Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Saling rindu 2


__ADS_3

"Mas, bangun katanya mau nunggu telepon Karina dan mempersiapkan diri menjemputnya, Aku ingin bertemu Bayi itu, rasanya kangen serasa melihat Mas Radit, mungkin seperti itu waktu masih Bayi" ucap Andhini sambil menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka, lalu memijit hidung mancung Radit yang masih malas tergolek di sampingnya masih bertelanjang dada.


"Masih ngantuk Sayang, bobo lagi satu jam saja ya," jawab Radit sambil tangannya kembali memeluk pinggang Andhini dan mencium perut nya.


"Mas katanya mau cepat selesai masalahnya, buka matanya!" ujar Andhini sambil mengusap rambut suaminya yang kelihatan sudah waktunya cukuran.


"Sayang, Rai juga pasti masih ngorok atau lagi berkhayal indah sama ceweknya memimpikan masa depan dan ingin segera seperti kita bebas melakukan apapun," jawab Raditya memberi jawaban dengan mengarang cerita.


Seperti dirinya saat dulu, waktu belum menikah begitu banyak waktu berkhayal, pacaran sama Andhini kurang lebih dua tahun siang malam tak bisa kalau tak bertemu, atau sekedar mendengar suara dan memastikan baik-baik saja.


"Sok tahu amat Mas Radit ini, mungkin Rai sudah bangun dan lagi sarapan sama Vira atau lagi ngobrol bukan lagi berkhayal." Andhini menatap wajah suaminya yang masih merem tapi tetap ngobrol.


"Sama saja Sayang, keinginan orang pacaran seperti kita dulu pasti Si Rai di depan kita kelihatan alim, tanya Vira coba kalau ketemu pasti sudah di colek-colek," jawab Radit sambil membuka matanya dan terlentang dengan ber-bantal kedua tangannya.


Andhini jadi tersenyum melihat dada kekar suaminya, Rai juga seperti Kakaknya sama malah kelihatan tinggi gede Adiknya.


Mereka sama-sama laki-laki milenial yang begitu memperhatikan penampilan dan tubuhnya, juga sebagai pemuja kejantanan demi kepuasan pasangannya.


"Lho, kenapa jadi senyum senyum sendiri?" tanya Radit sambil bangun ikut duduk seperti Andhini.


"Aku nggak senyum senyum hanya lucu aja jawaban Mas tadi, emangnya Rai seperti Mas Radit dulu, sebelum sah sudah meminta ini itu?" jawab Andhini sambil tetap senyum.


"Tapi Kamu suka juga kan? sebelum pulang pasti minta cium kalau belum di cium belum mau pulang," jawab Radit membuka rahasia istrinya.

__ADS_1


"Ih, Mas malu maluin saja! kata siapa? apa nggak kebalik itu?" jawab Andhini sewot.


Radit tertawa, baru kali ini Andhini mendengar tawa yang begitu enak dan lepas suaminya.


"Bangun yuk Mas rasanya Aku juga pengen ikut menjemput Karina, kira-kira boleh nggak?" ucap Andhini sambil mau turun dari tempat tidur.


"Sayang, sebaiknya jangan dulu takut pikiran karina berubah lagi saat melihat Kamu ikut, biarlah kita ikuti dulu keinginannya percayakan semua itu padaku juga Rai, kita selesaikan di sini nanti," ujar Radit memberi pengertian pada istrinya, dan Andhini pun mengiyakan.


Apalagi saat Radit mengatakan banyak hal tak terprediksi, semua mungkin saja bisa terjadi apalagi Andhini sedang hamil, kini kelihatan kalau Radit begitu khawatir akan keselamatan Andhini dan janinnya.


"Aku akan mengabarkan apapun yang terjadi, sabar ya semua masih perlu proses dan ketenangan, seperti yang selalu Kamu bilang semua harus di selesaikan dengan kepala dingin, Aku juga kalau dalam keadaan emosi banyak hal yang tak Aku duga termasuk keputusanku dalam hal yang Kulakukan waktu kebelakang.


"Iya, Mas. hati-hati saja Aku menunggu dengan cemas, semoga Karina luluh hatinya, bisa menerima saran Mas untuk pulang ke sini dan menyelesaikan semuanya, Aku juga tidak akan berbicara panjang menghakimi dan menilai salah pada Karina hanya Aku ingin bicara yang semestinya Aku bicarakan, itu saja," ucap Andhini begitu tetap menghargai Karina dengan sepenuh hatinya terlepas dari kemarahannya juga kejengkelannya tentang sikap karina akhir-akhir ini yang terasa begitu menggigit jantungnya.


Kini Andhini bisa merasakan perhatian suaminya kembali setelah sekian lama hilang, Andhini bisa sedikit bernafas lega Radit kelihatan begitu serius untuk berubah walau Andhini tahu masih berurusan dengan Karina, dan hari ini Radit mau menemui Karina dan sekalian menjemputnya juga Bayinya. Andhini berharap segera semuanya selesai.


"Katanya mau bangun, kenapa masih saja di situ?" tanya Andhini perlahan sambil menatap Radit yang sama lagi menatapnya.


"Sayang sekali lagi maafkan Aku ya, selama ini Aku banyak menyakiti Kamu, padahal tujuan awalnya Kamu memberiku kebahagiaan tapi Aku malah mengambil kesempatan itu dengan keinginanku menuruti nafsuku saja, kini hanya menyisakan masalah, kalau dulu Aku ikuti aturan yang benar dan Aku bisa memberi pengertian pada Karina mungkin semua akan berjalan baik-baik saja sesuai rencana dan perjanjian," ucap Radit seperti tak habis penyesalannya.


"Sudahlah Mas, jangan bahas itu lagi. Aku sudah memaafkan dan Aku Juga pangkal permasalahan semua ini sama minya maaf, ke depannya bagaimana kita sama-sama saling memperbaiki diri mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang telah kita lalui dan satu yang paling terpenting menyelesaikan semuanya dan menjaga anak yang kita harapkan itu semoga menjadi titipan bagi kita dan Kita sebagai orangtua amanah dalam mengasuh dan membesarkan nya."


Radit diam, betapa adem dan tenang bagi siapa saja yang mendengar ucapan istrinya, tapi kenapa dirinya seakan lupa kalau selama ini hanya hawa nafsunya saja yang di turutinya?

__ADS_1


Kini seakan berbalik, mengingat Karina begitu tak tertarik lagi, mengingat permintaannya yang tak ingin di cerai seakan tuntutan bukan kerelaan juga keikhlasan membuat Radit malu dihadapan Andhini yang kurang apa di dalam hidupnya, juga permintaan berlebihan Karina begitu menggambarkan pribadinya yang tiada cukup juga Anak yang di jadikan tameng tukar guling menjadikan Radit kesal juga.


"Mas, kenapa? jangan bikin Aku cemas saja, kenapa selalu meminta maaf dan berpesan seperti itu? seperti akan terjadi apa-apa, percayalah semua akan baik-baik saja," ucap Andhini duduk lagi di tepi tempat tidur sambil mengusap tangan suaminya.


"Hatiku juga penuh kecemasan Sayang, boleh Aku memelukmu?"


"Mas, kenapa memohon? lebih dari itu juga Aku ini istrimu, kalau mau lakukan!"


Radit mengusap kepala dan pipi Andhini, merangkum muka dengan kedua tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya. Mereka pelukan dalam diam.


"Sayang, Aku kangen saat seperti ini yang selalu kita lakukan kapanpun kita mau, dan saat hati salah satu diantara kita gelisah kita saling memberi kenyamanan." Radit menarik kembali Andhini tiduran dan mencumbunya setiap saat mereka terjaga, pelukan dan ciuman hangat serta usapan membangkitkan hasrat cinta yang sebenarnya.


Andhini tahu suaminya sedang gelisah dirinya harus bisa membuatnya percaya diri dan membangkitkan semangatnya, seakan ada ketakutan dalam hatinya.


Andhini balik memberikan pelayanan dan perlawanan, sehingga senyum terukir kembali di bibir keduanya.


Radit mengusap bibir mungil Andhini yang basah saat dirinya melepaskan pagutannya, tanpa di komando semua terjadi pagi itu kehangatan kembali mengisi tempat tidur mereka dengan kepuasan suami istri, Radit mencium perut Andhini beberapa kali saat turun dari tubuh istrinya, sesaat meraka pelukan dalam kegelisahan yang belum sepenuhnya terselesaikan.


"Makasih Sayang," ucap Radit sambil mengecup bibir Andhini yang masih mengatur nafasnya.


Sungging senyum di bibir Andhini memberikan jawaban, kalau dirinya juga merasa puas.


*******

__ADS_1


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_2