Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tendangan Super


__ADS_3

Tamara yang ngga bisa tidur akhirnya berjalan keluar dari kamarnya. Dia ngga tenang sejak meninggalkan Aruna sendirian di kamar, apalagi dengan pakaian setipis itu.


Kiano apakah akan gelap mata? Apa lagi bukan keinginan Aruna untuk berpakaian seperti itu.


Tamara ngga bisa membayangkan jika berada dalam posisi Aruna. Semua anggota keluarganya membiarkan Aruna menjadi santapan Kiano.


Tanpa sadar langkah kakinya berjalan menuju ke kamar yang ditempati Kiano dan Aruna.


Suasana terasa sepi, tapi dia kaget dan memelankan suara langkahnya ketika melihat ada beberapa bayangan di depan kamar Kiano dan Aruna yang remang remang.


Maling, kah? batin Tamara dengan jantung berdetak keras.


Dengan langkah perlahan, Tamara mulai mendekat.


Tamara yang merasa cemas akan keselamatan temannya melihat bayangan yang diyakini orang berpakain seba hitam, segera menyergap dengan mengirimkan tendangan supernya.


BUG BUG BUG


"Aaahhh," teriak mereka bersautan dan jatuh bergulingan, ngga ada persiapan karena serangan mendadak.


"Sialan," teriak salah seorang yang jatuh tertimpa temannya.


Tamara merasa mengenal suara itu dan dengan cepat menarik masker yang dia kenakan


"ELO!" kaget Tamara begitu melihat wajah Arva yang meringis kesakitan.


"Gila lo, maen tendang aja. Sakit ni pinggang gue," sentak Alva jengkel.


Tamara ngga mempedulikan. Dia langsung menekan stop kontak dan cahaya lampu pun menerangi wajah kedua bayangan hitam yang lainnya. Walaupun mengenakan masker, Tamara masih bisa mengenali mereka. Siapa lagi, si biang rusuh Glen dan Reno.


"Tam, lo jadi perempuan feminim, kek," kesal Glen yang bangkit tertatih dengan memegang pantatnya yang kena cium kaki Tamara.

__ADS_1


"Sakit tau, Tamara!" sentak Reno yang masih terduduk. Dia yang paling malang, udah kena tendangan, jatuh, terus ditimpa tubuh kedua temannya. Hingga mereka jatuh bergedebukan.


"Kalian ngapain di depan kamar Aruna. Gue kira maling," seru Tamara galak sambil berkacak pinggamg.


"Terserah kita lah. Masa lo ngga bisa bedain maling sama orang ganteng," seru Alva ngga kalah galak. Pinggangnya kayak dipuntir rasanya.


Ni perempuan, tenaganya kuat juga, batinnya memaki.


"Di basecamp gue lebih banyak yang ganteng dari lo," balas Tanara sombong, membuat Arva mencibir


"Ada apa ini?" seru Regan yang buru buru keluar dari dapur bersama Arga. Mereka baru saja akan mengambil minum di kulkas, tapi langsung membatalkan niatnya karema mendengar suara suara ribut yang mencurigakan.


Keduanya langsung melebarkan senyum melihat keadaan ketiga temannya yang kelihatan meringis kesakitan.


"Kalian ini memang biangnya. Lo berdua juga pura pura baru datang, kan," semprot Tanara marah melihat keduanya yang cengar cengit.


Regan dan Arga langsung menutup mulut, kaget kena bentakan.


"Kita baru dari dapur," kata Regan membela diri.


"Alaa..... Lo semua memang banyak alasan," marah Tamara kemudian berbalik pergi.


Kelimanya bengong melihat kepergian Tamara.


"Gila ya tuh cewe. Galak amat," sembur Glen kesal. Pantatnya kayaknya keseleo.


"Cara belainya merngerikan," sarkas Alva sambil menyandar di tembok.


"Kalian jatuhnya kok, ke gue, sih. Sakit semua badan gue," seru Reno kesal.


"Sudah sudah. Emang kalian ngapain sampe Tamara marah?" tanya Regan kemudian mengembangkan cengirannya lagi.

__ADS_1


"Si Alva ngajak kita intip Kiano. Baru juga mau nempelin telinga udah kena hajar," cicit Glen kesal.


"Lo bego apa. Rumah kakek Suryo pasti kedap suara lah," tukas Arga sambil menggelengkan kepala. Kemudian dia tertawa kecil melihat nasib malang yang menimpa ketiga temannya.


"Siapa tau mereka ngga rapat nutup pintunya," sanggah Alva masih dengan muka meringis.


"Emang Lo. Pasti sama Kiano udah dikunci lah kamarnya," kekeh Regan menghina.


Ketiganya ngga membantah lagi selain mengusap usap bagian tubuh yang terasa sakit dan pegal pegal.


"Gila si Tamara. Tenaganya kayak lakik. Bisa kali suruh bolak balik angkat galon," kata Glen kesal.


"Sembarangan aja ngatain kita maling," omel Alva masih kesal.


"Pantasan masih jomblo. Laki mana yang mau ditendang tiap hari," sambung Glen dan kali ini ketempatnya tergelak. Seolah rasa sakit yang diderita sejak tadi sudah hilang


"Kita aja masih jomblo, apa lagi dia," kekeh Reno menambahi. Akhirnya keempatnya pun tergelak gelak di depan kamar Kiano.


"Apa semua ruangan di sini kedap suara?" tanya Alva ngga yakin.


"Ya iya lah. Kalo ngga, pasti udah pada keluar semua orang orang," kekeh Regan sambil menoyor kening para sahabatnya.


"Teriakan kalian menggelegar," gelak Arga menghina.


"Sungguh memalukan," sambung Regan di sela.gelaknya.


"Kita kaget, bro," sentak Glen menyangkal. Malu juga dia harus heboh berteriak. Apalagi yang menendang meeka perempuan, bukan laki laki.


"Betul, kita ngga ada persiapan," Reno juga ikut menyangkal membela diri.


"Ayo kita tidur," putus Arga malas mendengar pembelaan diri yang ngga bermutu sambil berjalan masuk ke dalam kamarmya yang ditempatinya bersama Regan.

__ADS_1


"Iya, gue juga mau tidur," balas Alva masih kesal sambil berbalik ke arah kamar yang ditempatinya bersama Glen dan Reno.


"Besok aja kita tanya. Sampai berapa ronde," cicit Glen disambut tawa mereka yang berderai derai.


__ADS_2