Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Pertolongan.ngga terduga


__ADS_3

Dengan lunglai Rain berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang ICU. Dia akan menemani mamanya untuk menguatkannya menunggui papa.


Berkali kali Rain menatap ponselnya dengan perasaan ngga menentu. Sudah dua jam yang lalu Rain mengirimkan pesan pada Reno. Pesannya sudah terbaca tapi belum ada balasan apa apa.


Rain merasa menjadi perempuan yang sangat murah dan mengenaskan. Keperawanannya ngga laku di jual.


Apa dia minta terlalu mahal?


Hatinya resah sampai akhirnya melihat mamanya yang tertidur di kursi tunggu di depan ruang ICU.


Rain pun duduk di pojok sambil mengangkat kedua telapak kaki ibunya ke atas pahanya. Dengan lembut dia pun memijatnya.


"Rain?" Mata mamanya mengerjap saat melihat putrinya sudah datang.


"Sudah, mama tidur aja. Biar Rain mijatin kaki mama dulu," katanya lembut.


Mamanya tersenyum lembut.


"Kamu dari mana? Kok, baru datang?"


"Ngerjain tugas bareng teman teman dulu, ma."


"Sudah selesai?"


"Sudah."


Rain tersenyum membalas senyuman getir mamanya.


Ngga lama kemudian seorang dokter perempuan yang sangat cantik keluar dari ruang ICU. Rain membaca name tag nya. Dr. Aruna Artha Mahendra.


"Dokter, gimana keadaan suami saya?" tanya mamanya yang langsung menurunkan kedua kakinya ke lantai dan bergegas berdiri.


Aruna tersenyun lembut. Setiap berada di ruang ICU, selalu keharuan membuncah dalam dirinya. Perasaan ngga tega melihat yang tersayang sedang berjuang untuk hidup dan mati di dalam sana. Juga keluarga yang menunggu harap harap cemas.


"Ibu tenang saja dan banyak berdo'a, ya. Suami ibu sudah mulai stabil. Kita tunggu satu jam lagi, dan lihat kondisinya. Jika semuanya membaik, operasi akan segera dilakukan."


Ngga ada suara yang terdengar. Rain dan mamanya tercekat. Mereka gembira mendengar kabar ini tapi sekaligus bingung karena mereka belum mempunyai uang untuk operasi.


"Saya pergi dulu," pamit Aruna saat melihat keduanya menatapnya resah.


"Bu dokter, terimakasih," ucap mama Rain dengan bibir bergetar.


Aruna tersenyum dan berjalan pergi. Dia ngga tega melihat kesedihan di mata kedua orang di depannya.


Apa belum ada biaya? batin Aruna menebak dengan rasa kasian.


Begitu Aruna menghilang di balik tembok ruangan lain, mama dan Rain terduduk lemas.


"Bagaimana ini, Rain? Kita sudah ngga punya apa apa lagi untuk dijual," isaknya sedih.


Ada ma, keperawananku. Tapi belum laku. Haruskah aku jual murah saja? batin Rain resah.


Mereka saling berpelukan dan menangis.


Aruna ternyata sengaja menunggu di balik tembok dan mendengar apa yang membuat mereka tadi terdiam.


Mendengar tangisan putus asa keduanya, mata Aruna jadi ikut memanas dan berkaca kaca.


"Kenapa istriku yang cantik ini mojok? Ada dokter nakal yang gangguin kamu?" tukas Kiano sambil mengangkat dagu Aruna.


Ada riak keterkejutan dalam seoasang matanya melihat mata Aruna yang sudah penuh dengan air mata.


Dia pun menarik Aruna dalan pelukannya dengan bahu bergetar.


"Katakan! Siapa yang berbuat jahat sama kamu!" geram Kiano. Baru sehari Kiano membiarkan Aruna bekerja di rumah sakit sahabat papinya, tapi Aruna sudah menangis.


Dada Kiano bergejolak menahan marah. Karena perasaannya ngga tenang di kantor membiarkan istrinya yang sedang hamil muda bekerja, Kiano sengaja datang untuk melihatnya. Dengan alasan mengajaknya makan siang jika Aruna menggodanya yang suka cemburuan.


"Ngga ada yang jahat, Kiano. Kamu, kok, tau aku ada di sini?" tanya Aruna sambil menguraii pelukan Kiano. Dia sangat terkejut melihat kehadiran suaminya yang tiba tiba sudah berada di dekatnya.


Dia terlalu serius dan larut dalam perasaannya sehingga ngga menyadarinya. Bahkan bau parfum favoritnya yang selalu digunakan Kiano ngga tercium sama sekali di hidungnya.


"Aku selalu tau dimana kamu berada," kata Kiano sombong sambil menghapus air mata Aruna.


Salah seorang perawat mengatakan padanya kalo dokter Aruna sedang berada di ruang ICU, saat tadi dia bertanya di bagian resepsionis.


Aruna tersenyum mendengarnya. Hatinya senang karena Kiano datang untuknya.


"Kenapa kamu sampai nangis?" tanya Kiano lembut. Amarahnya menghilang sudah saat melihat senyum manis di wajah Aruna.


"Itu, coba kanu lihat ibu dan anak yang sedang menangis," kata Aruna mengarahkan tubuh Kiano sedikit mengintip ke arah Rain dan mamanya.

__ADS_1


"Mereka siapa?" tanya Kiano yang sama sekali ngga kenal setelah memperhatikan keduanya dengan seksama.


"Suaminya mau dioperasi, tapi sepertinya mereka ngga punya uang," jelas Aruna pelan.


Saat ini ibu dan anak itu sudah duduk dan masih menangis.


"Terus?"


"Tabunganku kurang untuk menolong mereka," lirih Aruna terus terang.


Selama bekerja di rumah sakit yang dulu, Aruna sering menguras tabungannnya untuk membantu pasien pasien yang ngga mampu. Tapi kini uangnya hanya cukup setengahnya saja untuk membantu operasi papanya Rain.


Kiano tersenyum lembut. Kemudian mengecup kening Aruna lama.


Sayangnya Kiano memang berhati malaikat, batinnya.


Kiano pun merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu.


"Pake ini ngga apa, kan?" tanya Kiano sambil mengulurkan kartu atmnya


"Banyak isinya?" canda Aruna membuat Kiano mencubit pipi istrinya.


"Kamu meremehkan bos, ya" balas Kiano sombong.


Aruna pun menggelungkan kedua tangannya di pinggang Kiano.


"Terimakasih," ucapnya haru.


Kiano balas memeluk Aruna.


"Semoga anak kita seperti kamu, yang pintar dan suka menolong," ucap Kiano sangat lembut dan dalam.


Bisa bisanya Aruna menangis karena ngga bisa menolong orang. Padahal tadi dirinya sudah darah tinggi mengira ada yang sudah berbuat jahat pada istrinya yang sedang hamil muda.


"Kita ke administrasi dulu, setelah itu kita makan siang, ya, sayang," ujar Kiano sambil membawa Aruna melangkah pelan meninggalkan tempat itu.


"Ya, Kiano," balas Aruna menurut.


"Anak kita belum minta apa apa?" tanya.Kiano sambil merangkul bahu Aruna.


"Udah tadi, kan."


Alis Kiano berkerut, dia bingung.


"Kapan?"


"Barusan."


Kiano menghentikan langkahnya dan menatap wajah Aruna serius.


"Aruna, jangan becanda."


Aruna tersenyum manis sambil menunjukkan kartu atm yang baru saja Kiano berikan.


Kiano tertawa dibuatnya. Dia pun mengacak gemas rambut Aruna.


"Gimana aku ngga sayang banget sama kamu."


"Gombal."


"Aku serius, Aruna. Hei, Aruna, tunggu."


Aruna tertawa renyah sambil melangkah duluan meninggalkan Kiano.


Tapi ngga sampai dua langkah, dia terpekik karena tubuhnya terangkat ke atas tiba tiba.


"Kiano. Turunin. Malu."


"Biar aja," jawab Kiano cuek sambil terus menggendong Aruna ala brydal. Sementara Aruna menyembunyikan wajahnya di dada Kiano karena malu menjadi pusat perhatian orang orang di lorong yang mereka lewati.


*


*


*


Saat masih menangis, Rain merasakan getaran di ponselnya.


Jantungnya seakan berhenti berdetak.


Pesan dari Reno, batinnya deg degan.

__ADS_1


Reno


Gue tunggu di kamar lo dan Glen kemaren.


Rain menelan salivanya dengan susah payah.


Dua pun langsung mengetikkan oke sebagai balasan.


"Ma, Rain pergi bentar, ya," ucap Rain sambil menghapus air matanya.


"Mau kemana?"


"Teman Rain katanya mau bantu, ma," dusta Rain terpaksa.


Maaf, ma.


Wajah mama Rain terlihat cerah


"Betiulkah?"


Melihat keceriaan di wajah yang selalu murung membuat Rain sedikit menghilangkan rasa bersalahnya.


Tuhan, Rain tau ini salah. Maaf, kan, Rain, batinnya terus meminta ampun.


"Iya, ma. Rain pergi dulu, ya," pamit Rain lagi kemudian mencium tangan mamanya.


"Hati hati, sayang."


"Iya, ma," balas Rain kemudian berjalan cepat meninggalkan mamanya. Rain ngga sanggup bertatapan dengan mamanya lebih lama lagi. Pasti nanti kebohongannya akan terbongkar.


Tapi langkah tergesa gesa Rain terhenti mendengar namanya di panggil.


"Rain, ya?"


Rain menoleh, ternyata dokter tadi.


Siapa itu laki laki tampan di sampingnya?


Suaminya?


Rain menghela nafas panjang.


Dokter, hidup anda sangat beruntung.


"Kamu mau kemana?" tanya Aruna heran melihat Rain yang buru buru akan pergi keluar dari rumah sakit.


"Emm... Ketemu teman, dokter. Dia mau bantu kami buat biaya operasi."


Aruna tersenyum sambil melihat Kiano yang sedang menatapnya.


"Sudah, ngga perlu. Sekarang kamu temenin mama kamu, ya. Operasi akan dimulai."


Rain terkejut. Dia bergeming sambil menatap dokter Aruna bingung.


"Tapi saya belum bayar dokter," kata Rain ngga bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Alhamdulillah ada yang bayarin. Kamu ngga usah khawatir lagi. Biaya rumah sakit papa kamu sudah ada yang nanggung."


DUG


Rain terjatuh dengan kedua lututnya menekan lantai dengan menahan berat tubuhnya.


Benarkah? Sungguhkah ini?


Air mata penuh syukur mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.


Kiano membiarkan Aruna mengangkat tubuh Rain untuk berdiri.


"Sudah sana. Temanin mama kamu," ucap Aruna dengan senyum tulusnya.


Rain ngga bisa menahan perasaannya lagi. Dia pun memeluk Aruna sambil menangis keras.


"Terima kasih dokter, terima kasih," ucapnya seolah tau kalo dokter Aruna yang sudah membantu dirinya dan mamanya.


Aruna mengurai pelukannya.


"Udah sana," usir Aruna lembut.


"Siap dokter. Semoga dokter dan suami sehat selalu. Amiin," do'anya sebelum pergi.


"Amiin," kata Aruna dan Kiano berbarengan menatap Rain yang setengah berlari kembali ke tempat mamanya berada.

__ADS_1


Tangannya dengan cekatan meraih ponselnya dan mengetikkan pesan singkat untuk Reno


Maaf.


__ADS_2