
"Aku ingin beda dokter, karena Aku yang mentraktir hari ini, Aku yang mengajak dokter hari ini, jadi Aku yang tentukan menu dan segalanya," ucap Andhini setelah mereka duduk berhadap-hadapan di salah satu tempat gerai makan di pinggiran kota tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
"Kamu memang beda Andhini, Aku hanya bisa mengagumimu dilihat dari sudut manapun Kamu tetap seorang yang istimewa bagiku," sahut dr Fadli seolah dirinya tak bisa menolak apapun yang Andhini tawarkan.
Memandang Andhini ada rasa bahagia di hatinya.
"Jangan terlalu menyanjungku dokter karena dokter tidak tahu dan belum lama mengenal Aku, jadi jangan buru-buru menilai sesuatu itu berlebihan yang membuat Aku merasa melambung, soalnya setelah dokter melambungkan, Aku takut jatuh dan merasa sakit!" Andhini menjawab dengan nada sedikit puitis.
"Ah, Andhini kenapa Aku merasa nyaman ngobrol bersamamu, jujur Aku ingin tahu lebih jauh lagi, demi rasa penasaran yang ada di dalam hatiku ini," ucap de Fadli sambil menepuk punggung tangan Andhini.
"Untuk apa dok? kalau mendengar ceritaku dan latar belakang keluargaku memang biasa-biasa saja. Rumah tanggaku juga biasa-biasa saja kurang lebih sama seperti orang lain." Andhini bicara apa adanya.
"Tapi Andhini, walaupun kita hidup di belahan dunia lain yang jauh dari adat ketimuran tetapi secara etika persahabatan kita beda status, kita sadari bersama, mungkin akan lebih enak kalau kita sama-sama terbuka, untuk menjaga hal yang tak di harapkan, walaupun Aku masih single tetapi secara berpikir sudah begitu dewasa dan bisa memandang sesuatu hal itu biasa atau menyalahi," ucap dr Fadli seperti memancing Andhini lebih dalam lagi.
"Jadi dokter menuntut Aku untuk bercerita kenapa Aku selalu jalan sendiri, bagaimana rumah tanggaku mungkin seperti itu? Aku tahu walaupun permasalahan rumah tanggaku bukan untuk diekspos karena Aku bukan selebritis atau artis yang biasa menjual berita lewat konflik atau kepopuleran itu sendiri baiklah Aku akan jujur mungkin juga untuk melapangkan hatiku juga," ucap Andhini perlahan.
"Kata-katamu begitu banyak yang tak terduga Andhini, semua orang terlebih laki-laki di hadapanmu akan semakin penasaran dengan kehidupanmu dengan cerita pribadimu termasuk Aku." Andhini tersenyum mendengar jawaban dr Fadli yang seperti mengaguminya.
"Entah salah entah benar Aku membuka kisah ini, tidak pada semua orang tetapi dokter adalah orang yang dekat dan menangani salah satu permasalahan Aku, jadi apa salahnya sebagai sahabat Aku berbagi dalam cerita," lanjut Andhini menatap wajah hampir bule mungkin ketularan bule Australia.
__ADS_1
Dr Fadli tersenyum sambil mengangguk mengerti, kalau kisah hidup seseorang tidak bisa diumbar kepada siapa saja, sekalipun sahabat dekat.
"Dokter tahu dan memandang Aku adalah seseorang yang sempurna dan itu salah besar! Aku hidup kebalikan dari kata sempurna itu sendiri begitu banyak ketidaksempurnaan di dalam hidupku yang Aku rasakan dan juga mungkin dari pandangan orang lain tetapi Aku sendiri berusaha menyempurnakan diri dengan segala hal yang Aku bisa. Salahsatunya Aku yang belum bisa menjadi istri sesungguhnya yang bisa memberikan kebahagiaan dengan hadirnya seorang anak bagi keluargaku." ucap Andhini mulai membuka diri dengan ceritanya.
"Itu sudah Aku tangkap, sejak awal kita kenalan, manusia memang hanya bisa berencana dan boleh merencanakan sesuatu yang indah, tapi akan ada ujiannya," sela dr Fadli merasa senang mendengar Andhini bercerita
"Betul itu dokter, berawal dari situ Rumah tanggaku yang berjalan 5 tahun mulai goncang Aku sendiri yang gelisah menanti tak kunjung tiba dan Aku menjalani satu keikhlasan di dalam rumah tangga yang mungkin dokter tidak akan mengira kalau Aku mengizinkan suamiku untuk mendua suamiku menikah atas izinku dengan seseorang yang Aku rekomendasikan dan terpilih menurutku." Andhini berhenti menelan saliva nya sendiri.
"Hah? Andhini? masa iya sih?" dr Fadli tak sedikitpun mengira arah pembicaraan akan seperti itu, tak pernah sedikitpun terbersit kalau Andhini adalah istri yang diduakan.
"Dokter jangan heran dulu karena itu hanya cerita awal, enaknya kita sambil makan ya cerita habis makanannya habis juga." jawab Andhini, menjawab keheranan dr Fadli.
jawab dr Fadli merasa salah telah bertanya begitu banyak pada Andhini karena dituntut terasa bersalahnya, dirinya bisa jalan dengan Andhini sedangkan status mereka adalah bukan sama-sama seseorang yang bebas karena sejak awal Andhini telah mengatakan kalau dirinya sudah berkeluarga.
"Tak apa dokter memang inilah kenyataannya. Aku seorang anak tunggal yang merasa beban di pundak ku begitu besar, dan tanggung jawabku untuk meneruskan generasi tradisi di keluargaku meng-estafetkan segalanya terhadap keturunan merasa tertekan walaupun orang tua tidak secara langsung menuntut, tetapi Aku sadar diri dengan posisiku, intinya Aku menyarankan suamiku untuk menikah lagi demi menjaga rumah tangga ini tetap utuh dan demi mendapatkan seorang keturunan dari suamiku sendiri darah dagingnya itu awal semuanya Aku hengkang ke Australia ini." Dr Fadli manggut-manggut masih dengan kekaguman terhadap Andhini masih dengan segala rasa heran dan tak habis pikir dengan apa yang diambil Andini sebagai jalan pintasnya.
"Mas Radit menikah siri dengan seseorang yang Aku percaya, dan memboyongnya ke sini, sekarang sudah hamil 7 bulan anak perjanjian. Suatu saat melahirkan akan menjadi milikku atas namaku dan atas nama suamiku dengan kompensasi dan bonus tetapi sekarang belum juga melahirkan konflik tak terduga dan masalah begitu banyak bermunculan datang, Aku menjadi seseorang yang sangat menyesal telah menjatuhkan pilihan dengan keikhlasan hatiku berbagi suami yang pada akhirnya Aku kehilangan suami itu sendiri," ucap Andhini begitu gamblang bercerita semua rumah tangganya.
"Ya ampun, Andhini. Jadi?" tanya Radit pertanyaan yang tak lanjut hanya tertahan di ujung lidahnya.
__ADS_1
"Ya, Mas Radit dan Karina seakan telah jatuh cinta, walau batasan nikah siri mereka kurang dari 2 bulan lagi akan berakhir tetapi Aku tidak bisa memastikan kalau mereka akan berakhir di situ saja, ada anak telah menjadi pertalian di antara keduanya dan Aku yang tersisihkan, mungkin perjanjian hanyalah tinggal perjanjian dan Rumah tanggaku karam kandas ke dalam jurang tanpa terselamatkan." Andhini mengusap bulir bening di ujung bola matanya.
Pelik juga ternyata permasalahan Andhini yang sebenarnya. Kenapa selama ini dia kelihatan sendiri berjalan dan melenggang kemanapun tanpa pernah melihat adanya suami bahkan saat mereka bertemu pertama kali waktu dirinya menabrak Andhini saat hari masih pagi buta.
Dr Fadli pindah duduk menyodorkan tissue ke arah Andhini, tak sampai hati rasanya dengar cerita yang sepertinya hanya ada di novel-novel dan cerita fiktif belaka.
Dr Fadli meraih tangan Andhini dan menggenggamnya seakan ingin mentransfer kekuatan dan memberinya lebih biar Andhini masih bisa berdiri tegar menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya.
Setiap Andhini selesai bercerita terhadap siapapun ada kelelahan di dalam hati dan perasaannya tetapi ada juga kelegaan seakan dirinya bisa berbagi sedikit rasa sakit yang ada di dalam dirinya.
Entah seperti apa tanggapan orang lain mungkin menyalahkan Andhini dalam hal ini karena dirinya yang memberi keputusan dan membuat perjanjian itu terjadi, atau juga menyalahkan seorang suaminya Radit dan Karina yang mengingkari perjanjian itu sendiri tetapi rasa seseorang tak bisa dipungkiri walau bagaimanapun Karina mungkin memperjuangkan perasaannya sendiri tapi mutlak bagi Andhini itu salah.
"Sudah Andhini, jangan diteruskan, Aku sudah menangkap semuanya," ucap Radit masih menggenggam tangan Andhini.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
__ADS_1