
Paginya Andhini bangun kesiangan, dengan terburu-buru menghidupkan dispenser dan microwave untuk membuat sarapan roti panggang dan menyeduh sereal juga menyiapkan susu hangat.
Menyadari suaminya sudah tak ada di sampingnya saat dirinya terjaga Andhini begitu kaget, karena itu bukan kebiasaannya bangun selalu lebih awal dari suaminya.
Sebelum ke kamar mandi Andhini melihat suaminya di teras balkon sedang memandang ke luar Kondominium huniannya.
Ada senyum saat menyadari istrinya sudah bangun dan meliriknya, Andhini sedang memandanginya dengan mematung di dekat pintu kamar mandi. Merasa malu bangun kesiangan tak seperti pagi-pagi sebelumnya mereka melepaskan pelukan saat akan bangun.
Andhini masuk ke kamar mandi badannya ingin segera disegarkan dengan kucuran dari air shower, membuka pakaian tidurnya dan melihat di pantulan kaca banyak jejak merah kehitaman di sebagian dalam tubuhnya, bekas semalam Mas Radit yang menyusuri nya dari ujung kaki hingga ujung kepala, begitu banyak menghiasi dada dan bagian tubuh mulus lainnya.
Andhini tersenyum terasa bangga dengan jejak itu walau sebagian orang tak menyukainya atau merasa jijik tapi bagi Andhini melihatnya serasa mengingat apa yang telah mereka lakukan dengan panasnya suka sama suka semalam.
Kelihatannya Mas Radit sudah mandi tadi, rambutnya terlihat basah. Kenapa tak bangunin dirinya apa terlalu pules Andhini tidur semalam habis bercinta?
Selesai mandi duduk di meja makan tanpa ada pembicaraan yang serius hanya bicara yang ringan-ringan saja. Andhini tahu kalau Mas Radit sudah menentukan dan janji akan membahas tentang apa yang di sampaikan semalam tapi mungkin pagi ini bukan saatnya untuk bicara.
"Sepertinya kita kewalahan hanya mengandalkan Erika di minimarket kita Mas, apa kita tidak berpikir mencari tenaga tambahan? apalagi sudah berpikiran mau buka cabang baru." ucap Andhini setelah mengocek susu coklat di cangkir dan menggeser ke hadapan suaminya.
"Nanti kita bahas siang, hari ini masih ada pengambilan barang dan mau ada beberapa salesman dari produk lokal."
"Mas nggak marah kan sama aku kelihatannya nggak begitu mood pagi ini kenapa?" sahut Andhini sambil melirik Radit yang duduk di sebelahnya.
"Nggak apa-apa. Emang aku kelihatan marah dari semalam?"
__ADS_1
"Aku melihat kemarahan di wajah Mas padaku sejak malam. Tak apa kalau masih belum terpikirkan apa yang aku sampaikan semalam tidak usah dibahas siang ini, nanti-nanti juga nggak apa-apa."
"Kalau Aku marah tak akan menyentuh kamu semalam Sayang, hanya Aku berpikir sanggup Aku menggauli orang yang tak aku kenal seperti bergairahnya sama Kamu semalam?"
"Aku mungkin bisa saja menjalaninya, Aku laki-laki. Tapi perasaan kamu sebagai istriku seperti apa saat aku memenuhi kewajiban sebagai suami sama wanita lain?"
"Kita bisa menebusnya setiap saat kita mau, akan aku anggap Mas bukan milikku saat bersama wanita lain."
"Aku lagi berpikir dan mencerna semua yang kamu sampaikan semalam sampai pagi ini, sebenarnya sekarang juga Aku bisa saja mengambil keputusan tetapi bijaksana nggak keputusan yang Aku ambil itu? tetapi untuk apa berpikir lama-lama juga toh keputusan akan seperti itu? sudahlah kita jangan bicara dulu yang merusak selera sarapan kita,ayo sarapan dulu kita aktivitas nanti rehat siang kita bicara."
"Baik, Mas."
Andhini berusaha tak memperlihatkan kebahagiaan, hanya pasang wajah dan ekspresi yang biasa-biasa saja walau dalam hatinya Andhini begitu bersyukur Mas Radit bisa mengerti dan mulai memahami apa yang dirinya sampaikan tidak ada tanggapi secara berlebihan dan marah atau dengan pemikiran lain.
Mereka berangkat ke tempat kerja seperti biasa berciuman dulu sebelum keluar hunian mereka dan Andhini gelendotan dengan manja sambil memeluk sebelah tangan suaminya berjalan menuju lift.
tetapi lebih lama dirinya mengambil keputusan Radit tahu Andhini istrinya begitu sulit untuk mengubah satu keputusan
Radit tahu istrinya begitu kukuh pada pendirian keinginannya Jadi untuk apa berlama-lama juga karena akhirnya tetap dirinya yang akan kalah dalam arti mengalah demi kebahagiaan istrinya.
Yang tak habis pikir kenapa Andini bisa punya pikiran seperti itu apa Andini sudah tahu keadaan dirinya kalau dirinya sudah tidak bisa memberikan keturunan Apakah faktor itu yang mendorong dirinya mengambil jalan ini
Satu poin yang dianggap Radit agak sedikit melegakan, dirinya hanya akan menikah selama 6 bulan setelah itu tidak ada perkembangan kehamilan pada istri sirinya dirinya akan melepaskan tanggung jawab seperti yang ada dalam perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Menantang juga! pikir Radit.
__ADS_1
Radit merengkuh Andhini dan memeluknya selama dalam lift, karena hanya mereka berdua yang ada di dalamnya.
"Mas, asyik juga seperti malam tadi!"
"Lagi? kita balik lagi ke kamar sekarang mau?"
"Oh, nggak. Masih banyak pekerjaan hari ini yang harus aku selesaikan apalagi ada kemungkinan Erika tidak masuk hari ini karena Jeanny meminta jalan-jalan katanya."
"Apalagi begitu kita bisa puas-puasin seharian kalau mau, kita terlalu sibuk bekerja hanya bertemu dan bisa berduaan kalau malam saja, padahal seneng banget rasanya berduaan seperti saat bulan madu dulu siang malam melakukan kesenangan bersama."
'Mas, nanti akan ada yang melayani Mas kalau siang, tapi kalau malam tetap milik Aku' bathin Andhini berkata sendiri.
"Kalau Mas mau kita bisa libur tiap hari minggu, dari kemarin-kemarin soalnya kita merintis usaha memang kita terlalu memposir diri karena untuk mencari pelanggan, sekarang sudah lebih maju bahkan akan buka cabang baru kita bisa bebas libur kalau sudah ada karyawan baru dan Erika akan Aku angkat jadi kepala perusahaan ini," ucap Andhini sambil mengusap kemeja Radit.
"Begitu dong agar kita tidak lupa tujuan kita yang sebenarnya ke sini mau apa?"
"Iya, Aku tahu besok juga jadwal kita periksa ke rumah sakit kan?" Andhini mulai kelihatan jenuh dengan segala kegiatan menyangkut rumah sakit yang menurut Andhini sendiri seakan tiada hasil malah setiap keberangkatan ke rumah sakit dirinya merasa terbebani dengan tak kunjung datangnya kehamilan pada dirinya.
Radit tahu itu, tapi mau apa lagi? hanya itu satu-satunya jalan dan cara yang ditempuh walau hasilnya seutuhnya mereka serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Sebelum keluar dari lift dan sampai di lantai dasar Radit mencium kepala Andhini dan menggandengnya keluar berjalan dari bangunan menjulang Kondominium huniannya menuju toko swalayan milik mereka.
Sampai di toko Andhini terbiasa beres-beres dan menghidupkan komputer di meja kasir, Raditya berjalan ke gudang di belakang dan lantai atas. Mengecek langsung semua barang dan pasokan.
__ADS_1
Benar saja Erika menghubunginya kalau hari ini dirinya tidak masuk Jeanny minta jalan-jalan kebetulan Bapaknya lagi libur. Erika meminta maaf Andhini hanya tersenyum membaca pesan singkat yang dikirim oleh Erika.
*****