Cinta Di Atas Perjanjian

Cinta Di Atas Perjanjian
Duka semuanya


__ADS_3

"Kak Andhini!" teriak Rai menyadari Andhini juga terkulai lemas tak berdaya juga.


Dokter dan petugas memberikan pertolongan memindahkan Andhini pada tempat tidur, sedangkan Rai sendiri bingung hanya menunggu Radit sama Erika yang bisa dilakukannya.


Rai mencoba menelepon Kakaknya Radit tapi sibuk lalu pada Erika tak diangkat mungkin lagi menyetir dan belum sampai ke sini.


Akhirnya Rai diam terpekur di kursi sendirian.


Rai belum tahu muka Bayi itu, jadi kalau ingin memastikan harusnya ada Andhini, Karina mungkin Kak Radit juga Erika.


Kalau memang Bayi itu benar Bayi Kakaknya sama Karina begitu tragis keadaanya, Bayi itu diperebutkan dijadikan agunan dipertahankan demi keperluan dan akhirnya tidak tertolong di tangan orang yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan konflik orang tuanya.


Satu pelajaran berharga dari kehidupan yang nyata ada di depan matanya, Rai berpikir dalam hal ini pada siapa harus menimpakan kesalahan?


Mungkin pada kenyataan yang telah terjadi, Kakaknya Radit celaka, Karina tertipu daya oleh Ros, Andhini di khianati sama Karina, dan memang Pernikahan dan Cinta Di Atas Perjanjian seharusnya tidak ada, pada dasarnya pernikahan itu harus ikhlas dijalani dan disyukuri berdasarkan cinta bukan keterpaksaan dan juga bukan atas kepentingan tertentu.


Namun seandainya ada keterpaksaan mengharuskan pernikahan diatas perjanjian harus ada dan menjadi pilihan, karena suatu hal dan di tengah jalan ada perubahan patut di bicarakan dan perjanjian bisa di ubah sewaktu-waktu untuk menjadi lebih baik dan sempurna.


"Rai! mana Andhini sama Karina?" suara Erika diikuti Radit yang berjalan satu kakinya sedikit di seret menyadarkan Rai dari lamunannya sambil mengelus keningnya sendiri.


"Kak Radit Bu Erika, Kak Andhini pingsan begitu juga Karina sesungguhnya Bayi yang ditunjukkan dr Fadli ada di sini itu sudah meninggal, tetapi kami belum meyakinkan kalau itu Bayi Kak Radit sama Karina karena keburu Kak Andhini sama Karina pingsan duluan." Ucapan Rai tak kalah mengejutkan Radit sama Erika yang baru datang.

__ADS_1


"Apa? meninggal?" suara Radit sama Erika hampir bersamaan.


Tak lama Andhini datang bersama dr Fadli juga Karina tak sepatah katapun diantara mereka bersuara, Karina yang belum tahu kondisi Bayi itu hanya diam saja, Andhini yang sudah di beritahu juga diam. Tapi harus ada yang menyampaikan kabar ini seandainya benar Bayi itu Bayi mereka pada Karina.


Andhini tiba-tiba memeluk Karina, dan Karina merasa heran dengan semuanya. Andhini menangis dan akhirnya Karina juga menangis karena terbawa suasana.


"Rina, sabar semua ini sudah ditakdirkan Yang Maha Kuasa mungkin ini nasib dan jalannya yang terbaik harus seperti ini, walaupun Kita belum tahu apa Bayi yang ada di rumah sakit ini adalah Bayi Kamu dan Mas Radit tetapi kondisi bayi itu kini sudah meninggal atau sudah tiada!" ucap Andhini langsung di sambut raungan Karina dengan hujan airmata.


Karina melorot dan memeluk kaki Andhini meratap meminta maaf dan memohon ampunan, kalau semua adalah kebodohannya semua adalah keegoisan dirinya, berjuta seandainya berkumpul di ujung lidah Karina tetapi tak sempat untuk diucapkan karena semuanya sudah terlambat, kini Karina punya keyakinan kalau itu adalah bayinya, firasat seorang Ibu telah ada sejak dirinya menerima kabar Bayinya kritis memberinya semacam signal yang menyusup ke dalam hatinya.


"Karina, jangan begitu, Aku juga sama-sama salah dalam hal ini. Sudahlah semua sudah berakhir kini." Ucapan Andhini samar terdengar sama Karina.


"Kak Ros brengsek!" teriak Karina mengagetkan semua yang ada di situ.


Rai menenangkan dan mengajaknya duduk dan Rai mengusap punggung Karina berusaha menenangkan, lalu memberinya minum sehingga Karina sedikit bisa tenang.


"Sudahlah Rina, tenangkan hatimu kita pastikan dulu semuanya kalau Kamu sudah siap, tapi seandainya itu adalah Bayi kita dan sesuatu hal buruk terjadi pada Bayi itu, semua telah terjadi di luar kuasa Kita tidak satu orang pun yang bisa menolaknya selain menerima ketetapan itu, semua bukan keinginan Kita tetapi takdir yang telah menentukan jalannya seperti ini dan itu juga belum pasti yang ditunjukkan dr Fadli belum tentu Bayi Kita," ucap Andhini sambil memegang kedua bahu Karina.


Karina merasa semua itu Bayinya hatinya telah pasrah pada keadaan, apapun Yang terjadi kita telah menjadi nasibnya juga Bayi mungilnya.


Radit diam membisu menatap airmata Karina yang tak berhenti berderai, apa yang harus di katakan pada Istrinya Andhini juga pada mantan istri sirinya Karina, semua di luar dugaannya.

__ADS_1


Bayi yang belum pernah dirinya lihat dengan sebenarnya, belum pernah dirinya gendong dan memberinya nama sebagai do'a, Bayi yang diidamkan istrinya Andhini tapi kehadirannya menjadi sengketa dan di manfaatkan sama orang yang tidak bertanggung jawab sama sekali, Bayi yang tadinya dimanfaatkan untuk memenuhi ambisi keinginan orangtuanya kini semuanya hanya memerlukan beberapa langkah di rumahsakit ini untuk memastikannya.


Semua melangkah, Andhini memeluk lengan suaminya Radit, Karina di papah Rai dan Erika juga dr Fadli menjadi saksi kalau pada akhirnya duka dan luka pada diri semuanya.


Sampai pada kamar perawatan hanya Karina yang tahu percis semuanya, yakin itu Bayinya yang telah menutup mata selamanya, semua pakaian Bayi itu sama percis saat Ros membawanya, selimut dan juga gendongannya langsung sudah Karina kenali sejak pertama masuk ke kamar perawatan itu.


Karina tersungkur di lantai dengan menciumi selimut Bayi itu, tangis yang sudah tak bersuara hanya airmata yang tak berhenti mengalir dari matanya. Karina di halangi untuk memeluk Bayi itu karena itu adalah prosedur rumahsakit yang sudah meninggal jangan di perlakuan sembarangan walau sama keluarganya.


Andhini merasa itu adalah dukanya juga saat Radit mendekati Bayi itu di dampingi dokter ada tirik air mata di sudut bola matanya, Radit melihat darah dagingnya yang belum sempat dirinya apa-apakan sudah tak bergerak lagi, dan melihat Karina yang melepaskan kesedihannya di lantai begitu mengiris perasaannya juga bagi yang lain yang menyaksikan hati seorang Ibu di tinggal Anaknya semua tampak sedih luar biasa.


Radit mengangkat bahu Karina dan dan Andhini pun sama menghampiri Karina mereka bertiga berpelukan, dalam tatapan bingung dr Fadli.


"Hukumlah Aku Nyonya!"


"Ssssst.... tidak Karina, semua akan baik-baik saja dan harus berakhir dengan baik, kita fokus pada pemulasaraan Bayi ini dulu banyak waktu ke depannya yang alan kita bahas, semua bersedih tapi jangan terus larut dalam kesedihan jadikan semua ini pelajaran berharga bagi kita," Andhini memberikan tissue pada Karina dan membimbingnya keluar saat petugas akan membersihkan dan membawa Bayi itu ke tempat pemulasaraan sebagaimana mestinya menurut Agama orangtuanya yang menginginkan seperti apa.


*******


Sambil nunggu up Cinta di Atas Perjanjian, rekomendasi masih karya Enis Sudrajat di bawah, baca like dan komen membangun ya🙏❤️


__ADS_1


__ADS_2