
Suster Uci sangat bahagia, akhirnya Januar mau dekat lagi dengannya. Januar yang sudah nenyelamatkannya dab bahkab ahkan Januar juga yang mengantarkannya pulang ke rumahnya
"Terimakasih ya, Janu," ucap Suster Uci malu malu saat melepas helmnya dan memberikannya pada Januar.
"Sama sama," balas Januar dengan senyum simpatiknya.
Wooww, dada susterUci rasanya kembang kempis melihat wajah Januar yang semakin tampan.
"Helmnya bagus," pujinya geregetan. Warna pink adalah warna favoritnya.
Apa dia tau? batin Suster Uci mencoba menduga.
"Iya, helm adikku," bohong Januar kikuk. Paahal dia sengaja membeli helm itu dan berandai andai suatu hari nanti akan membonceng Suster yang dia taksir.
PYAR
Layaknya kaca, hati Suster Uci langsung pecah berkeping keping.
Biarlah, yang penting bukan punya Bidan Rumi," batinnya menyemangati agar ngga lemas.
"Besok mau masuk kerja?" tanya Januar sambil menyimpan helm pink suster Uci di bagasi motornya.
"Iya, masuklah," jawabnya ceria.
"Emm, besok aku jemput ya," kata Januar sambil menghidupkan scopy nya lagi.
Setelah kejadian yang menimpa Suster Uci tadi, Januar ingin gerak cepat. Tadi aja jantungnya hampir lepas melihat Suster Uci hampir ditabrak mobil ambulance.
"Haa? Eh, iya, mau," kaget Suster Uci ngga nyangka dapat tawaran yang selalu dia nanti nantikan dari Januar. Hatinya jadi berbunga bunga. Senyumnya pun selalu terkembang lebar.
"Yang mobil mewah ngga jemput?" pancing Januar dengan nada cemburu
"Mobil mewah?" Kening suster Uci mengernyit dan muka cerahnya tampak bingung.
Kenapa dia jadi lola?
"Pacar kamu," suara Januar penuh tekanan.
Pacar? Suste Uci reflek menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga punya pacar.".
"Yang sering di status kamu siapa?" tanya Januar heran dan penasaran.
"Mas Reno?"
"Hem," dengus Januar kesal mendengar nama laki laki yang sulit dia jegal disebut.
"Dia temannya suami dokter Aruna," jelas Suster Uci baru sadar, sedari tadi topik.yang ditanya Januar adalah mas Reno
Janu masih cemburu? batinnya resah.
"Kelihatannya akrab," ucapJanuar ngga suka.
Suster Uci mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Janu cemburu yaaa," ledek Suster Uci menggoda.
"Nggak," tangkis Januar salah tingkah.
"Cieeee," ledek Suster Uci kemudian suara tawanya berderai derai.
"Aku pulang dulu. Besok aku jemput," kata Januar kemudian menggas dalam motornya tanpa menunggu jawaban dari Suster Uci.
Suater Uci menatap punggung Januar sampai menghilang. Tawanya masih membekas di bibirnya.
"Januuu... kamu kalo cemburu bilang, dong," gumamnya dengan hati senang. Dia pun melangkah memasuki rumah halaman rumah minimalisnya dengan hati sangat senang.
*
*
*
"Yakin mau berangkat kerja?" tanya Kiano ketika mereka baru selesai olah raga pagi di ranjang.
"Iya."
Kata kata dokter Nirma tadi malam cukup menenangkan hatinya.
"Kamu ngga usah khawatir. Pelakunya sebentar lagi akan tertangkap," kata Kiano berjanji.
"Ya."
Aruna menatap Kiano resah Dia ingin mengatakan tentang kekhawatirannya, tapi lidahnya terasa kelu.
Aruna menggelengkan kepalanya.
"Atau mau lanjut lagi? Satu ronde ya yang," pinta Kiano menggoda.
Wajah Aruna langsung memerah.dan memanas.
BUK BUK BUK
Dengan kejam Aruna menimpukkan bantal berkali kali ke punggung dan dada Kiano yang tertawa tawa sambil menangkis gesit dengan kedua tangannya.
"Kamu itu sangat menyebakkan," seru Aruna sangat jengkel dan melemparkan bantal itu ke kepala Kiano. Tapi laki laki jago basket ini dengan mudah menangkapnya.
"Kanu cantik kalo marah," goda Kiano lagi ngga bisa menghentikan kekehannya.
Aruna mendengus kesal. Dia pun menurunkan kakinya ke lantai.
Tapi terdiam ketika merasakan denyutan di bagian sensitifnya.
Sakitnya. Lebih baik aku kerja dari pada bersamanya, bisa bisa aku ngga bsia jalan seminggu, rutuk Aruna dalam hati.
Eh, kagetnya ketika dirasakannya badannya seakan melayang.
"Kiano, kamu apa apaan, sih," seru Aruna kaget dan malu karena saat menyadari Kiano sudah menggendongnya ala brydal. Selimut yang dia pegang tadi terlepas sudah.
Padahal Aruna tidak mengenakan penutup apa pun di tubuhnya. Sedangkan Kiano ternyata sudah mengenakan celana pendeknya.
__ADS_1
Mata keduanya saling tatap. Mata Aruna dengan kekagetannya dan mata Kiano dengan binar indahnya. Aruna terpesona melihat mata yang penuh dengan bintamg bintang.
"Peluk leherku, atau akan kujatuhkan," kata Kiano dengan gerakan seakan akan menjatuhkan Aruna membuat dia lerpekik dan dengan cepat mengalungkannya ke leher Kiano yang kini terpingkal pingkal dalam tawanya.
"Iiiiiihhh," jerit Aruna kesal karena merasa dipernainkan Kiano terus menerus. Tapi dadanya berdesir desir karena bergesekan dengan Kiano yang bertelanjang dada.
Tapi Kiano malah tertawa tawa menanggapinya dan melangkahkan kaki membawanya ke kamar mandi dan menaruh Aruna dengan lembut ke dalam bath up.
Kemudian Kiano mengalirkan airnya dan mengatur suhunya agar hangat.
Kiano pun menaruh bahunya di pinggiran bath up dan menampilkan wajah kiyutnya.
"Apakah aku boleh menemani tuan putri di dalam bath up?"
Kiano sudah merasakan tubuh bagian bawahnya menegang akibat menggendong Aruna tadi.
BLUSH
Wajah Aruna merona lagi. dia merasa stres karena Kiano selalu menggodanya, membolak balikkan hatinya dan membuatnya melayang.
Tapi permintaan Kiano kali ini dengan sangat terpaksa Aruna tolak. Jika dituruti terpaksa Aruna ngga akan bisa ke rumah sakit karena dia akan sangat kelelahan.Semoga malaikat mengerti alasannya menolak dan ngga mencatatnya sebagai dosa pembangkangan istri terhadap suaminya.
"Nggak," tolaknya tanpa mau melihat wajah Arjuna. Dia ngga akan tega.
Kiano tertawa lagi. Tawanya sungguh renyah dan sangat merdu di telinga Aruna.
Dia memang sudah gila, batin Aruna merutuki dirinya sendiri.
Kenudian Kiano berdiri tanpa membantah dan berjalan ke arah pancuran shower yang berada di dekatnya setelah mengusap puncak kepala Aruna. Dengan santai laki laki itu nenurunkan celana pendeknya.
"KIANO!" jerit Aruna sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Kenapa sekarang dia menjadi ngga tau mau? batinnya mengumpat kasar sementara tawa Kiano yang renyah dan merdu berderai derai terdengar memasuki liang telinganya.
*
*
*
"Hati hati, ya, sayang," kata Kiano agak khawatir juga melepas Aruna tetep bekerja hari ini.
Tapi kata kata papinya menenangkannya, beliau sudah menyiapkan banyak pengawal ngga terlihat untuk menjaga Aruna. Bahkan suami kakak Aruna juga mengutus orang orang terpercayanya untuk membantu mengungkapkan siapa dalangnya.
"Iya," sahut Aruna sambil melepaskan seatbelt. Tapi gerakannya tertahan tangan Kiano, karena laki laki itulah yang kini melepas seatbeltnya.
"Sebentar," katanya sambil mengecup pipi chuby kekasihnya. Kiano keluar dari mobilnya dan berjalan tenang ke arah Aruna. Kemudian membukakan pintu mobil istrinya.
Sambil meraih tangan Aruna, Kiano menggandengnya keluar dari dalam mobil dan setelah mengunci mobilnya , dia pun merengkuh bahu Aruna, berjalan di sampingnya.
"Kamu mau ikut?" tanya Aruna agak risih karena tatapan para perawat, tenaga medis lainnya, juga para pengunjung rumah sakit terfokus pada mereka berdua.
Mereka terpesona pada pasangan yang sangat ideal. Terlebih pada sosok laki lakinya yang terlihat sangat gentle, membuat iri.
"Iya," jawab Kiano ringan. Dia akui, sudah beberapa hari ini hanya mengantar Aruna hanya sampai di parkiran saja karena kesibukannya. Sekarang ngga lagi. Kebersamaannya dengan Aruna jauh lebih penting dari apa pun juga. Kejadian kemarin cukup memberi peringatan padanya agar lebih menjaga Arunanya.
__ADS_1
"