Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Menjemput Karina


__ADS_3

Semakin melewati hari-hari Andhini juga Raditya semakin tak menentu perasaan mereka.


Terkadang kebimbangan datang menggoda terkadang penyesalan akan pernyataan setuju yang telah dikatakan tapi kadang semangat yang menggebu di hati Andhini menjadi satu keberanian juga kadang menjadi satu kegamangan dalam satu keputusan yang telah mereka ambil.


Raditya memeluk Andhini yang memejamkan Mata dalam penerbangan pertama pagi itu dari Bandara Tullamarine Melbourne Australia menuju bandar Udara Husein Sastranegara Bandung.


Yang ada dalam pikirannya Andhini hanya ingin bertemu dan melihat seperti apakah Rina sekarang setelah mereka berpisah selama kurang lebih 7 bulan akankah Karina bertambah cantik? seperti apakah respon Radit saat melihat Karina nanti? Semoga saja Mas Radit suka dan bisa menerimanya menjadi satu harapan Andhini yang sangat  di nantinya.


Akhirnya sampai juga setelah kurang lebih 8 jam dalam gelisah. Pesawat landing dengan mulus, seperti biasa Raditya sama Andhini tak mau bikin heboh kedua orang tuanya mereka tak mengabari dan tak menelpon menyuruh sopir menjemputnya terlalu ribet dan lama itulah pikiran Andini juga Raditya.


Kalau memang ada yang dirasa lebih gampang kenapa tidak? mereka lebih memilih taksi bandara yang begitu banyak bertebaran menawarkan jasa mereka.


Andhini sama Raditya selalu disebutkan sama orang tua mereka dua orang yang selalu memberikan kejutan dan memang benar adanya Andhini sama Raditya begitu sering memberikan kejutan kebahagiaan bagi kedua orang tua mereka dari mulai hubungan mereka yang tak terduga mereka mengabari orang tua mereka setelah mereka pacaran beberapa tahun. Juga saat mereka menyatakan siap menuju pernikahan atau setelah menikah mereka datang secara tiba-tiba tanpa mengabarinya dan menginap beberapa hari di rumah orang tuanya atau juga mengirimkan sesuatu yang sangat disukai oleh Ibunya mungkin seperti itulah mereka memilih mencari dan memberi kebahagiaan dengan cara yang dianggap sebagian orang dirasa unik.


Taksi berhenti di rumah megah dan mewah yang selama kurang lebih 7 bulan mereka tinggalkan. Begitu senang rasa hati Andhini bisa kembali menapaki rumahnya yang kelihatan tetap asri dan rindang juga teduh, ingin sekali Andhini berenang bersama Mas Raditya tentunya mengisi kembali hari-hari mereka dengan kebahagiaan di sini.


Andhini turun duluan dan memijit bel, tergopoh Pak Satpam keluar mungkin habis sholat Ashar dan begitu terkejutnya tanpa gugur tanpa angin majikannya datang dengan tiba-tiba. Kenapa tak menyuruhnya menjemput di Bandara? mobil tiap hari dipanaskan siap digunakan.


"Astagfirullah, Bi Ummah! Nyonya sama Tuan datang …" suara Pak Satpam membuat Bi Ummah langsung keluar.


Andhini tersenyum melihat begitu antusias semua anak buahnya menyambut kedatangannya membukakan pintu dan mengambil alih koper kecil dan ransel mereka.


"Kenapa Nyonya tak mengabari dulu kalau mau pulang hari ini?biar Bibi masak kesukaan Nyonya sama Tuan, ya ampun apa orang tua Nyonya sudah di kabari?" ocehan Bi Ummah terus saja nyerocos sambil menyalami Andhini juga Raditya yang baru datang di rumah.


"Jangan repot-repot Bi Ummah Aku mau pulang ya pulang, nanti berangkat lagi ya berangkat lagi," jawab Andhini sambil tersenyum.

__ADS_1


"Nyonya selalu begitu sih."


"Karina belum pulang Bi?" tanya Andhini mengalihkan kekagetan Bi Ummah.


"Paling sebentar lagi Nyonya, biasanya sampai rumah jam lima lebih."


"Oh, ya sudah."


Andhini berjalan masuk ke dalam rumahnya yang begitu kangen dirinya tinggali, naik ke atas membuka kamarnya masih seperti dulu rapi dan wangi.


Sekeliling rumah tetap terawat dengan baik, apalagi sekarang ada Karina yang membantu Bi Ummah.


"Mas, istirahat saja dulu di kamar kalau capek …. Aku mandi duluan ya." Andhini berdiri tak jauh dari sofa keluarga lantai atas dimana Mas Radit tiduran kelihatan capek.


Radit hanya melirik Andhini dengan anggukan juga senyuman. Andhini masuk kamar lagi mungkin sudah masuk kamar mandi.


Serrrr … darah Radit terasa naik ke otaknya saat mendengar suara itu dan refleks menoleh nya dengan agak ragu.


Satu pemandangan baru di lihatnya terpampang dengan jelas di hadapannya Karina dengan setelan kantor begitu sederhana rok span panjang dengan kemeja sopan motif senada dengan rok nya juga kerudung dan tasnya kelihatan begitu anggun berbeda.


Radit agak tergagap tapi tetap menjawab Karina yang berdiri di tangga paling atas sambil sesekali memandang Radit dan menunduk kembali.


"Oh, Nyonya lagi mandi mungkin habis mandi nanti bisa bertemu," jawab Radit sambil melihat kembali ponselnya.


"Saya permisi dulu Tuan, maaf saya sudah mengganggu."

__ADS_1


Radit hanya mengangguk sambil melirik Karina yang berbalik. Lalu berjalan kembali ke bawah tangga, Radit memperhatikan punggung dan langkah Karina yang menjauh turun.


'Ya ampun, kenapa aku begitu deg-degan? Kenapa gadis itu begitu polos tapi menarik?'


'Tidak! perasaanku hanya untuk Andhini. Aku bukan seorang pengkhianat semua itu akan aku jalani demi kebahagiaan istriku, Aku bukan seorang penganut poligami, semua keinginan istriku demi meyelamatkan pernikahan dan atas nama keinginan orang tua.'


Hati Radit mulai gelisah semakin resah tak menentu seakan mimpi dirinya akan memiliki dua istri, semua itu jauh tak pernah terpikirkan di dalam kehidupan rumah tangganya.


Karina begitu menarik punya kulit tidak terlalu putih seperti Andhini. Tinggi langsing dengan muka sebagian tertutup jilbab.


Radit merasa penasaran juga bagaimana saat semuanya terbuka apa lebih cantik atau malah aneh?


Mungkin dirinya akan merasakan dua perempuan yang berbeda di dalam hidupnya, atau rasa dari semua itu sama saja pada dasarnya? sisi nakal seorang laki-laki muncul di hati Radit tak semua laki-laki merasakan sensasi seperti dirinya nanti.


Akan seperti apa dirinya memperlakukan Karina nanti saat sudah menjadi istrinya? apa akan seperti bersikap pada Andhini selama ini yang selalu manja pada dirinya? ataukah memang dirinya harus bisa membedakan?


'Aku tetap mencintaimu Andhini, rasa itu tetap tak bisa tergantikan dengan siapapun, apapun masalah kita Aku ingin hidup selamanya denganmu.'


Radit menghela nafasnya begitu dalam, wajah Karina seperti menari-nari di depan matanya, suaranya yang lembut dan bicaranya yang sangat sopan, Akankah Karina menerima dan bersedia menerima penawaran Andhini istrinya untuk menjadi istri sirinya selama 6 bulan?


Segalanya begitu susah untuk di tebak, terkadang serba kekurangan juga tak jadi jaminan untuk bisa mudah masuk ke dalam keinginan kita, walau di rasa semua begitu wajar dan pantas.


Timbul rasa kasihan di hati Radit atas ketidakberuntungan Karina, apalagi nanti akan menjadi janda selepas menikah dengan dirinya sampai batas waktu yang di tentukan atau mungkin hamil dan melahirkan anak untuk dirinya dan Andhini. Sudah pantaskah uang sebagai imbalannya? bagaimana masa depannya?


Radit merasa pusing sendiri memikirkan semua tentang hal yang belum terjadi dan belum menjadi masalah bagi dirinya Andhini dan Karina tetapi semua itu sudah menjadi gambaran di hati Radit semua akan menyisakan sedikit banyak permasalahan di antara mereka.

__ADS_1


*****


__ADS_2