan kebersamaan mereka adalah atas keikhlasan Andini yang merestui semuanya.
Andhini tak peduli apa yang mereka bicarakan, sebentar kemudian Mas Radit pulang menyusulnya.
Radit masuk kamar mandi dan Andhini berganti pakaian, terasa kaku kebersamaan mereka.
Sekuat tenaga Andini berusaha tidak memperlihatkan kekesalan kemarahannya dan juga emosi yang telah memuncak di ubun-ubunnya mencoba bersabar dan menerima semua kenyataan yang ada di hadapannya.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️