
"Kamu sangat cantik," puji Kiano ketika Aruna mengenakan gaun yang mereka pilih saat di butik tadi siang.
Aruna tersenyum malu sambil menatap dirimya di cermin. Gaun biru dongker itu masih terlihat sedikit longgar dan panjangnya sampai ke mata kaki dengan model duyung, mengembang di bawah.
"Sebentar," kata Kiano sambil mengambil sebuah kotak kecil berwarna silver dalam jasnya.
Aruna masih ngga memperhatikan sampai tubuhnya tersentak saat kulit bawah lehernya terasa dingin oleh untaian batu berlian yang baru saja Kiano kalungkan di bawah lehernya.
"Kiano?" suara Aruna tercekat saking terkesimanya melihat kliauan berlian kecil yang mengitari satu berlian besar berwarna biru muda terang di tengahnya.
"Kamu suka?" tanya Kiano sambil menempelkan dagunya di leher Aruna.
"Cantik sekali," ucap Aruna kagum dengan amta berbinar. Dan jangan tanyakan lagi jantungnya yang seolah sedang berlarian saat kulit mereka bersentuhan.
Rambut panjangnya dialihkan ke samping kanan bahunya, sehingga dagu Kiano sangat bebas berada di bahu sebelah kiri Aruna.
"Kamu yang paling cantik," puji Kiano tulus dengan suara sangat dalam membuat hati Aruna semakin berbunga dan wajahnya tambah merona.
Aruna pun dapat merasakan degupan jantung Kiano di punggungnya. Laki laki itu mengelus perutnya lembut.
"Sehat selalu, ya, nak," bisik Kiano penuh perasaan. Dia sekarang sudah merasa dirinya sudah menjadi orang tua yang harus bertanggung jawab pada Aruna dan buah hati mereka.
Dia begitu bahagia membayangkan benih unggulnya tumbuh di rahim Aruna.
"Kamu boleh jadi dokter seperti mami, atau pengusaha seperti dady," bisiknya lagi.
"Kenapa ngga papi atau papa saja?" protes Aruna manja.
"Kamu ngga suka dady? Ya ngga apa, papa atau papi juga boleh," respon Kiano kemudian mengecup lembut bahu Aruna.
"Emm... Kalo papi aja gimana?" tanya Aruna. Dia senang saat Kiano memanggil papanya dengan sebutan papi.
"Boleh," jawab Kiano lagi tanpa beban.
"Aku suka waktu kamu manggil papa kamu papi. Kelihatan kamu anak manja. Padahal di depanku sok belagak dewasa," kekeh Aruna mencelanya membuat Kiano mencubit pipinya.
"Isshh... Sakit," ringis Aruna manja.
__ADS_1
Kiano terkekeh.
"Apa iya?" balasnya dengan hati senang.
"Aku memang anak manja. Tapi sama kamu harus terlihat gagah dan mandirilah. Biar macho," kekeh Kiano yang dibalas dengan kekehan Aruna juga.
"Dasar," cela Aruna lagi dalam tawanya yang renyah.
*
*
*
Alva terpaksa datang dan harus menerima segala ejekan sahabat sahabat ngga tau dirinya di acara Kiano.
Kiano mengancamnya ngga akan mempedulikannya lagi kalo sampai dia ngga datang, waktu tadi pagi Alva sengaja menelpon Kiano meminta ijin bolos di acaranya.
"Gue ngga bakal anggap lo sahabat gue lagi. Gue akan coret nama lo kalo berani beraninya lo ngga datang."
"Lo gila! Lo pikir Aruna kucing, beranak tiap tahun!"
"Gue ngga mau tau, lo harus datang!"
Klik. Sambungan telpon diputus langsung oleh Kiano.
Gimana Alva ngga pusing. Selama ini dia selalu bergantung pada Kiano. Padahal tanpa setahu Alva, setelah telpon diputus, Kiano ngakak hebat di rumahnya.
Kiano sudah ngga tahan lagi untuk tertawa, karena itu langsung memutuskan telponnya agar akting marahnya ngga katahuan Alva.
"Lo kena karma," kekeh Glen yang sudah ngga tahan lagi begitu melihat Alva datang dan menghampiri mereka.
"Apa benar udah lo unboxing Tamara?" tanya Reno salah paham akan pesan Alva tadi malam.
"Beneran?" Glen menatap Alva ngga percaya. Begitu juga Arga dan Regan. Tatapan mereka sangat menuntut jawaban jujur dari Alva. Walau mungkin saja Alva akan berbohong.
Nggak mungkinlah, batin Regan ringan. Yakin Regan kalo Alva ngga bakal berani. Ini Tamara, bukan gadis gadis pada umumnya yang selalu dikencani Alva.
__ADS_1
"Ngga di apa apain si junior? Masih aman?" tanya Reno cemas dan penasaran.
"Hancur masa depan lo kalo sampai si jun di kick sama Tamara," sambung Glen dengan tatapan kasian sekaligus menghina.
"Belumlah. Lo salah paham dengan pesan gue," bantah Alva ngga tahan untuk jujur. Hatinya jadi panas mendengar celotehan sahabat sahabat kecebongnya.
Alva ngga berani membual jika memyangkut Tamara. Padahal biasanya dia suka sekali membohongi sahabat sahabatnya biar terlihat hebat.
Dia jadi benci dengan dirinya yang ingin terlihat jadi laki laki baik di depan Tamara.
"Oooh," seru Glen dan Reno bersamaan. Kemudian tertawa mengejek.
Regan dan Arga hanya nyengir saja. Kemudian mereka mengalihkan pandangannya pada Aruna yang diapit dua keluarganya. Mereka semua terlihat bahagia.
"Baru kali ini aku melihat tawa lepas Kiano di samping perempuan," ucap Arga membiat perhatian Glen dam Reno teralihkan dari Alva.
"Salahnya ngga mau jujur sama kita kalo udah suka sama Aruna sejak dulu," kekeh Reno mencela. Kembali mereka pun tertawa.
Bahkan Alva juga. Hatinya senang karena topik sudah berganti.
"Bisa bisanya kakek Suryo yang membuat mereka menikah," tukas Glen.
"Namanya juga jodoh," balas Arga.
"Iya," timpal.Regan.
"Aruna pun terlihat bahagia. Begitu juga keluarga mereka yang lainnya. Apalagi wajah Kakek Suryo," sambung Arga lagi
"Sangat bahagia sekali, ya," lanjut Regan sambil menatap wajah tua yang pemarah tapi sangat bijaksana sekali. Karena kakek Suryolah, Regan bisa kembali menjadi laki laki yang cukup bertanggung jawab. Dia berhutang budi banyak sekali dengan keluarga Kiano
"Soalnya itu cicit pertamanya yang sudah lama ditunggu tunggu," tambah Reno.
"Apalagi kalo laki laki," sambung Glen.
Benar. Apalagi untuk dirinya yang anak tunggal, batin Alva.
Pasti kalo udah nikah disuruh cepat cepat buat cucu, keluhnya stres dalam hati.
__ADS_1