
"Maaf Sayang Aku sudah makan tadi habis lapar, karena teman kamu Erika nggak masuk jadi mau tidak mau kita harus gantian Aku jaga di sini kamu makan sama sholat Dzuhur dulu ya," ujar Raditya sambil membuka jaketnya dan menyimpannya di atas sofa di ruangan yang di anggap kantor bagi mereka dan ruangan untuk sedikit meluruskan pinggang mereka juga sekalian ruangan sholat dan istirahat.
"Nggak apa-apa Mas, Aku cari makan dulu keluar ya."
"Maafkan Aku ya Sayang, tadi Aku makan sama para tukang panggul di kantin kantor ekspor impor itu."
"Kenapa hal begitu harus meminta maaf untuk urusan makan jangan ditunda saat kita lapar makanlah kapanpun, di manapun juga."
"Iya, Kamu jadi makan sendiri karena Erika nggak masuk hari ini."
"Ya sudah, Aku beli dulu makanan ke sebelah, Mas mau apa?"
"Makasih, Aku masih kenyang nanti saja."
Andhini keluar mini marketnya dan masuk ke salah satu gerai makanan siap saji yang terpampang sebagai jenis makanan, dan siap dengan segala pelayanannya dan siap melayani pesan antar.
Kebiasaan Andhini sama Raditya mungkin semua pasangan muda yang sibuk bekerja di Australia setiap lapar baru mencari makanan, di rumah atau di tempat kerja hanya cemilan yang tersedia luar itu untuk makan besar dan padat harus memesan dulu.
Benar seperti kata Erika masak itu hanya jadi acara hiburan di hari libur.
Banyak kemudahan yang mereka dapatkan hanya dengan menekan tombol ponsel makanan akan datang, seakan di manjakan dengan segala kemudahan mereka menikmati kebersamaan tanpa di ributkan dengan urusan lain selain pekerjaan yang menjadi kewajiban mereka.
Masak sama membeli sama saja belum waktu yang terbuang kalau membeli tinggal menunggu dan menekan tombol ponsel waktu bisa di manfaatkan buat istirahat dan berduaan.
Bahkan sisa waktu di setiap akhir pekan bisa mereka lewatkan dengan melancong ke tempat yang belum mereka kunjungi, banyak photo Andhini sama Raditya kirimkan buat Ibu bapaknyanya seakan mewakili kebahagiaannya, dan memastikan mereka bahagian dan sejahtera.
Kadang Andhini suka kangen masakan Bi Ummah dan makan makanan Indonesia, ada satu dua Restourant Indonesia di sini juga tapi tak seperti makan di rumahnya, buat pengobat rindu tak apalah yang pasti masakan Indonesia.
Selain dapur kondominium mereka tetap bersih bagi orang sibuk seperti Andhini juga Raditya paling praktis soal makan ya dengan cara membeli pesan atau datang sendiri ke gerai-gerai yang begitu banyak tersedia 24 jam.
__ADS_1
Andhini datang dengan box makanan dan dengan kantong kertas di dekapannya beli kue dan roti roti.
Radit yang sedang melayani pembeli di kasir meliriknya sambil tersenyum. Andhini langsung ke kantor dan membuka makanannya.
Ada spaghetti cheese pedas dan daging olahan, juga minuman dingin kesukaannya.
Andhini berpikir sambil makan nanti kalau Mas Radit sudah menikah sama Karina biar mereka di sini berdua kalau siang, biar bisa mereka menyempatkan berduaan sebagai suami istri. Dirinya sama Erika di tempat usaha baru.
Andhini ingin waktu malam hanya miliknya sama Mas Radit, tapi siang buat Karina sama Mas Radit, Andhini akan memposisikan dan menganggap Mas Radit sedang bekerja kalau siang hari dan Karina harus menerima kesepakatan itu, Karina akan menempati satu kondominium yang akan di sewakan untuk tempat tinggalnya.
Semua rencana sudah diaturnya serapi mungkin tinggal berbicara sama Mas Radit teknisnya. Perempuan yang di ajukan Andhini dan bertanya sama Karina semua akan deal menjadi kenyataan hari ini, karena Andhini akan bicara di saat mereka sudah santai nanti.
"Lama banget makannya?" Tiba-tiba Mas Radit melongokan kepalanya dari balik pintu mengintip istrinya yang sedang makan sambil melihat-lihat ponselnya.
"Sini aja kalau nggak ada yang ngantri di sana, kenapa memang?"
"Aku kangen sama Kamu," ujar Radit seperti biasa selalu menggoda istrinya.
Biasanya kalau di rumah mereka langsung berpelukan dan berbisik satu sama lain. Semua itu menjadi kebiasaan kemesraan mereka.
"Masih siang Mas, nanti ada saatnya."
"Lama banget kita tak berduaan kalau siang hari, aku jadi kangen."
'Nanti juga akan ada yang menemani, Mas bisa melakukan apapun sampai Karina bisa hamil.'
"Hai, kenapa jadi diam? apa perlu kita tutup toko ini kita bisa melepas kangen berdua?"
"Kalau Mas menginginkannya boleh saja, apa salahnya kita meluangkan waktu siang untuk kesenangan kita?" ujar Andhini. Waktu melihat lagi ke arah pintu Mas Radit sudah menghilang, terdengar suara berdecit
__ADS_1
kedua belah rolling door yang di tarik.
Andhini tersenyum, begitulah mereka selalu ada hal yang tak di duga dari hubungan rumahtangga yang di jalani masuk ke usia 6 tahun sebentar lagi 7 tahun.
Andhini cepat-cepat membereskan makannya, lalu minum dan masuk toilet. Menggosok gigi kebiasaannya dan keluar Mas Radit sudah tiduran di sofa panjang dengan memejamkan matanya.
Begitu tampan kelihatan suaminya dengan kumis dan jambang yang mulai tumbuh kira kira tiga hari belum cukuran, Andhini jatuh cinta dari pandangan pertama mereka bertemu di parkiran kampus waktu itu, Andhini yang memarkir kendaraannya tanpa melihat motor gede Mas Radit jadi terhalang saat pulang yang mengharuskan Radit menunggu sampai Andhini selesai mata kuliah.
Sebagai permintaan maaf Andhini iseng mengajak Radit minum di kantin akhirnya jadi pertemuan sejarah pertama mereka yang akhirnya pacaran. Tak tahunya orang tua mereka juga sudah kenal satu sama lain dan juga rekanan bisnis.
Klop sudah semua berjalan lancar tanpa hambatan sedikitpun sampai akhirnya mereka menikah dalam kebahagiaan dan restu orang tua.
Sayang kebahagiaan itu tak semuanya dapat diraih ada saja cobaan dan kendala yang berwarna di rumah tangga mereka, pernikahan impian kedua belah pihak orang tua mereka sampai menginjak usia 6 tahun dan sebentar lagi menginjak menjalani usia 7 tahun pernikahan Andhini dan Raditya belum kelihatan ada tanda-tanda hamil.
Kebahagiaan selalu mereka perlihatkan dengan sesungguhnya walau tetap di lubuk hati yang terdalam mereka mengharapkan ada keajaiban di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Hadirnya buah hati tanda cinta kasih mereka yang begitu diharapkan tetap tak kunjung tiba menumbuhkan keputusasaan di hati Andhini walau usaha segala macam telah di cobanya.
"Kok Mas Radit malah tidur?" pelan suara Andhini tapi begitu jelas kedengaran
"Mas, kecapekan ya kerja siang malam?" Andhini meneruskan pertanyaan walau Mas Radit masih memejamkan matanya.
Andhini mencium bibir suaminya perlahan. Mas Radit membuka matanya, sekilat memeluknya dan tak melepaskannya.
Andhini meronta sambil tertawa, begitu juga Raditya begitu kuat mengungkung istrinya sehingga tak ada pilihan lain bagi Andhini selain terdiam dalam dekapan suaminya.
"Aku menginginkan kamu Sayang," ucap Radit begitu hangat di telinga Andhini.
"Lakukan kapanpun di manapun Mas mau." Selalu Itu ucapan Andhini sejak mereka menikah.
__ADS_1
******