Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Sofa panas


__ADS_3

"Mas ada apa sih kok tiba-tiba saja aneh begini?" ucap Andhini saat suaminya menggerayanginya padahal sebentar lagi sore lalu malam mereka bisa pulang dan melakukannya dengan leluasa di tempat hunian mereka.


"Aneh kenapa? apa anehnya kita suami istri Aku menginginkan kamu saat ini. Apa kamu sudah tak mau melayani Aku?" suara Mas Radit terdengar parau di tengah nafas yang memburu.


"Kenapa Mas malah bertanya begitu, Aku suka juga dengan senang hati memberi kepuasan. Sepertinya tak biasa aja sampai kita menutup mini market?"


"Aku hanya ingin memastikan sebelum kita bicara masalah yang kamu utarakan semalam apa kamu akan berubah pikiran setelah kita berulang kali melakukan hubungan suami istri siang dan malam? dan saat ini juga Aku menginginkan kamu Sayang."


Andhini tak mau membahas itu, mengerti semuanya. Mas Radit hanya ingin membuktikan sekali lagi apa Aku akan rela berbagi momen pribadi seperti sekarang ini dengan perempuan lain? Andhini membiarkan suaminya melakukan keinginan dan kewajibannya, dengan ciuman panas Andhini menjawab semua pertanyaan Raditya, lanjut dengan rangsangan yang di lakukan tak seperti biasa membuat Radit kewalahan.


Raditya memang begitu kelihatan menginginkan sehingga ingin segera menuntaskannya.


Sofa panjang adalah saksi pergulatan tanpa kata selanjutnya, Andhini pasrah dalam kungkungan badan kekar suaminya. Dengan gagah Radit melakukan semuanya seakan ingin memperlihatkan keperkasaannya biar Andhini merasakan kepuasan dan tak rela membagi semuanya.


******* Andhini terdengar ke semua sudut ruangan yang tak begitu besar itu, hentakan Radit semakin menggila dalam cengkraman kuat tangan Istrinya, benar-benar siang yang panas sampai akhirnya mereka terkulai dalam kepuasan di sofa panjang kantor mereka dengan tidur berhimpitan.


Andhini bangun dan memunguti pakaiannya lalu mengenakan alakadarnya, begitu juga Raditya bangun lalu bersandar dan mengatur nafas yang belum begitu normal.


Andhini memeluk sebelah lengan suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu Radit, Radit mencium rambut istrinya yang begitu wangi ada sesak di dalam dadanya.


'Kenapa semua harus seperti ini? apa salahku juga istriku ini?

__ADS_1


Perasaan aku begitu sempurna melakukannya tapi kenapa hubungan ini tak kunjung membuahkan hasil?'


Hati Raditya berkata-kata sendiri sambil membelai kepala istrinya dan menciuminya.


"Mas, berpakaian lah. Kenapa begitu takut bicara sama Aku? Bukankah semua itu demi kebaikan Kita?" ucap Andhini sambil menyodorkan pakaian suaminya.


"Aku, bukannya takut Sayang, tapi kebaikan seperti apa yang Kamu maksud?" jawab Radit sambil mengenakan celana panjangnya.


"Mas tahu Aku mencintai Mas Radit lebih dari segalanya. Tak ingin kehilangan Mas Radit dan cinta Mas Radit, tak ingin ada sesuatu hal yang mengganggu rumah tangga kita baik masalah apapun masalah orang tua kita dan juga permasalahan anak itu intinya, hanya karena belum hadirnya anak diantara kita Aku takut orangtua Mas Radit tak mengerti soal itu."


Radit menarik nafas dalam-dalam dan menatap manik mata indah istrinya, yang tak pernah bosan memandangnya.


"Baiklah Andhini, tanpa bertele-tele Aku setuju dengan kukuhnya hati dan niat baik Kamu, semua ini Kamu yang meminta Kamu yang membuat aturan dan Kamu yang memilihkan calon yang cocok untuk menjadi istri siri Aku, siap tidak siap demi kebahagiaan seperti ucapanmu silahkan lanjutkan rencana itu," ucap Radit hampir tanpa ekspresi.


"Siapa perempuan yang kamu pilihkan buat jadi istri siri Aku?"


"Semoga Mas cocok. Aku memilih Karina yang akan menjadi istri siri Mas."


"Karina? Anak Panti yang pernah merawat kamu itu. Apa kamu tahu asal usulnya? apa tak salah memilihkan Dia calon istriku? Andhini, jangan sembarangan memilih orang, minimal Aku bisa kenal Dia jangan sampai sudah menikah Aku tak mau menyentuhnya!" cecar Raditya dengan dahi berkerut sambil menatap muka Andhini.


"Mas jangan mengajak Aku berdebat panjang serahkan semuanya padaku. Aku sudah tahu semua Ibu dari calon anak kita, Karina orang terbaik yang Aku kenal. Dia dari keluarga kurang beruntung menurut perkiraan Aku otomatis Dia akan mau menerima penawaran yang Aku tawarkan dengan imbalan yang Aku akan berikan nanti, kedua dia orang yang berpendidikan dan sholehah, lembut, keibuan dan juga cantik yang pasti dia masih suci. Apalagi kriteria yang di cari? Aku nggak mau gegabah merekomendasikan seseorang tanpa pertimbangan." tutur Andhini mengusap pangkal lengan suaminya.

__ADS_1


Raditya diam, terbayang wajah polos Karina waktu melayani sarapan waktu itu akankah dirinya mau menyentuhnya? juga akankah Karina mau menerima tawaran istrinya?


Lumayan cantik, kelihatan begitu lugu dan polos mungkin sekarang setelah bekerja hampir tujuh bulan pasti akan berubah tak seperti waktu pertama datang dari Panti kerumahnya waktu itu yang masih agak dekil.


"Dia pasti butuh jaminan masa depan yang lebih baik apalagi dia punya latar belakang kehidupan di Panti dan punya adik yang perlu tunjangan masa depannya. Menikahlah dengan Dia selama enam bulan, kalau Dia tetap tidak hamil Aku akan merelakan kehidupan rumahtangga kita tanpa anak, kita hanya memiliki cinta yang harus di syukuri." lanjut Andhini bicara dengan semangatnya lain dengan Raditya yang begitu oleng dengan pikirannya sendiri.


"Aku bingung Andhini! aku bingung! apa semua ini keputusan yang terbaik buat kita bersama? kenapa hanya Aku yang diberi tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita dengan jalan seperti ini? Aku sepertinya tak akan sanggup!" ucap Radit seperti kedengaran putus asa. Menyisir kasar rambut di kepalanya dengan jari-jarinya.


"Mas, Aku bukan menyalahkan Mas dan menyuruh Mas untuk bertanggung jawab atas keadaan kita dalam masalah rumah tangga ini, tetapi Aku sudah berpikir berulang kali hanya Mas yang punya kesempatan karena Mas sebagai seorang suami berhak melakukan semua itu dan Aku jamin tidak akan ada yang menyalahkan Mas." Andhini memeluk suaminya yang masih galau dengan keputusannya sendiri.


"Terserah Kamu sajalah, atur semuanya Kamu begitu bisa mengatur segalanya, lakukan dengan cepat kalau bisa Aku ingin segera melewatinya!" ucapan Radit berubah agak ketus mungkin setengah marah pada keadaan yang memojokkan dirinya dalam ketidakberdayaan keputusan yang harus diambil.


"Maafkan Aku Mas, Aku terlalu mencintai Mas, dan demi semua itu aku begitu ikhlas berbagi sementara waktu dengan Karina, biarkan dia hamil mengandung anak Mas yang akan menjadi anak kita penyelamat rumahtangga dan cinta kita."


Radit tak menjawab hanya diam se-diam diamnya dengan tatapan kosong tak berarah.


"Kalau Mas ikhlas Aku akan pulang ke Indonesia lusa, Aku mohon izin." Andhini masih memeluk sebelah lengan suaminya.


"Aku juga pulang bersamamu. tapi biarkan Aku menyelesaikan dulu pekerjaan mengisi mini market yang baru akan di buka"


"Baiklah Sayang, kita pulang sekarang. Sudah sore."

__ADS_1


Ada kebahagiaan di hati Andhini semua telah terlewati, hal terberat adalah meyakinkan suami sendiri kalau semua akan baik-baik saja dan semua itu hanya akan menjadi rahasia dirinya, Mas Radit, Erika dan Karina sendiri.


******


__ADS_2