
Waktu berjalan merambat tak bisa dihambat, mengiringi kisah kehidupan manusia seperti apa perjalanan tiap orang pastinya berbeda, namun tentu ada suka dukanya di cerita itu, menyisakan kenangan juga luka bagi orang yang menjalani dan merasakannya.
Begitupun Karina telah begitu menikmati perannya sebagai istri kedua, sebagai orang yang dipercaya di tempat kerja setiap hari bekerja dengan seseorang yang dikaguminya yaitu suaminya sendiri walau suami di atas perjanjian yang terikat waktu dan harus tunduk pada aturan yang disetujui.
Andhini begitu juga, sibuk dengan keseharian setelah satu bulan minimarket barunya diresmikan pengunjung begitu membludak melesat tak terkendali diurus berdua sama Erika merasa sudah keteter bahkan kewalahan, Andhini berpikir untuk merekrut tenaga kerja lain malah dirinya ingin membuka cabang baru karena melihat prospek yang begitu menjanjikan. Begitulah seorang pebisnis seperti meminum lautan semakin di minum semakin haus saja rasanya dan tidak ada kata puas akan kesuksesan, memuaskan hati dengan keberhasilan sukses dengan yang satu kesuksesan yang lain telah menunggunya.
Sebulan telah berlalu Karina berada di Melbourne Australia, semakin nyaman saja keseharian dengan rutinitas yang dijalaninya, hidup seperti pacaran dengan seorang pangeran tapi bisa menjalani hubungan luar dalam melambungkan perasaan Karina pada tingkat tinggi.
Sampai di suatu pagi seperti rutinitas sebelumnya Radit mampir di kondominium Karina seperti hari-hari sebelumnya mereka selalu menyatukan rasa yang ada, satu bulan dalam hitungan waktu berlalu begitu cepat mereka rasakan dalam hubungan suami istri baru.
Radit sudah biasa memasuki hunian Karina dan langsung mengetuk pintu yang sudah tak dikunci. Biasanya memeluk di manapun Karina berada dan membawanya ke tempat tidur, mereka berciuman Karina membalas ciuman dengan hangat dan perlawanan seperti biasanya lalu adegan panas selalu mereka lakukan tak pernah terlewatkan seperti saat pagi ini.
Setelah melakukan penyatuan ada kekhawatiran dari wajah Radit saat mendapatkan Karina mengatakan pusing dan mau muntah dengan muka pucat.
Karina mungkin kecapean sehingga masuk angin atau belum terbiasa dengan iklim cuaca dan musim yang ada di Melbourne Australia ini, sehingga tubuhnya perlu adaptasi itu beberapa kemungkinan ditangkap Radit.
Dalam keadaan belum berpakaian Karina merasakan mual yang luar biasa Radit memeluknya dalam basah keringat kepuasan.
Menyodorkan pakaian pada Karina dan ikut merapikan rambutnya sedikit memberi pertolongan memakai pakaiannya kembali.
"Aduh Mas, sepertinya Aku nggak kuat kerja hari ini," ucap Karina sambil menutup mulutnya yang seperti sendawa.
"Ya sudah nggak apa-apa, istirahat sehari dua hari sampai pulih kembali," jawab Radit sambil memegang kening Karina yang berkeringat sama seperti dirinya.
"Tapi Aku nggak enak kalau nggak kerja, Mas Radit akan sibuk sendiri nanti, gimana pasti akan kewalahan," tutur Karina seakan tak ingin jauh dari Radit. Walau keduanya selalu bersama melakukan hubungan suami istri terkadang pagi juga siang tapi tak ada sedikitpun terucap kata cinta dari bibir Radit atau Karina, walau hati Karina sendiri sudah tercuri.
"Kalau kamu sakit ya mau tidak mau Aku handle sendiri kalau nggak Aku minta bantuan Andhini di minimarket, itu juga kalau Andhini nggak sibuk banget," tutur Radit berusaha memberi perhatian pada Karina.
__ADS_1
Mendengar ucapan Radit akan meminta bantuan istrinya Andhini, timbul dalam hati Karina keinginan tak ingin melewatkan satu hari pun kebersamaan bersama Radit, timbul keinginan Karina kalau momen setiap harinya bersama Radit tak ingin dijalani Radit bersama Andhini itu adalah haknya sebagai istrinya juga.
Karina merasa nyaman bersama Radit, apalagi kalau waktu istirahat siangnya selalu diisi dengan tambahan hubungan suami istri dan kemesraan lainnya.
Mengingat itu adalah siang jatah kebersamaannya, Karina merasa tak rela dan ada rasa lain di hatinya yaitu tak ingin kehilangan waktu siang bersama Radit.
Kemesraan yang tercipta di antara keduanya telah menimbulkan rasa lain di hati Karina, Karina mulai suka dengan segala yang ada di diri Raditya.
Semua tumbuh begitu saja melupakan butiran perjanjian diantara Karina dan Andhini.
"Jadi gimana? Kamu kuat nggak nanti malah tambah parah kalau memaksakan diri," ucap Radit sambil memperhatikan raut muka Karina yang agak pucat.
"Aku nggak apa-apa Mas hanya masuk angin biasa. Aku kuat kok cuma duduk di meja kasir, apalagi dekat Mas Radit." Karina mulai memperlihatkan manja dan ingin kelihatan perhatian dan selalu mencari peluang agar Mas Radit bisa tersenyum dan memeluknya.
Radit tersenyum sambil mencium kembali bibir Karina yang tipis dan menggemaskan selalu memberinya senyum manis dan perlawanan liar saat perpaduan.
Radit melepaskan ciumannya dan membelai bibir Karina yang basah bekas bibirnya nempel lama di situ.
Karina mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Radit yang masih telanjang dada.
"Ya sudah kalau kamu kuat, bersihkan dirimu dulu nanti Aku nyusul kita sudah kesiangan buka toko ini."
"Iya Mas."
Karina berjalan ke kamar mandi duluan membersihkan diri, selalu ada kenikmatan di tiap pagi dan merasakan kegagahan Mas radit di tempat tidur membuat Karina ketagihan belum puas sampai saat ini.
Ingin nambah dan nambah lagi itulah kenapa Karina begitu senang kalau menjelang hari siang.
__ADS_1
Terkadang timbul pemikiran gila Karina apa Nyonya Andhini kewalahan melayani keinginan suaminya sehingga berbagi dengan dirinya? Atau murni memang mau punya anak?
Karina tersenyum sendiri mengingat dan merasakan kembali kegagahan seorang tampan Raditya saat diatas tubuhnya dengan perkasa menyelesaikan puncak kenikmatan mereka.
******
Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi karya di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️
Blurb :
Kejadian masa lalu membuat Hasna harus bertemu dengan pria dingin yang menurutnya begitu menakutkan.
Namun, pada akhirnya dia sendiri yang malah terjebak dengan pesona pria dingin itu.
Bima, seorang asisten pengusaha muda yang cukup terkenal. Dia adalah si genius perusahaan Walton.Corp yang terkenal dengan sikap dingin dan tegasnya.
Dengan sikap dinginnya, Bima seolah membangun dinding besar yang kuat untuk tidak bisa orang lain menyentuhnya.
Namun, masa lalu Tuannya telah mempertemukan dia dengan gadis manis yang siap menggoyahkan hatinya yang beku.
"Aku masih menunggu gadis di masa laluku"
Kata yang membuat seorang Hasna mundur dan melupakan perasaanya pada pria dingin yang dia cintai itu. Bima yang telah menolak perasaannya secara terang-terangan, bahkan sebelum Hasna sempat mengungkapkannya.
Kisah cinta dengan masa lalu yang rumit..
__ADS_1