Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Meminta izin


__ADS_3

"Ibu tak habis mengerti sayang, apa mau kalian Nak? kemarin kamu celaka nggak kabarin Ibu sama Bapak sama sekali, kamu kabarin sekarang sudah bisa jalan kembali, Ibu kira kamu berdua sibuk saja menata perusahaan baru kalian, tak tahunya kecelakaan parah begitu, sampai tak bisa beraktivitas." Ibu Juwita menatap anak kesayangan dan menantunya yang meminta izin mau buka usaha dan tinggal di luar negeri tepatnya di Australia.


Seakan tanpa aba-aba tanpa bicara dari awalnya rencana mereka seperti tiba-tiba saja, jelas Ibu Juwita merasa kaget, seperti tak rela putri semata wayangnya akan begitu jauh dan tinggal di negeri orang, walaupun sudah ada sang suami yang akan mendampingi, melindunginya tetap saja Ibu Juwita merasa keberatan.


"Ibu, Bapak ada harapanku yang begitu besar bisa terapi dan checkup di rumahsakit internasional di sana, kami hanya ingin menikmati hidup dan pernikahan kami sambil tetap mengembangkan usaha yang sudah berjalan di sini."


ucap Andhini perlahan pada Ibunya.


Pak Suryadilaga hanya menarik nafas berat belum mengizinkan atau melarang keinginan putrinya, dengan maksud mempelajari dulu akan seperti apa teknisnya.


"Bapak mengerti Nak, tapi coba pikir-pikir lagi kalian kurang apa di sini? Bapak kasih perusahaan yang mulai menanjak kalian malah mau hengkang, perlu adaptasi lingkungan kalian di sana nanti tapi kalau di sini usaha tinggal meneruskan sudah berjalan," ucap Pak Suryadilaga menatap bergantian putri dan menantunya pasangan muda yang sangat serasi cantik dan tampan.


"Iya sayang, kalau kalian mau liburan tinggal pergi liburan atau bulan madu lagi mau berapa waktu sampai kalian bosan tanpa harus menetap di sana apalagi membuka usaha di sana rasanya Ibu begitu mengkhawatirkan kalian," timpal Ibu Juwita tetap pada tidak setuju seandainya mereka berjauhan nantinya.


"Ibu, Bapak, beri Andhini sama Mas Radit tanggungjawab, biar kami bisa mandiri, kami ingin mencoba peruntungan dengan ekspansi mencari pasar baru buat pengembangan usaha yang di rintis Bapak sama Ibu di sini, kami telah sepakat untuk menerapkan ilmu yang kami punya menjadi satu pencapaian usaha yang ingin kami kembangkan di luar negeri."


"Sudahlah Nak, Ibu jadi sedih nanti kita bahas lagi tapi semoga kalian berubah pikiran dan mau tetap berada di sini. Dulu Ibu tak mau kalian keluar dari rumah ini, tapi kalian memaksa ingin hidup layaknya rumah tangga pada umumnya punya rumah membangun rumah tangga sendiri dan mengaturnya, Ibu paham mengerti dan Ibu izinkan tetapi kalau untuk pergi ke luar negeri dan hidup di sana perasaan Ibu merasa berat banget."


"Ya sudah, maafkan Dhini Bu, tak ada maksud membuat Ibu sama Bapak menjadi tambah beban pikiran karena keinginan Dhini, hanya saja Dini ingin menyampaikan cita-cita dan keinginan Dhini untuk bisa mengembangkan usaha dan mencari pengalaman di negeri orang, dan perlu Bapak sama Ibu tahu Dhini sudah melakukan survei kecil-kecilan karena punya teman yang tinggal di sana Erika pasti bisa percaya dalam hal apapun."


Andhini yakin kedua orangtuanya akan luluh mengikuti keinginannya.


Ibu Juwita memandang suaminya yang tak bisa memberikan jawaban buat putri dan menantunya, berharap keputusan suaminya berpihak pada dirinya. Tapi sepertinya suaminya berpikiran lain seakan memberi kesempatan pada putri mereka, Ibu Juwita akhirnya tak berdaya selain merestui walau hanya diam.


Atas nama kasih sayang yang tak terbatas, Ibu Juwita berharap Andhini dan menantunya bisa mendengar apa yang dirinya inginkan, walau sepertinya jauh dari harapan, Ibu Juwita tahu karakter putrinya kalau sudah berkeinginan.


Andhini tak bisa janji apapun pada Ibunya yang begitu berharap hadirnya seorang cucu dari pernikahannya dengan Mas Radit.

__ADS_1


Tapi seandainya dirinya berada jauh tak akan selalu melihat muka penuh harap Ibu Bapaknya.


Satu lagi Andhini telah merencanakan dan masih selalu di pertimbangan baik buruknya seandainya dirinya berada di Australia. Yang pasti cek kesehatan di rumahsakit terkenal, dan menjalani bulan madu di negara impian.


"Berarti rencana kalian itu sudah begitu jauh matang? sama seperti masalah kemarin-kemarin seperti kecelakaan, rencana ke Australia kalian akan memberitahukan kami saat kalian sudah matang dalam perencanaan?"


"Tadinya Dhini sama Mas Radit tak mau merepotkan Ibu sama Bapak, kami sudah begitu dewasa dalam mengambil keputusan dan akan kami pertanggung jawabkan di hadapan Bapak sama Ibu, semoga usaha kami bisa berjalan sesuai rencana."


"Bapak memahami Nak Radit ambisi jiwa muda kalian, sepertinya Ibumu Nak yang pasti berat hati melepas kamu begitu jauh di negeri orang," ucap Pak Suryadilaga sambil memandang putri kesayangannya.


"Bapak sama Ibu bisa berkunjung setiap saat sambil liburan, pasti aku sama Mas Radit akan senang menyambutnya," jawab Andhini tersenyum sambil memeluk Ibunya yang hanya diam saja, kenapa suaminya begitu mudah memberikan lampu hijau pada putri mereka?


"Maafkan Dhini Bu, kalau Dhini punya cita-cita dan keinginan yang membuat hati Ibu begitu khawatir."


"Pokoknya Ibu tak mengizinkan kalian pergi," ujar Ibu Juwita dalam senyum yang di paksakan.


Andhini tahu, Ibunya telah luluh dan lama-lama akan mengizinkan juga, apalagi kalau Bapaknya sudah memberikan lampu hijau.


***



"Mas, tak sulit meyakinkan Bapakku hanya Ibu saja yang menjadi sedikit ganjalan, tapi segitu juga sudah kelihatan luluh karena Bapak lebih dulu memberikan lampu hijau." ucap Andhini saat mereka sudah berada di kamar tidur di Rumah kediaman keluarga Suryadilaga.


"Kalau sama orangtuaku bagian aku nanti meyakinkan mereka, tapi kamu yang harus meyakinkan aku lagi."


"Ah Mas Radit jahat! bukankan semalam sudah setuju tinggal meyakinkan orangtua kita?"

__ADS_1


"Tapi aku mau malam ini juga kamu meyakinkan aku!"


"Maksudnya?"


"Cium dulu pipiku baru yang lainnya."


"Dasar, ih!"


"Mas ...."


"Hemght ...."


"Aku ingin secepatnya bisa berada di sana, rasanya sudah tak sabar."


"Apa yang bikin kamu nggak sabar sayang? aku harus menyelesaikan dulu semua pelimpahan usaha kita itu, semua menjadi tanggungjawab kita sepenuhnya yang harus di tuntaskan dulu sebelum kita pindah, rumah kita akan seperti apa nanti? apa kita masih mempekerjakan yang ada sekarang?" tutur Radit sambil membelai belai rambut istrinya.


"Aku sudah merencanakan menerima suster Karina di perusahaan kita, aku melihat potensi di dirinya, dia ulet, pintar perlu banget bantuan dan pekerja keras, juga kalau Mas mengizinkan biar dia tinggal di rumah kita sama Bi Ummah sementara kita pindah ke Australia gimana Mas?"


"Kamu baru kenal sudah begitu yakin dan percaya sama dia?"


"Akau akan memantau dia kalau nanti sudah masuk di perusahaan ku, dia begitu jujur segalanya aku bermaksud baik mengangkat kehidupannya."


"Hati-hati saja, tak semua kejujuran bisa di percaya, ada saja kejujuran yang hanya polesan untuk menutupi segala sesuatu yang tidak kita perkirakan."


"Iya Mas, makasih atas segala perhatiannya, juga dukungannya Mas adalah yang terbaik buatku."


"Sama-sama sayang, aku tak bisa hidup tanpamu."

__ADS_1


"Aku juga akan seperti apa kalau tanpa Mas."


******


__ADS_2