Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Regan dan Masalah Alva yang belum Selesai


__ADS_3

"Kalian minum ngga ngajak ngajak gue."


Keduanya menoleh mendengar suara tengil yang menyapa.


"Lo udah sembuh?" kekeh Arga ketika melihat Alva duduk di sampingnya.


Tangannya yang hendak meraih botol minuman alkohol ditepis Regan membuat Alva mendelikkan matanya kesal.


"Lo baru aja keluar dari rumah sakit," larangnya tegas.


"Kenapa memangnya? Ada aturan ngga boleh minum?" tantang Alva galak.


"Adalah. Makanya waktu sekolah tuh yang benar," jawab Regan asal sambil menahan tawanya.


"Lo minumnya air mnieral dulu aja," kata Arga sambil memyodorkan sebotol air mineral pada Alva. Tadi saat Alva sedang berdebat dengan Regan, Arga meminta air mineral pada pelayan yang lewat di depannya


Alva mendengus kesal sambil menurut dengan menerima air mineral itu


"Rumah sakit udah kayak hotel buat lo," kekeh Regan akhirnya ngga tahan lagi untuk menyemburkan tawanya.


"Heran gue. Kok, bisanya dokter ngijinin lo keluar dari sana," ledek Arga mengejek dalam tawanya.


Alva hanya mendengus setelah meneguk separuh air mineral yang disodorkan Arga.


"Beneran ya lo, rumah sakit udah jadi hotel kedua lo," gelak Regan sambil menggelengkan kepalanya.


Arga pun tambah semangat mentertawakannya.


"Masih sakit punggung lo?" tanya Arga setelah tawa mereka mereda.


"Mana ada. Kalian yang terlalu melebih lebihkan," decih Alva songong.


Regan dan Arga hanya saling pandang sambil senyum.


"Lo udah ada hati sama Tamara? Segitunya lo nyelamatin dia," ledek Regan menuduh.


Alva kembali berdecih.


"Gue laki, siapa pun dalam posisi itu bakal gue tolong," ketusnya kembali meneguk minumannya. Perasaannya jadi terganggu saat Regan menyebut nama Tamara.


"Tapi lo hebat, Al. Padahal Kiano agak telat, tapi Aruna masih baik baik aja," puji Arga .


"Apalagi ternyata Aruna hamil," tambah Regan.


"Lo bisa minta saham ke Kiano," kekeh Arga dibalas kedua sahabatnya.


"Syukurlah kehamilan Aruna ngga apa apa," ucap Alva pelan.


"Aku ngga bisa bayangin gimana ngamuknya Kiano kalo tau Aruna sampai kehilangan bayi mereka gara gara masalah ini," tambah Alva lagi yang disetujui Regan dan Arga dalam hati. Mungkin Claudya bisa mati saat itu juga.


"Tamara juga ngga gitu parah. Lo yang babak belur," cetus Arga tulus..Ngga nyangka Alva akan menjunjung tinggi perintah Kiano. Sampai mau mengorbankan dirinya.


Alva ngga menjawab. Seingatnya dia reflek saja tiap menyelamatin cewe galak sahabat Aruna itu.


"Regan, lo mau ngga gantiin gue. Gue ngerasa ngga pantas buat dia," kata Alva tanpa sadar.


Regan dan Alva kembali saling pandang.


"Gue jadi pengantin pengganti lo gitu?" kekeh Regan mengejek.


Tamara cantik, mandiri. Walaupun sempat dijodohkan kakek Kiano, tapi Regan belum merasa klik dengan Tamara.


Apalagi dia juga ngga bisa menjamin dirinya jadi suami setia. Latar belakangnya sudah jelas punya papa yang doyan kawin dan juga doyan punya anak.


"Boleh juga. Pas ijab kabul lo gantiin gue," tukas Alva dengan cengiran di wajahnya.


Regan dan Arga pun tergelak.

__ADS_1


"Sorry ya Al. Gue masih pingin bebas," tolak Regan ringan.


Dia belum siap menikah dan berkomitmen.


"Gue juga. Gue kalo pun nikah, tiga tahun lagi lah. Ngga bulan depan juga," keluhnya mulai frustasi lagi


Arga menangkap gelagat Alva yang ingin melarikan diri dari pernikahannya. Sangat jelas


"Lo ngga niat kabur, kan?" todong Arga tajam.


"Ide lo boleh juga," kekeh Alva membuat kedua sahabatnya menggelengkan kepalanya.


Mereka.sudah sangat mengenal Alva. Sudah kebiasaannya menghindar dari masalah dengan cara ekstrim dan ngga dipikir akibatnya..Salah satunya ini. Memutuskan Meti dengan alasan mau bertanggung jawab pada Tamara. Padahal cuma akal akalannya saja. Akhirnya pusing sendiri karena kedua orang tua mereka menanggapi dengan serius.


"Lo bisa aja, sih, kabur," kata Regan penuh makna.


"Kalian bantuin, ya," balasnya berharap.


"Bisa," jawab Regan tenang.


"Gan, apa an, sih, lo," bisik Arga sambil menggelengkan kepalanya. Menolak ide gila Regan.


"Tapu setelah itu gue yakin lo bakal dinikahkan dengan Meti," kekeh Regan membuat Arga kini mengerti maksud ucapan Regan.


Ternyata Regan hanya memberikan Alva beban yang lebih berat lagi. Arga pun terkekeh.


Alva meremas botol mineral yang sudah kosong dengan kesal.


Bemar juga, batinnya.


Setelah ini ngga ada lagi jalan buat menjauhkan Meti dan keinginan konyolnya.


Bisa bisanya anak sekecil itu ngotot ingin menikah dengannya. Padahal ngga ada kamus menikah dalam otak Alva untuk waktu dekat ini.


"Kalian di sini rupanya," tegur Reno yang baru datang bersama Glen.


"Gue juga," tukas Reno ketika pelayan itu menatapnya.


"Si Alva mau kabur," kekeh Arga.


"Ngga mau nikah dia," tambah Regan ikut ngakak.


Glen dan Reno ikut teegelak melihat raut wajah frustasi Alva


"Kasian lo. Kebebasan lo berakhir bulan depan," timpal Glen di sela tawa berderai derainya.


Alva makin frustasi dan dongkol.melihat kesenangan di wajah sahabat sahabatnya akan kesusahannya.


Ngga ada yang bisa membantunya. Bahkan Kiano yang paling waras pun sudah angkat tangan.


Apa jadinya nanti pernikahan gue, ratapnya dalan hati.


"Sebenarnya lo bisa mengajukan perjanjian pra nikah," usul Reno membuat suara tawa riuh itu terhenti.


"Pisah ranjang gitu?" respon Alva cepat.


Buat apa nikah kalo ngga bisa kalo ngga bisaa unboxing, batinnya sambil menatap Reno kesal.


Keempat sahabatbya menatap Alva aneh setelah mendengar ucapan bernada kecewanya.


"Lo udah siap di kick down sama Tamara?" sarkas Reno ngga abis pikir.


Tamara itu bukan cewe lemah, bro, batinnya mengomel.


"Bisa bisanya lo mikir mau malam pertama sama dia," kekeh Glen membuat Regan dan Alva tersenyum miring.


Dalam hati Alva salut juga dengan keinginan tersembunyi Alva terhadap Tamara.

__ADS_1


"Jangan jangan lo udah suka ya sama Tamara?" tuding Alva penuh selidik.


"Ngawur. Kalo nikah kan pasti begituan. Apalagi mami papi gue, pasti langsung minta cucu," sangkal Alva cepat.


Apa iya dia sudah suka sama cewe kekar itu? Ngga mungkin, bantah Alva dalam hati.


"Heemmm......"


Bukan hanya Arga saja, bahkan Regan, Reno dan Glen menatap Alva dengan sorot tajam penuh selidik.


"Kalian apaan, sih," geram Alva kesal.


Ketiga sahabatnya sama sama melebarkan senyum melihat reaksi salah tingkah Alva. Dan setelahnya tergelak.


"Sialan sialan," umpatnya jengkel.


Setelah beberapa menit lamanya, setelah sakit perut mereka yang tadinya kerasa di kocok mulai mereda, mereka meneguk minuman mereka kembali.


"Intinya di surat kontrak, lo tulis, kalo kalian berdua hanya nikah setahun saja. Kemudian cerai," lanjut Reno enteng.


Tapi mungkin itu yang akan dilakukannya kalo nantinya dia dijodohkan dengan orang yang ngga disukainya.


Baginya hidup hanya sekali, harus dinikmati dengan bersenang senang. Bukannya untuk menyesal di kemudian hari.


Arga menoyor jidat Reno yang pikirannya sangat mudah akan dikontaminasi Alva.


"Gue benar, kan. Dari pada bertahun tahun lo tersiksa. Setahun aja udah cukup," ngeyel Reno mengutarakan isi otaknya.


Glen hanya terkekeh sedangkan Alva hanya diam, mulai memikirkan saran gila Reno.


Boleh juga, batin Alva mulai berkurang rasa stresnya.


"Eh, Regan. Kata dady, adik tiri lo masuk penjara, ya?" tanya Glen mengalihkan topik. Alva dan Reno yang belum tau menatap Glen ngga percaya.


"Serius?" kaget Alva. Di hatinya ada rasa senang karena papinya selalu saja membandingkannya dengan Riko yang masih muda sudah jadi direktur sukses.


"Syukurlah kalo begitu," respon Reno ikut bahagia. Dia tau selama ini Regan sudah sangat muak dengan adik tiri yang selalu dibangga banggakan papanya. Bahkan dadynya pun juga kadang membandingkan kinerja dirinya di perusahaan dengan Riko.


Arga hanya diam seperti Regan yang malah meneguk kembali minuman alkoholnya.


"Pasti akan ada drama baru, ya," gumam Arga yang sudah sangat paham dengan masalah keluarga Regan.


Regan ngga menyahut.


"Pastilah. Mami tiri lo pasti akan mendatangi lo. Mungkin nangis nangis," sarkas Alva yang mulai ikutan minum minuman beralkohol tanpa ada yang mencegahnya lagi.


"Masalah apa?" tanya Reno kepo. Soalnya agak aneh jika Riko melakukan hal yang menyimpang.


"Korupsi mega proyek di Singapura," jelas Glen. Dadynya sempat membicarakan hal itu dengannya tadi setelah dia pulang dari kantor polisi.


"Ngga aneh kalo akhirnya Riko korupsi. Mami tiri lo hedon banget. Maklum orang susah mendadak jadi milyuner suka lupa daratan," hina Reno terang terangan.


Regan ngga marah. Para sahabatnya bebas berkomentar apa pun. Memamg itu kenyataannya.


Mami Riko yang dulunya kekasih papanya hanyalah orang miskin yang bekerja serabutan sambil sekolah. Karena itu kakek dan nenek dari papanya ngga setuju dan menjodohkan papanya dengan mamanya.


Tapi perempuan susah itu terus saja mengganggu kehidupan orang tuanya, hinga dua tahun kemudian papa harus menikahinya karena kekasih miskinnya itu hamil.


Mamanya sendiri memilih bercerai dan membesar anak anaknya sendirian. Padahal saat itu mamanya sedang hamil Aira. Regan kecil yang ngga tau apa apa, merasa heran kaena papanya sangat jarang pulang ke rumah. Hingga dia kelas empat sd akhirnya mulai mengerti keadaam yang sebenarnya.


Walaupun pada awalnya Regan juga pintar dan selalu juara umum sejak kelas satu hingga kelas empat sd. Tapi setelah tau kenyataan yang sebenarnya membuat Regan mensia siakan otak encernya.


Dan yang menyebalkan adik tirinya juga sangat pintar seperti dirinya. Hingga akhirnya papanya lebih mengutamakan Riko dari pada dirinya.


Tapi Regan ngga masalah dan ngga ambil pusing. Dia pun ngga peduli posisi direktur utama di Paramadya grup jatuh ke tangan Riko, bukan dirinya.


Dia sudah cukup puas jadi CEO di perusahaan mamanya dan jadi direktur di perusahaannya bersama sahabat sahabatnya.

__ADS_1


Walaupun perusahaan mamanya ngga sebesar perusahaan papanya, tapi yang dihasilkan sudah lebih dari cukup. Regan sudah bisa membahagiakan mamanya dan Aira adiknya.


__ADS_2