
"Om Bari silakan tahan gadis gila ini," seru Glen pada pengawal kepercayaan papinya.
Om Bari dan dua orang berseragam polisi langsung mendekati Melvin dan Claudya.
"Nona, anda kami tahan," ucap salah satu polisi itu seraya mengulurkan tangannya.
Melvin menatap Claudya yang menggelengkan kepalanya dengan panik. Tanda dia menolak.
"Kuserahkan adikku padamu," ucap Melvin seraya memberikan tangan adiknya pada salah satu petugas untuk di borgol.
"Tidak! Jika kalian menangkapku, maka kalian ngga akan tau dimana aku menyandera keluarga ibu pasien tadi!" gertaknya marah. Kartu terakhirnya.
Kiano dan yang lainnya menatap Glen dan Reno, berharap keajaiban kalo dua orang tengil ini bisa mematahkan ancaman Claudya.
"Itu sudah ngga perlu. Dia sudah bersama keluarganya," tukas Reno cepat membuat yang lainnya menatap Reno penuh syukur.
"Ngga mungkin?" Claudya terkesiap ngga percaya. Itu kartu terakhirnya agar bisa bebas.
"Kamu serius, kan, Ren?" tanya Kiano memastikan kalo yang dikatakan Reno benar adanya. Tapi melihat wajah serius Reno dan Glen, ada keyakinan dalam hatinya kalo keduanya berkata benar. Dadanya langsung plong. Aruna bisa dia selamatkan dari amukan kegilaan Claudya.
Kiano harus memastikan karena ini menyangkut keselamatan Arunanya. Dia ngga ingin ada lagi kejadian seperti ini menimpa Arunanya. Dia dan Aruna butuh ketenangan dalam menjalani pernikahan mereka.
"Kami ngga sengaja menemukan mereka. Dua laki laki dan dua perempuan," jelas Glen tanpa mau merinci dimana dia dan Reno menemukan keluarga pasien itu.
Jamgan sampai kebodohan mereka diketahui Kiano dan yang lainnya. Sahabat sahabat ngga punya hati itu pasti akan mentertawakan ketakutan yang sempat mereka berdua rasakan.
Sampai sekarang pun Glen masih malu mengingat ketakutan ngga jelasnya tadi.
"Tidak. Tidaaak! " jerit Claudya saat dibawa oleh dua orang berseragan polisi itu bersama orangnya Sani yang masih mengenakan seragam perawat.
"Rasakan gadis gila! Semoga kamu seumur hidup tinggal di penjara," seru Tamara puas.
"Tidaaaak! Kak Melvin, tolong aku. Dadyyyy.....!" serunya berulang ulang kali sampai tubuhnya menjauh.
Glen menatap nanar pada gadis yang sempat membuatnya tertarik. Ternyata gadis psycho yang gila. Dia membuang nafas kasar. Baru kali ini Glen merasa dirinya sangat bodoh.
Reno memperhatikan Glen tanpa kata.
Syukurlah, akhirnya tau juga.
Glen termasuk berkepala batu. Sudah untuk menerima masukan, bahkan dari sahabatnya sendiri.
Athar menepuk pundak Melvin. Dia tau, pasti berat buat Melvin melihat adiknya harus mendekam lagi di penjara. Mungkin kali ini akan butuh waktu lebih lama untuk bisa membebaskannya.
__ADS_1
"Maaf, lo sampai babak belur," ucap Melvvin pelan
Matanya masih menyorot pada punggung adiknya yang terus meronta ronta saat dibawa pergi.
"Ya, gue bakal diomelin Almira," kekeh Athar membuat segaris senyum tipis tersungging di bibir Melvin
"Alva, lo terluka?" tanya Kiano panik saat melihat darah yang menetes dari luka di bahu Alva.
Regan dan Arga baru sadar.
"Astaga, kita lupa membawanya segera ke IGD," seru Arga sambil menatap Alva panik.
"Sebaiknya cepat naikkan dia ke brankar. Dia harus segera diobati," seru Glen yang membantu mendekatkan brankar yang sudah dibawa salah seorang perawat.
Memikirkan brankar, Glen kembali teringat brankar brankar yabg dilihatnya tadi di ruang mencekam yang dia masuki bersama Reno. Tanpa sadar dia menggelengkan mepaka untuk membuang pikiran takutnya.
Regan dan Arga pun membantu Alva yang sudah terlihat pucat untuk di baringkan secara miring di atas brankar. Walaupun berusaha kelihatan kuat, tapi wajah pucatnya membuat mereka khawatir.
"Tamara, lo nyusul ya," ucap Regan sambil menoleh dan kemudian melangkah membantu mendorong brankar Alva.
Tamara ngga merespon. Dia hanya melihatnya saja sampai brankar itu didorong pergi.
Kemudian Tamara mendekatkan kursi roda pada Aruna.
Aruna menatap sahabatnya dengan mata berkaca kaca.
"Tamara, terimakasih," ucapnya masih terguncang. Apalagi melihat luka di sudut bibir Tamara. Aruna yakin, saat ini tubuh Tamara pasti lebam lebam karena terkena beberapa kali pukulan dan tendangan demi melindunginya.
"Terimakasih, Tamara," kata Kiano tulus sambil membantu Aruna duduk di kursi rodanya. Tamara memang sahabat sejati Aruna, batinnya.
Tamara tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Hatinya senang karena semua sudah berakhir. Dia hanya bisa berharap kalo Claudya bisa dihukum dengan sangat lama, bahkan seumur hidup kalo perlu.
Jika saja Tamara punya saudara seorang jaksa, dia pasti akan meminta jaksa itu untuk menuntut Claudya hukuman mati atau hukuman seumur hidup untuk gadis gila itu.
"Perut kamu masih kram?" tanya Kiano khawatir sambil mendorong kursi roda Aruna pelan.
"Sedikit," jawab Aruna berbisiik. Ya, perutnya mulai terasa kram lagi.
"Dokter akan mengobatinya," kata Kiano menenangkan.
"Aku obati sendiri aja Kiano. Aku, kan, dokter," ngeles Aruna membuat Kiano dan Tamara yang berada di sampingnya tersenyum
"Ya, kamu dokter yamg selalu menyusahkan dokter lain," ejek Tamara membuat Kiano terkekeh.
__ADS_1
"Dokter," panggil ibu pasien yang sempat di sandera Claudya demi niat buruknya. Wajah pucatnya sedikit berkurang.
Aruna, Kiano dan Tamara menghentikan kursi roda mereka tatkala melihat kursi roda ibu itu di depan mereka. Saat ini ada empat orang muda yang mengiringinya. Penampilan keempatnya terlihat kotor dan kusut.
"Keluarga ibu?" tanya Aruna penuh perhatian.
"Maafkan saya," ucap ibu itu penuh rasa bersalah karena hampir mencelakakan dokter Aruna dan teman temannya.
"Iya, dokter. Maafkan, tante kami terpaksa melakukannya," ucap salah satu keponakannya, seorang laki laki yang sebaya dengan mereka dengan perasaan ngga enak.
"Ya," sahut Aruna mengerti.
Kiano meremas lembut pundak Aruna.
"Semoga ibu cepat sembuh," ucap Aruna tulus.
"Terimakasih, dokter," ucap ibu itu sangat terharu. Beliau pikir Aruna dan dua orang pendampingnya akan mengomelinya. Ternyata engga. Beliau pun sangat bersyukur karena dokter Aruna masih dalam keadaan baik baik saja.
"Kami pergi dulu," pamit Kiano yang diangguki mereka dan memberikan jalan untuk Aruna, Kiano dan Tamara pergi.
"Maaf bos, tadi kami terlambat membantu," kata kepala anak buah Athar. Dia merasa bersalah melihat penampilan bosnya cukup awut awutan.
"Kenapa kalian lama sekali," marah Athar sambil mengibas ngibaskan debu di jas mahalnya.
"Kena macet, bos."
Athar hanya mendengus membuat Arik dan Aries tertawa. Melvin pun menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Ayo, kita obati luka luka lo dulu. Ada jas dan pakaian baru di mobil Lo bisa ganti," kata Arik memberikan solusi.
Athar ngga menyahut tapi langsung melangkah pergi. Tapi langkahnya tertahan melihat Melvin yang masih bergeming dengan wajah resah.
"Ayo, Vin. Lo juga harus diperiksa," serunya membuat Arik memghampiri Melvin dan langsung menyeretnya mengikuti mereka.
"Lo harus hati hati ngabari tante," kata Athar mengingatkan.
Melvin hanya menganggukkan kepalanya lemah.
Semoga jantung maminya kuat mendengarnya, harapnya dalam hati.
Aries mengetikkan pesan untuk bos besarnya, papi Kiano.
Aman terkendali, Om.
__ADS_1