Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Hari Patah Hati


__ADS_3

"Om, kenapa Om ijinkan Aruna menikah dengan laki laki brengsek itu," protes Farel marah. Dia sengaja langsung mendatangi ruangan omnya setelah melakukan operasi.


Berita pernikahan dokter Aruna sidah menyebar. Tadi waktu melakukan operasi, hampir Farel melakukan kesalahan fatal. Dia benar benar ngga bisa berkonsentrasi.


Om Burhan mengangkat alisnya. Ada kekesalan terpancar di wajah teduhnya.


"Katakan sama om, siapa yang lebh brengsek, kamu atau dia!"


Farel terdiam. Dia menggusar rambutnya frustasi.


Tentu dia yang lebih brengsek karena menghamili anak gadis orang dan berniat lari dari tanggung jawab.


"Orang tua Alea bukan orang sembarangan. Kamu mau rumah sakit kita dituntut di pengadilan?!" sentak Om Burhan lagi.


Farel ngga menjawab. Dia salah, ngga mencari tau latar belakang keluarga Alya.


Om.Burhan menghela nafas panjang. Dia mendekati keponakan tersayangnya. Baru kali ini Farel melakukan hal yang memalukan keluarga. Sangat fatal. Sampai rumah sakit ini pun bisa kena getah akibat perbuatannya.


"Kamu harus bertanggungjawab Farel," kata Om Burhan sambil menepuk lembut bahunya. Beliau juga kasihan melihat Farel yang semakin kurus dan berantakan akhir akhir ini.

__ADS_1


"Tapi aku mencintai Aruna, Om," lirih Farel penih rasa sakit.


Om Burhan kembali menghela nafas. Beliau maupun orang tua Farel sangat menyukai dokter Aruna. Selain cantik, kinerjanya baik, anaknya sangat santun. Bahkan mereka berniat melamarkannya buat Farel. Tapi Farel sendiri yang sudah merusak impiannya, impian keluarga besarnya.


"Jodoh sudah diatur Tuhan, Rel. Nurut kamu baik, belum tentu baik di mata Tuhan," nasihat Om Burhan lembut.


"Aku memang melakukan kesalahan, Om. Tapi aku akan bertanggungjawab untuk anak yang Alea kandung. Tapi aku sama sekali ngga berniat menikahinya. Hati aku hanya untuk Aruna," kata Farel sambil menutup wajahnya. Suaranya bergetar memahan tangis. Sakit sekali rasanya patah hati.


"Terserah kamu. Kalo kamu ngga mau menikahi Alea, rumah sakit kita akan tercoreng namanya. Mungkin bisa ditutup," kata Om Burhan menyerah atas kekeraskepalaan keponakannya. Dia pun kembali ke kursinya.


Farel melangkahkan kaki dengan gontai, meninggalkan ruangan omnya. Dia berjalan menuju ruangan dokter Aruna yang sepi. Gadis itu mengambil cuti karena besok akan menikah. Menikah dengan laki laki yang sama brengseknya dengan dirinya.


Dia benar benar bodoh. Dia sudah terlambat..Sangat terlambat memastikan dimana hatinya berlabuh.


Omnya yang tadi mengikutinya diam diam, kini membalikkan tubuhnya pergi, ngga sanggup melihat penderitaan keponakannya.


*


*

__ADS_1


*


Suster Uci menatap takut takut pada pujaan hatinya yang masih saja ngambek. Memang dia sudah melakukan kesalahan besar. Tapi masa ngga termaafkan?


Suster Uci membuang nafasnya perlahan. Seakan dia ngga mau ada gerakan yang tambah membuat pujaan hatinya ilfeel.


"Janu, sampai kapan mau marahnya?" akhirnya suster Uci ngga tahan juga kalo ngga merengek.


Januar sang pujaan hati masih diam ngga menyahut.


"Aku ngga marah. Kita, kan, cuma teman," putus Januar setelah beberapa menit lamanya terdiam.


DEG


Rasanya sakit tapi ngga berdarah.


Wajah suster Uci langsung pucat. Ngga percaya. Setelah sekian minggu melakukan pendekatan pendekatan intensif, hanya karena satu kesalahan kecil, hancur berantakan semuanya.


"Aku pulang dulu ya. Kamu pasti lagi nunggu cowo kamu yang bawa mobil mewah, kan," sindir Januar sebelum melangkah pergi meninggallkan suster Uci yang kini sudah berurai air mata mendengar kata katanya.

__ADS_1


Padahal Januar sudah mulai suka dengan perhatian perhatian yamg diberikan suster Uci selama ini. Tapi siapalah dia yang harus bersaing dengan seseorang yang sangat kaya raya dan memiliki mobil super mahal. Januar ngga mau nanti nantinya dia akan selalu dibanding bandingkan, itu akan melukai harga dirinya.


__ADS_2