Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Reno yang SHOCK


__ADS_3

Malam ini Reno merasa sangat heran. Sampai kafe tutup jam sepuluh malam tapi Rain ngga muncul juga. Laki laki brengsek itu malah pulang sendiri.


"Apa dia sakit?" gumamnya sambil menatap lagi parkiran yang kini sudah kosong.


Reno menatap lagi cincin di jarinya.


Wajah Nadia yang malu malu saat menyarungkan cincin ke jarinya terbayang lagi.


Apa dia sungguhan suka? batin Reno tetap saja merasa aneh.


Dulu kriteria Nadia adalah pilihannya. Tapi dia merasa aneh dengan hati dan pikirannya.


Padahal dalam hatinya dia sudah berjanji ngga akan menggunakan hati jika menyangkut perempuan.


Reno memegang ponselnya, dan tanpa sadar menekan nama Regan.


Ngga lama kemudian dia kaget sendiri mendengar suara Regan yang menyahutinya


"Ada apa? Lo lagi dimana? Anak anak lagi di club ngerjain Alva," suara Regan terdengar ngga jelas dan ada suara dentaman musik yang heboh bercanpur dengan suara orang orang yang membuatnya sangat berisik.


Reno terdiam sampai Regan mengulang lagi panggilannya. Saat ini terdengar lumayan jelas karena Regan sepertinya mulai menjauh dari kebisingan.


"Lo serius sama Dinda?" tanya Reno langsung setelah merasa Regan sudah berada di luar club.


Terdengar suara tawa Regan.


"Lo salah makan obat?" kekeh Regan membuat Reno mendengus kesal


"Lo tinggal jawab."


Kembali yang terdengar suara tawa Regan. Seperti mengejeknya. Atau dia yang sensitif.


Hampir saja Reno menutup telponnya jika ngga mendengar suara Regan yang akhirnya mau juga menjawab.


"Mungkin."


"Kenapa mungkin?" kejar Reno cepat.


"Dia lucu," kekeh Regan lagi.


Reno kembali mendengus.


"Reg, gue udah ngelakuin kesalahan fatal," katanya memulai sesi curhat setelah mendengar suara tawa Regan yang mereda.


"Hemm?"


"Gue udh tunangan. Tapi gue suka cewe lain."


"Beneran lo suka cewe lain?" Rasanya Regan sudah tau siapa cewe yang Reno maksud. Regan ingin langsung menembak, karena dia sudah curiga dengan sikap Regan kemarin di kafe.


"Ya."


"Rain?"


"Haaah?" kaget Reno ngga nyangka kalo Regan bisa menebak dengan sangat tepat.


"Sudah gue duga," kekeh Regan.


"Glen juga sudah curiga," sambung Regan lagi.


"APA?" Reno rasanya seperti di jatuhkan dari gedung lantai dua puluh hingga ke dasar.


"Apa yang akan lo lakuin sekarang?" tanya Regan menantang.


Reno terdiam. Belum tau apa yang akan dia lakukan nantinya.

__ADS_1


"Lo tetap bertunangan atau memilih Rain?" tanya Regan lagi. Seperti ngga sabar menunggu jawabannya.


"Gue ngga tau," jawab Reno setelah cukup lama terdiam.


"Lo udah unboxing Rain?" tuduh Regan sangat yakin. Cuma agak aneh juga. Seorang Reno ngga mungkin akan merasa bersalah setelah meniduri perempuan. Apalagi sekarang jadi suka.


Diamnya Reno meyakinkan Regan kalo tebakannya benar.


"Dia virgin?"


"Yes."


"Lo sangat beruntung," kekeh Regan menghina.


Rain yang apes


"Dengan Dinda udah lo unboximg?"


"Belumlah. Gue lihat lihat juga, 'kali," sahut Regan dalam tawanya.


"Tapi ada yang aneh. Kata Glen, Rain ngga jadi melelang virginnya. Kenapa sama lo dia mau?" tanya Regan penuh selidik.


Gue yang maksa, batinnya. Tapi ngga mungkin akan dijawab seterus terang itu. Dia bisa bonyok dihajar Regan dan Glen.


"Lo pake pengaman, kan, waktu itu?"


Reno kembali terdiam, tapi kepalanya menggeleng. Tentu saja Regan ngga melihatnya.


Tapi diamnya Reno menambah keyakinan Regan, kalo dia ngga memakainya.


Dasar ceroboh.


"Berarti lo lagi deg degan, nunggu kabar Rain hamil atau engga?" ejek Regan.


"Sekarang lo telpon gue buat apa?" tanya Regan setelah beberapa lamanya menunggu Reno yang ngga kunjung menjawabnya.


"Gue ngga sengaja nelpon lo."


Regan tertawa lagi mendengar jawaban bodoh Reno.


"Reno, kalo Rain hamil apa kamu akan tanggung jawab?"


Terbayang laki laki yang mengantar Rain dari kafe di kepala Reno.


Itu side jobnya ngga, sih?


"Gue memang yang pertama buat dia. Tapi sepertinya dia ngelakuin juga sama yang lain," jawabnya ringan.


"Lo nuduhnya yakin banget. Glen aja ditolak sama dia," sergah Regan menjadi kesal. Dia merasa Reno akan melepas tanggungjawabnya kalo Rain hamil.


Reno ngga menjawab.


Apa dia begitu? batinnya sangsi.


"Oke, gue mesti ke dalam. Lo bisa nyusul di club biasa kita nongkrong," tukas Regan sambil memutuskan sambungan telponnya.


Reno masih diam sambil menatap ponselnya.


Sepertinya Regan kesal karena merasa Reno ngga mau bertanggung jawab atas Rain.


Tapi memamg dia brengsek, kan, batinnya.sambil menyimpan ponselnya. Dia memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya dari pada nanti bertemu Regan.


Tapi dia ngga menyesal setelah mengakuinya pada Regan. Rongga dadanya yang penuh mulai berkurang isinya, hingga dia bisa sedikit bernafas lega. Dia memang butuh didengarkan. Tapi bukan dinasehati untuk saat ini.


*

__ADS_1


*


*


Reno menjemput Nadia, karena papanya memaksanya mengajak Nadia untuk menemaninya di acara Alva.


Dia pun sedang berkumpul dengan teman temannya yang membawa pasangannya. Kecuali Regan dan Glen.


"Lo ngga ngajak, Dinda?" tanya Arga heran melihat kedatangannya hanya sendiri.


"Engga."


Tadnya Regan sebenarnya sudah akan menjemput Dinda, tapi dia melihat iringan tiga mobil mercedes benz keluaran terbaru yang barusan memasuki gerbang rumah gadis itu membuat dia membatalkan keinginannya.


Sepertinya keluarga gadis itu sedang menerima tamu penting.


Regan sempat melihat kedatangan mobil mobil mewah itu sebelum pagar rumah itu tertutup.


Dia juga ngga berjanji akan mengajak.gadis itu pergi dan merasa bersyukur ngga mendapatkan penolakan andaikan dia memintanya menemaninya di acara Alva. Karena ternyata Dinda juga punya acara di rumahnya.


"Oooh."


"Eh, itu, kan, Lilo? " sergah Glen heran melihat kehadiran Lilo bersama seorang gadis yang sudah didandani sangat cantik. Rain.


"Dia kenal Rain?" Mata Glen menatap Kiano bingung.


Mata Reno ngga bisa dialihkan saat mendengar Glen menyebut nama Rain. Dia terpaku. Regan meliriknya sinis.


"Kalian kenal gadis yang bersama Lilo?" Kiano balik bertanya heran melihat reaksi Glen yang seolah olah sangat mengenalnya dan sedikit terkejut.


"Ya. Tentu saja. Dia mahasiswi Qonita," kali ini Arga yang menjawab.


"Kamu juga kenal, Kiano?" tanya Glen sambil menatap Kiano heran.


"Ya."


Kiano ingin menjelaskan tapi Lilo sudah mendekat bersama Rain.


"Rain?" sapa Qonita agak pangling melihat mahasiswinya. Begitu juga Nadia.


Dia gadis kasir di kafe itu, kan? batinnya masih mengingat. Walaupun gadis itu berpenampilan luar biasa, tapi Nadia masih bisa mengenalinya.


Rain tersenyum malu pada Qonita.


"Kamu cantik sekali," puji Aruna dengan senyum tulus.


"Mba Aruna," sapanya sambil membalas senyum Aruna.


"Dia anaknya Pak Ruslan," jelas Kiano membuat Glen, Arga, dan Regan mengangguk mengerti.


Tapi ngga dengan Reno. Jantungnya berdetak ngga karuan.


"Yang Aruna bantu?" tanya Reno ingin memastikan. Dia merasa suaranya seperti orang yang sedang dicekik lehernya dengan sangat kuat.


"Iya, yang gue cerita dulu," tambah Kiano lagi membuat Reno lemas.


Kini dia mulai mengerti kenapa perasaan bersalah begitu menghantuinya selama ini setelah dia berlaku sangat kejam pada Rain.


Regan meliriknya sinis.


Gimana lo akan mempertanggungjawabkan perbuatan lo padanya, batinnya menghakimi.


Siapa yang akan lo pilih? sambung Regan lagi sambil melirik Nadia.


__ADS_1


__ADS_2