
Karina membereskan pakaiannya sendiri dan Radit hanya menahan perasaannya saat mereka asyik bermesraan ponsel Radit berbunyi membuat kaget keduanya lalu melepas ciuman dan pelukannya.
Karina mengancingkan pakaiannya dan bergegas ke kamar mandi walau tak sampai jauh tapi keadaan dirinya juga dandanannya menjadi berantakan.
Sementara Radit menelepon Karina masih di kamar mandi, rasanya ajaib sementara pusing meriang dan rasa mual yang di rasa Karina agak berkurang, mungkinkah dengan bermesraan seseorang bisa sembuh begitu saja?
Lama Karina di kamar mandi sambil berpikir mungkinkah Mas Radit bicara sama Nyonya Andhini? Karina tak ingin mendengar pembicaraan mereka dan juga kemesraan yang mereka pertontonkan walau dari ucapan yang selalu terdengar Mas Radit memanggil Nyonya Andhini dengan panggilan Sayang.
Radit menerima telepon dari kantor ekspor impor langganan pengiriman barang, menanyakan kenapa hari ini belum ada pengambilan barang atau perwakilan siapa saja yang mengambil barang yang sudah dijadwalkan hari ini.
Karina tak mengerti dengan perasaannya sendiri kenapa menjadi begini? seakan Karina merasakan kalau dirinya telah jatuh cinta pada Tuannya sendiri.
Sedangkan itu semua ada dalam perjanjian yang disetujuinya kalau dirinya sama Radit tidak diperbolehkan ada perasaan dan jatuh cinta mereka hanya boleh melakukannya saja tetapi mustahil melakukan tanpa ada rasa suka? sekian lama mereka bersama-sama bibit rasa itu telah mulai Karina rasakan.
Radit notabene orang pertama yang menyentuhnya, Radit yang memposisikan dirinya sebagai suami dan Karina sebagai istri. Walau awalnya Karina rasakan hubungan mereka tanpa rasa sama sekali dan begitu kasar tapi lama lama begitu menikmatinya. Karina total kini menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk kepuasan Radit juga dirinya.
Entah dengan Raditya sendiri seperti apa perasaannya, yang pasti terkadang Mas Radit dingin memang seperti itu sikapnya, tetapi kalau lagi berdua dia memperlakukannya dengan baik layaknya suami istri yang saling membutuhkan.
Karina keluar kamar mandi lalu berdandan kembali, dan bersikap seperti biasanya.
Hari ini dirinya akan bertemu dengan Nyonya Andhini setelah sekian lama tak bertemu.
Rasa hormat pada majikannya itu membuat Karina tak bisa menolak apapun yang diinginkannya Andhini juga kebaikan Andhini pada dirinya begitu dirasakannya.
Radit kembali ke depan dan kedengaran rolling door berdecit di buka kembali, biasanya setelah mereka sama-sama mandi dan segar baru kedepan setelah makan siang dan mencharge energi lain sebagai suami istri.
Terdengar Radit bicara pada seseorang mungkin Nyonya Andhini datang. Karina jadi salah tingkah dan duduk kembali di sofa yang masih berantakan.
Di depan Radit mencium istrinya Andhini yang baru datang dengan perasaan cinta dan Andhini juga memeluknya, "I love you Mas."
"Love you to Sayang."
__ADS_1
Selalu saja begitu setiap pertemuan mereka selalu penuh cinta dan memperlihatkan perasaan sayang di antara keduanya.
"Rina di mana Mas? di belakang?" Andhini langsung saja berjalan ke belakang.
Karina lagi duduk bersandar di sofa, kelihatan mukanya pucat.
Andhini menghampirinya dan memeluk Karina yang berdiri saat Andhini datang.
"Rina?"
"Ya Nyonya."
"Ya ampun, kamu sakit?"
Andhini memeluknya sambil mengusap usap punggung Karina ada wangi parfum suaminya di pakaian Karina, itu adalah satu bukti dan kenapa Karina sampai sakit begini. Semoga saja ini adalah harapan Andhini yang selama ini ada dalam do'a do'anya.
Andhini tersenyum pada Karina sambil tetap memegang sebelah tangan dan mengusap usap pundaknya.
"Apa yang dirasakan?"
"Semoga tidak keterusan, mulai kapan Rina merasakan itu?"
"Aku kurang ingat Nyonya, tapi mungkin yang dirasa bangun tidur ada kira kira tiga hari ke belakang mulainya."
"Mungkin itu sakit keberuntungan kamu Rina, tapi mungkin juga sakit adaptasi tubuhmu disini apalagi sekarang mau memasuki musim semi setelah musim gugur nggak apa-apa nanti Aku akan bawa kamu periksa ke dokter biar bisa dipastikan dari secepatnya kamu bisa sembuh."
"Maaf Nyonya Aku jadi mengganggu waktu Nyonya."
"Nggak apa-apa, tapi sebelum kita ke dokter kita makan dulu biar nanti Aku tanya dulu Mas Radit sebaiknya seperti apa. Apa kita pergi bertiga saja? kita makan di luar bersama-sama."
Karina diam tak sanggup menatap Andhini di hadapannya yang begitu baik sopan dan begitu menghargai dirinya. Selalu ada senyum di bibir dan muka cantiknya.
__ADS_1
Baru saja Andhini mau berdiri dari duduknya Radit datang dan duduk di samping Andhini.
"Mas sebaiknya kita bawa Rina ke dokter, Aku takut keterusan sekalian kita makan di luar jarang jarang kita bisa bersama tutup aja lagi tokonya gimana Mas? Andhini menatap wajah suaminya." Andhini bicara masih dengan wajah sumringah luar biasa.
"Boleh saja, Rina kuat nggak kalau kita ke dokter sekarang?" tanya Radit pada Karina yang duduk di samping Andhini.
"Kuat Mas, eh ya Tuan, Aku bisa kok cuma meriang biasa kadang muncul kadang mendingan." Karina menjawab jujur semua yang di rasakannya.
"Ya udah Mas tutup tokonya kita ke dokter sekarang, karena belum makan kita makan saja dulu nanti di luar. Ayo Rina siap-siap masih pusing?" Andhini kelihatan khawatir.
"Nggak kok Nyonya. Aku merasa kuat."
"Syukurlah, mari kita tunggu di luar saja."
Andhini meraih tangan Karina yang mengambil tas selempangnya dan berjalan bersisian menuju ke depan, Radit meraih kunci dari laci kasir dan memandang kedua istrinya keluar dengan tatapan sulit diartikan.
"Aku hanya ingin memastikan Karina, jangan jangan kamu saat ini sedang isi atau hamil, itu hanya perkiraan dan harapanku saja, entah lah karena Aku juga belum pernah mengalaminya tapi aku selalu mendalaminya dari mulai gejala awal menjalani kehamilan itu sendiri, tata cara melahirkan sampai mengurus bayi Aku telah mempersiapkan diri tetapi Yang Maha Kuasa belum mengizinkan Aku untuk sampai ke tahap itu sebagai seorang istri," tutur Andhini panjang lebar membuat Karina membisu tapi tak urung hatinya deg degan juga.
"H-hamil? Mungkinkah?"
"Tiada yang tidak mungkin, bila Yang Maha Kuasa telah mengizinkan semua itu begitu mudah terjadi," Andhini tersenyum pada Karina dengan segenap harapannya.
"Berdo'alah semoga semua ini adalah awal kebahagiaan kita."
Karina diam, benarkah semua ini awal kebahagiaan kita?
Kebahagiaanku adalah saat Aku menerima uang banyak dari hasil transaksi di atas perjanjian, dan juga yang paling bahagia yang Aku rasakan saat ini tiada lain hanya saat bersama Mas Radit.
Kebahagiaan saat berdua bisa saling mengisi dan memberi terkadang melupakan Karina kalau mereka hanya sebagai suami istri di atas perjanjian dan harus tunduk pada perjanjian yang sudah disepakati dan ditandatangani.
******
__ADS_1
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️