Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Kakak yang aneh!


__ADS_3

"Astagfirullah, ya ampun Rahadian! masa Kakakmu pergi masih pagi kamu tidak tahu? apa tidak ngomong dan pesan apa-apa? ditelepon ponselnya tidak aktif ke mana dia pagi-pagi begini? atau jangan-jangan dia pergi dari semalam?" tanya Radit sesampainya di hunian mendapatkan Andhini tidak ada di tempat kesalahan lagi bagi dirinya.


Rahadian yang baru bangun juga kaget kenapa Andhini tak membangunkannya saat dia mau pergi?


Raditya dengan muka kecut membuka semua pintu ruangan, tapi Andhini tetap tiada. Kenapa pesona Karina tak bisa dirinya tolak? seakan magnet baru bagi Raditya menikmati kebersamaan bersama Karina, mengelus dan mencium perutnya adalah sesuatu yang sangat ajaib ada kehidupan di dalam perutnya darah daging mereka membuat Raditya lupa diri.


"Kakak yang aneh, Kak Andhini bilang Kakak mengambil barang karena kantor ekspor impor gudangnya tak menampung lagi karena banyaknya paket yang datang dan harus segera di ambil, tapi barusan Kak Radit bilang habis main ngobrol di rumah temen sebenarnya ada apa kok suami istri seperti tidak tahu apa kegiatan pasangannya?" tanya Rahadian yang baru saja bangun saat Radit pulang.


"Kakakmu bilang begitu itu benar, tapi Aku langsung tidur di minimarket karena pulang takut mengganggu Andhini yang lagi istirahat dan sudah terlalu larut." jawab Radit meralat dan meluruskan alasannya.


"Jadi nginap di rumah teman apa di minimarket? dan ngobrol sampai pagi itu bohong? kalau nginapnya di supermarket gimana kok berbelit? ada apa sih sehingga Kak Andhini tak menyentuh makan malam sama sekali Aku tahu itu, Aku juga tahu dan melihat kalian sedang bermasalah cuman Aku tidak tahu masalahnya, yang Aku tahu Kak Andhini semalam menunggu Kak Radit pulang!" sela Rahadian, seperti tidak suka dengan cara yang dilakukan Kakaknya meninggalkan Andhini sendirian di rumah meninggalkan makan malam mereka, sudah jelas rumah tangganya lagi ada dalam masalah.


Deg! Ada rasa sakit di dada Radit kali ini untuk kesekian kalinya dirinya menyakiti istrinya sendiri. Andhini semalam pasti menunggunya karena mereka janji mau makan malam bersama.


Tapi Radit malah tenggelam dalam pelukan Karina dan melewatkan malam panas mereka hingga capek dan ketiduran, jam 02:05 baru ingat semua terlanjur Karina meluknya semalaman.


"Kamu tidak akan tahu dan paham masalahnya karena kamu belum berumah tangga," ucap Radit pada Rahadian.


"Tapi setidaknya Aku bisa belajar dari orang yang berumah tangga, bagaimana cara menyelesaikan masalah bukan seperti ini meninggalkan istri sendiri tanpa makan sedikitpun karena menunggu suami yang hanya ngobrol sama teman, apa manfaatnya? kenapa lebih mementingkan seorang teman daripada istri sendiri?" Rahadian seperti melawan karena yang dilakukan Radit Kakaknya bertentangan dengan hati nurani kelihatan Rahadian dewasa dalam berpendapat.


"Aaaaaah ... sudahlah! kamu tak akan mengerti!"


"Jelas Aku tak mengerti karena Kakak menyelesaikan semuanya dengan cara begitu! kasihan Kak Andhini di sini menunggu makan malam, tapi Kakak tidak pulang sampai pagi, suami macam apa itu? Aku semalam masih mendengar Kak Andhini menangis dari kamarnya!"


Bruk!


Radit menutup pintu kamar begitu keras, dan Radit menatap pintu yang di banting, yakin kalau rumah tangga Kakaknya sedang dalam masalah.

__ADS_1


Tanpa cuci muka tanpa apapun Rahadian keluar niat untuk pulang ke hotel dan dalam hatinya ingin sekali tahu walaupun bukan berarti dirinya orang yang kepo akan masalah orang lain tapi setidaknya ingin tahu masalah yang sebenarnya dalam rumah tangga Kakaknya.


Kalau bisa ingin menjadi penengah diantara keduanya, seserius apa masalahnya Rahadian tidak tahu, tapi dirinya cenderung condong berpihak kepada Kakak iparnya Andhini.


Rahadian berjalan sambil menyisir rambut dengan jemarinya, mengusap mukanya yang tak enak banget belum kena air sejak bangun pagi, malah di suguhi pertanyaan yang tak di mengerti dari Kakaknya Raditya.


Rahadian berdiri depan lift baru sadar kalau di sampingnya Karina sedang menunggu lift terbuka juga. Kelihatan Karina seakan pura-pura tak melihat tapi Rahadian tahu dan menyapanya terlebih dahulu.


"Hai, mau ke mana?"


"Lha, situ dari mana mau ke mana?" jawab Karina malah balik bertanya.


"Aku mau pulang ke Hotel, sementara Aku tinggal di Hotel sebelum punya tempat hunian lain dan semalam nginap di tempat Kakak."


"Oh, Aku cari sarapan sambil sedikit jalan-jalan."


Timbul berbagai pemikiran negatif walaupun tidak semuanya negatif tetapi spekulasi dipikiran Rahadian menimbulkan persepsi yang mengarah pada satu rasa penasaran di hatinya.


"Jalannya sampai hotel yuk! maaf maksudku biar nanti Aku traktir sarapannya, tapi Aku sekarang baru bangun jadi perlu kamar mandi dulu."


Karina meragu, dirinya bukan wanita bebas yang bisa pergi dengan siapapun walau mungkin sebentar lagi akan bebas tapi kalau seandainya Rahadian tahu siapa dirinya mungkinkah Dia akan berbalik 180 derajat membencinya?


Karina menggeleng dengan senyuman.


"Maaf, mungkin lain kali. Tapi kalau mau mandi dulu dan sarapan di sini Aku tunggu."


"Ide bagus, setengah jam Aku sudah di sini lagi ya." jawab Rahadian sambil menunjuk gerai makanan di hadapannya.

__ADS_1


Karina tersenyum sambil mengangguk, dan memandang punggung Rahadian yang berjalan tergesa.


'Maaf, Rahadian kalau Aku sebenarnya menghindari mu, walau kamu terlihat baik tapi semua akan runyam seandainya tahu siapa Aku sebenarnya.'


'Maaf juga kalau Aku tak berniat menunggumu di sini.'


Karina berbalik dengan tergesa juga, Karina tahu Rahadian adalah adik Mas Radit, Karina tak ingin semua terbongkar karena kecerobohannya.


Sebisa mungkin Karina berusaha menghindarinya walaupun pertemuan demi pertemuan secara tidak disengaja tak bisa dihindari.


Karina hanya membeli makanan di gerai lain dan kembali ke kondominiumnya. Terasa sempit langkah dan geraknya kini sudah tiga kali bertemu sama Rahadian dalam kurun waktu tak begitu lama, memang walau banyak orang yang bermukim di sini tetapi kalau tinggal berdekatan tetap saja membuka peluang yang lebih besar, pertemuan berikutnya pasti akan terjadi lagi.


Karina masuk dengan pemakai lift lainnya semua menuju ke beberapa lantai dan berhenti di lantai tujuannya masing-masing.


Harusnya semua di konsultasikan dengan Mas Radit biar ada jalan keluarnya, sehingga tertutup pertemuan dirinya dengan Rahadian untuk selanjutnya.


Sampai di kamarnya Karina meraih ponselnya melihat jam sepertinya Mas Radit belum beraktifitas, malah mungkin lagi sarapan seperti dirinya.


Mencoba menelephon sekedar basa-basi nadanya aktif tapi tak di angkat, mencoba lagi dan lagi tapi semua panggilan nihil jawaban. Karina melempar ponselnya ke tempat tidur yang masih belum di benahi.


Lalu membuka kotak makanan dan menyalakan TV.


*****


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2