
Ngga lama kemudian orang tua Tamara datang. Secara cepat negoisasi dilakukan. Bulan depan, Tamara dan Alva akan menikah.
Aruna menatap Tamara ngga tega karena sahabatnya hanya bisa menatap orang tuanya penuh protes yang diabaikan.
Hanya Tamara, si bungsu dari tiga saudara yang belum menikah. Selama ini Tamara ngga pernah memgenalkan teman laki laki sebagai kekasihnya. Apalagi dia sibuk dengan keatletannya. Temen dekatnya hanya Aruna. Karena itu mama dan papanya sangat bahagia karena ada laki laki yang mau menikahinya. Terlebih lagi calonnya salah satu relasi bisnisnya yang bukan kaleng kaleng. Tamara benar benar di luar dugaan.
"Mama ngga nyangka kamu nyari suami pengusaha. Mama kira teman kamu sesama atlet bakal jadi mantu mama," bisik mamanya senang. Apalagi mama Tamara cukup mengenal mama Alva.
Wajah menantunya pun sangat tampan. Putrinya juga cantik. Pasti mereka akan menghasilkan cucu cucu yang sangat tampan dan cantik. Mama sudah ngga sabar untuk menggendong buah cinta dari Tamara dan Alva.
Tamara ngga menanggapi perkataan mamanya. Hatinya masih kesal dan bingung. Salahnya sendiri ngga punya pacar hingga melewati usia emas, 25 tahun. Baru orang tua Alva yang melamar dirinya dan orang tuanya tentu ngga akan menolak calon menantu yang cukup potensial. Tampan, kaya dan sukses. Tapi mereka ngga tau kalo calon menantunya ini adalah orang paling brengsek dan menyebalkan sedunia. Rumah tangga idaman yang ada di khayalannya musnah sudah, jadi debu dan hilang ditiup asap rokok si kurang ajar itu.
"Kiano, apa ngga bisa dibatalkan?" tanya Aruna berbisik. Dia sangat kasian pada sahabatnya yang nampak begitu tertekan. Jiwa dan raga.
"Biarkan saja. Aku udah ngga sabar melihat Alva babak belur dihajar Tamara saat malam pertama," kekeh Kiano pelan membuat Aruna menatapnya kesal.
Aruna melirik Alva yang kini duduk dengan gelisah. Aruna yakin sekarang Alva mulai menyesali ide bodohnya. Tapi sekarang sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Dia merasa saat ini orang tuanya sengaja memanfaatkan ketengilannya. Padahal mereka pasti tau kalo.Alva ngga serius.
Teganya, batinnya gusar.
Apa yang bisa dia lakukan jika sudah menjadi suami Tamara. Bisa menciumnya pun karena pengaruh obat perangsang. Apa nantinya dia akan jadi suami takut istri?
Alva menghembuskan nafas dengan kuat seolah melepaskan perasaan jengkelnya yang sudah di ubun ubun.
Kiano dengan senang mengetikkan pesan pada keempat sahabat tentang pernikahan Alva sebulan lagi dengan Tamara. Respon mereka pun bermacam macam.
Regan
Lo ngga lagi minum obat? Ini serius?
Reno
What the hell?!
Glen
Syukurin hahahaha
Arga
Masuk perangkap yang dia buat sendiri......
Bibir Kiano terus mengembangkan senyumnya. Sangat lebar. Dia yakin sahabat sahabatnya pun saat ini sedang ikut berbahagia dengan nasib memgenaskan Alva.
__ADS_1
Aruna semakin kesal.melihat Kiano yang malah sibuk dengan ponselnya sambil tersemyum senyum sendiri mengabaikan dirinya.
Chat sama siapa dia.
Apa dia masih genit kayak dulu.
Karena kesal, Aruna bermaksud bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" Kiano menahan tubuhnya yang akan berdiri.
"Ke belakang," jawabnya judes.
Kiano menatapnya bingung, kenapa istrinya marah?
"Aku temani," kata Kiano berinisiatif sambil.menyimpan ponselnya.
"Ngga perlu. Maen hp aja terus," rajuk Aruna sinis.
Tanpa sadar sudut bibir Kiano tertarik ke atas. Dia baru sadar kalo sudah melupakan kehadiran istri manja di sampingnya.
"Tadi aku kirim pesan ke Regan dan yang lainnya tentang pernikahan Alva dan Tamara," kata Kiano sambil menunjukkan isi pesannya di depan wajah Aruna yang cemberut.
Aruna melirik dan langsung lega, tapi tetap menampilkan wajah cemberutnya.
"Yuk, kita ke belakang. Aku haus," kata Kiano sambil membimbingnya meninggalkan ruangan yang terasa panas.
Alva dan Tamara sama sama diam, ngga membantah. Karena protes apa pun sudah ngga berguna.
*
*
*
Sasya melihat salah satu teman kelas atasnya kini begitu menyedihkan. Mungkin dia akan bernasib sama jika mama dan papanya ngga membawanya ke luar negeri setelah mengetahui berita pernikahan Kiano.
Dia pun sama seperti Claudya yang pasti sangat membenci Aruna yang berhasil membuat Kiano tergila gila.
"Hentikan, Claudya," kata Sasya cukup tegas.
Claudya mengusap matanya yang bengkak karena menangis semalaman. Kasur di sel ini begitu tipis. Punggungnya sakit dan pegal pegal. Air mandi yang dijatahkan pun membuatnya merasa tubuhnya masih sangat kotor. Dia yang biasa berendam dan membuang banyak air kini harus menggunakan ngga nyampe seperlima dari rutinitas air yang biasa digunakan di rumah. Badannya masih terasa lengket walaupun sudah mandi tadi pagi. Ngga ada acc, hanya sebuah kipas kecil yang hanya terus berputar tanpa memberikan banyak angin. Claudya tersiksa.
"Aku akan meminta papa untuk menolongmu," kata Sasya berjanji. Paling engga dia punya teman sepenanggungan patah hati.
__ADS_1
"Aku masih belum.menyerah," kata Claudya ngeyel. Dia masih ngga bisa terima.dengan deritanya sementara Aruna berbahagia dengan Kiano.
Sasya menghela nafas panjang.
"Jangan sampai hidupmu hancur," ucapnya sambil melangkah pergi. Percuma menasehati temannya yang sangat keras hati ini.
*
*
*
Melvin mengurut dada begitu mendapat telpon kalo saham perusahaan mengalami penurunan hanpiir enam puluh persen. Perusahaan keluarganya bisa kolaps kalo terus begini.
Dia harus segera berangkat ke Jakarta. Mereka bersama pemegang saham lainnya akan melaksanakan rapat luar biasa.
Saat pergi, Melvin melihat dadynya tertidur di samping maminya. Sebrengsek brengsek dady nya, beliau pasti takut kehilangan mami. Apalagi tengah malam.tadi detak jantung mami ngga stabil.
Dia pun memutuskan menemui adiknya lebih dulu. Kini matanya menatap kasian melihat adiknya yang tampak.awut awutan, padahal baru sehari hidup di dalam sel.
"Kamu masih bertahan dengan keinginanmu?" tanya Melvin dengan mata menyorot tajam.
Claudya terdiam. Dia masih bisa menanggungnya. Sedikit lagi.
"Pergerakannu dan orang orang kita sedang diawasi. Bijaksanalah. Pikirkan masa depanmu, Claudya sayang," pinta Melvin lembut. Ngga bisa dia bayangkan jika adiknya melakukan sesuatu yang berbahaya lagi terhadap istri Kiano.
Kenapa pikiran adiknya begitu dangkal. Masih banyak laki laki tampan dan kaya di luar sana.. Kenapa harus menenggelamkan diri ke lumpur untuk laki laki milik perempuan lain.
"Kalo kamu berubah pikiran, hubungi kakak. Kita akan memulai hidup baru di luar negeri," kata Melvin kemudian mengusap puncak kepala adiknya penuh sayang.
Claudya masuh diam tepekur.
"Mami butuh kunjungan kamu segera. Kamu ngga sayang mami?" tanya Melvin lagi, tetap dengan nadanya yang sangat lembut.
Mata Claudya memanas.
Mami, batinnya sedih.
Tapi Claudya ngga mau keluar dari oenjara dengan perasaan kalah..Aruna harus dapat hadiah dulu darinya. Tentu saja yang sangat berkesan.
"Kakak mau ke Jakarta. Perusahaan lagi gonjang ganjing. Kakak harap kamu cepat mengambil keputusan," ucap Melvin kemudian menghela nafas panjang.
Karena adiknya masih diam, Melvin pun bangkit dan melangkah pergi meninggalkannya.
__ADS_1