Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Ganti Alva yang ngamuk


__ADS_3

Sepanjang acara makan malam, Arga sesekali melirik tajam Qonita. Tapi gadis ini hanyanya menunduk, berkonsentrasi dengan makanannya saja.


Bahkan pertanyaan mama dan papanya hanya di jawabnya singkat walaupun bibirnya tetap tersenyum manis.


Sampai kemudian, keduamya diminta ngobrol berdua.


Karena malas bertanya dengan Arga yang hanya diam saja, Qonita berjalan ke luar rumah, dan duduk di teras.


Dia pun mengeluarkan ponselnya dan kemudian bibirnya tersenyum membaca pesan pesan yang masuk.


Sementara Arga sesekali memperhatikan sambil meletakkan kedua tangan di saku celananya. Laki laki itu berdiri di depan Qonita.


Tiba tiba ponselnya bergetar, ternyata ada pesan masuk dari Alva.


Ngapain dia nge chat?


Dengan heran Arga pun membuka pesan dari Alva


Alva


Ga, apa yang akan lo lakuin kalo calon istri lo punya pacar? Apa gue langsung bilang ke mami aja biar langsung putus.

__ADS_1


Arga seperti sedang ditertawakan Alva. Karena kejadian yang menimpa Alva juga menimpanya.


Ngga lama kemudian muncul foto foto Tamara yang sedang ngobrol dan makan berdua dengan laki laki yang menurut penilaian Arga ngga ada sedikitpun tampang brengsek seperti Alva.


Lo moto sendiri? Tulis Arga cepat Ngga nyangka kalo Alva jadi posesif begini. Padahal mereka baru tunangan.


Bahkan berkoar koar ngga suka dengan tipe Tamara yang kekar.


Lagian menurut Arga, foto yang dikirimkan Alva ngga seekstrim yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa yang sudah Qonita lakukan di belakangnya.


Tamara masih menunjukkan sikap yang wajar. Mungkin saja mereka sudah lama berteman. Tangan mereka pun ngga saling bersentuhan.


Kalo Qonita malah tubuhnya saling menempel dan tertawa haha hihi dengan laki laki yang membuat Arga tiba tiba jadi membencinya.


"Lo pikir gue ngga ada kerjaan?" sarkas Alva ngamuk di seberang sana. Ngga terima dituduh begitu.


Arga tersenyum. Sekarang dia akan memulai taktik murahan yang biasa dilakukan Reno, Glen dan Alva.


"Ya sayang. Maaf ya, malam ini ngga bisa. Besok aja, ya."


Arga tersenyum senang karena sudut matanya menangkap riak kaget di mata Qonita yang langsung meliriknya akibat sapaan sayang tadi.

__ADS_1


"Ji-ji gue dengar. Wooii Arga, jangan buat gue nonjok lo besok," seru Alva geram.


Mau curhat demi meredakan ketegangan dalam hatinya, malah emosinya naik berlipat ganda. Merasa dipermainkan Arga dalam waktu yang ngga tepat. Padahal Alva sangat butuh sharing, karena baginya Arga cukup bijak, seperti Kiano dan Regan.


"Oke. Kita ketemu besok, ya, sayang. Sorry, ya, lagi ada calon istri gue, gue tutup dulu. Susah kalo nanti dia ngambek," kata Arga dengan gaya coolnya.


"****** lo! Sialan! Lo mau drama, ya. Asem lo!"


Segala sumpah serapah Alva lontarkan sebelum menutup sambungan telponnya. Menyesal dia sudah curhat dengan Arga.


Arga menahan tawanya mendengar kemarahan Alva yang bertubi tubi.


"Dah, cantik," tutup Arga setelah Alva menutup telponnya lebih dulu.


Dalam hati dia terbahak bahak membayangkan wajah membara Alva.


Sorry, kali ini gue manfaatin lo. Gantian. Dulu, kan, lo sering manfaatin gue juga. Sekarang kita impas, batinnya sangat senang.


Apalagi kini sudut matanya menangkap kekesalan di mata yang tadi meliriknya sebelum beralih ke ponselnya.


Dia menelpon siapa? Ciih, dia ini bukan laki laki gagal move on. Tapi laki laki brengsek. Pura pura gamon padahal players, umpat Qonita dalam hati.

__ADS_1


Tangannya menggenggam keras ponselnya saking menahan kesal yang amat sangat.


__ADS_2