Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Babak Belur


__ADS_3

Kiano langsung membuka helmnya begitu motornya sudah terparkir senpurna. Tangannya merogoh ponselnya yang sejak tadi bergetar sewaktu dia ngebut.


Wajahnya pias begitu melihat panggilan tak terjawab dari Aruna yang berkali kali. Bahkan ada notifikasi pesan tentang titik lokasi dari Alva.


"Sialan," makinya gusar. Titik lokasi yang ditunjuk Alva cukup jauh dari tempatnya parkir.


Akhirnya Kiano menghidupkan kembali mesin motornya, dan kembali memaki karena ada mobil sport yang seperti sengaja berhenti di depannya.


Mau cari mati! geram Kiano dalam hati.


Tapi wajah marahnya berubah sennag melihat Bang Athar yang buru buru keluar dari dalam mobil dan bergegas menghampirinya.


"Kiano!"


"Bang!"


"Tadi Melvin menelpon, katanya Claudya sudah keluar dari penjara," serunya cepat dan panik.


"Dia meminta aku ke rumah sakit segera, tempat Aruna bekerja," sambungnya lagi.


"Iya, aku dapat share lokasi dari Alva yang sudah duluan ke sini. Tapi agak jauh dari sini bang," kata Kiano sambil menunjukkan pesan Alva di ponselnya.


"Ngga ada cukup waktu kalo pun kita lari," kata Athar memberikan pendapatnya.


"Iya. Makanya aku mau langsung ke sana pake motor," tukas Kiano cepat.


"Halaman samping," kata seseorang tiba tiba menimbrung membuat Kiano dan Athar kaget. Melvin sudah berdiri di antara mereka.


Kakak laki laki Claudya buru buru turun dari mobil begitu melihat Athar dan Kiano di parkiran.


"Melvin!" seru Athar marah sambil menghampiri temannya.


BU****UUGG**G**


"Aduh," ringis Melvin begitu Athar tanpa aba aba meninju pundaknya dengan keras.


"Kenapa dengan adik lo, Vin?" sentak Athar emosi. Almira belum tau apa apa tentang kejadian ini. Athar juga ngga ingin membuat istrinya banyak pikiran, apalagi sedang mengandung buah hati mereka.


"Sudah, bang. Kita harus segera kesana. Aku rasa Athar dan Tamara pasti sedang dalam kesulitan sekarang," lerai Kiano mencoba menenangkan hati Athar. Padahal kalo dipikir, dirinyalah yang ingin sekali menonjok Melvin, kakak laki laki Claudya.


"Aku tau tempat ini dan jalan pintasnya. Ayo," ajak Melvin sambil berlari ke arah bangunan lama rumah sakit. Hatinya pun ngga tenang. Firasatnya mengatakan kalo Claudya sudah melakukan sesuatu yang di.luar dugaannya.


Athar dan Kiano saling pandang.


"Kita ikuti dia," kata Athar sambil membuka bagasi mobil dan mengambil tongkat bisballnya.


"Rik, lo nunggu sampai yang lain datang. Susul gue ke parkiran samping," pesannya pada temannya yang menjadi supir sebelum bergegas pergi


"Oke," balas Arik walau Athar ngga mendengar karena sudah jauh di depannya bersama Kiano yang memegang helmnya.


*


*

__ADS_1


*


Keadaan mulai ngga terkendali. Alva bermaksud mengambil pistol di saku jaketnya. Tapi belum senpat menyentuh badan pistol, Alva mendengar suara suara teriakan kesakitan dan banyaknya pengawal Claudya yang berjatuhan.


BUG BUG BUG


"AAAHHH!"


"AAAHHH!"


Bibirnya menyunggingkan senyum melihat Kiano yang muncul bersama Athar dan satu orang lagi yang Alva ngga tau siapa. Tapi yang buat dia tenang, laki laki asing itu berada di pihaknya.


Tapi bantuan yang datang masih terlalu sedikit. Walaupun sudah rada lumayan membuat pergerakan Alva sedikit bebas.


Kiano yang melihat Aruna diseret paksa oleh dua orang yang berseragam pengawal dan melihat Tamara yang dihadang dua orang yang menahannya demi untuk menolong Aruna menjadi panas dan mendidih darahnya.


Segera saja helmnya digunakan untuk memukul dua orang kurang ajar itu yang berani beraninya menyentuh istrinya.


Suara helm sport yang beradu dengan kepala menimbulkan bunyi yang keras, apalagi Kiano melakukannya sepenuh hati.


"Kiano!" jerit Aruna lega begitu berhasil lepas dari cekalan dua orang pengawal Claudya. Kiano pun mengamankannya dalam pelukannya.


"Maaf, terlambat. Kamu terluka?" tanya Kiano khawatir.


"Ngga, sih. Hanya perutku agak sakit. Kram," kata Aruna sambil mengeratkan pelukannya pada Kiano sambil menahan sakit.


"Ada yang menukul perutmu?" tanya Kiano panik melihat wajah pucat Aruna.


"Oke, kalo gitu tenanglah," kata Kiano kemudian sebelah tangannya mendekap erat punggung Aruna, dan sebelah tangannya lagi yang memegang helm bersama kakinya bergantian memukul dan menendang lawan yang mendekat.


"Claudya, hentikan!" teriak Melvin yang ngga segan segan memukul dan menendang para pengawal adiknya yang membuatnya kesulitan mendekati adiknya.


"Kakak ngapain bantu mereka!" teriak Claudya gusar. Para pengawalnya agak sungkan menghadapi Melvin, salah satu anak bosnya juga.


"Hentikan kakak bilang sebelum terlambat!" teriak Melvin berusaha terus mendekati adiknya, tapi jadi kesal karena terus dihalang halangi para pengawal keluarganya yang sangat jelas membela adiknya.


"Aku sudah berakhir, Kak. Aku sudah tamat!" jerit Claudya histeris.


"Engga, masih ada kakak. Kakak akan bersama kamu, menjaga kamu!" seru Melvin yang hatinya tercubit mendengar tangis adiknya.


Sementara itu Athar, Kiano, Alva dan Tamara semakin direpotkan dengan bertambahnya jumlah pengawal Claudya yang mendadak datang.


Kiano yang dapat merasakan kalo Aruna sedang menahan sakit, ngga fokus menghajar lawan lawannya. Dia hanya menangkis dan menepis saja tiap serangan yang akan mengenai tubuh mereka berdua. Bahkan punggungnya pun sudah beberapa kali terkena pukulan dan tendangan yang lumayan kuat.


Kiano bertahan sebagai benteng Aruna. Bahkan Kiano dapat melihat sendiri, Melvin pun ikut dihajar para pengawal adiknya.


Keadaan semakin ngga menguntungkan. Kiano ngga tega melihat Tamara yang kelelahan dan terluka. Alva dan Bang Athar pun sama kondisinya dengan dirinya.


"Tamara, awas," seru Alva yang melihat Tamara yang sempoyongan kena pukul di punggungnya dan akan mendapat tendangan lagi yang akan membuatnya jatuh tersungkur ke depan.


Alva pun berlari ke arah Tamara dan menerima tendangan itu hingga keduanya jatuh bergulingan di lantai.


"Kamu sudah terluka," kata Alva sambil mengusap sudut bibir Tamara yang berdarah.

__ADS_1


Tamara terpaku dan membiarkan perlakuan Alva yang membuat hatinya semakin ngga menentu.


Alva sudah putuskan. Dia ngga mau mereka semua mati konyol.


"Kalo nanti gue di penjara, lo nikahnya sama Regan aja, ya," bisiknya dengan cengiran konyolnya.


"Mak maksud kamu apa?" heran Tamara bercampur kaget. Entah mengapa hatinya merasa kesal mendengarnya.


Alva masih memamerkan senyum konyolnya dan membalikkan tubuhnya cepat kala melihat tangan Claudya mengacungkan pistolnya pada Aruna yang sedang dipeluk Kiano.


DOR


Alva cepat menarik pelatuk pistolnya ke arah tangan Claudya yang memegang pistol.


"AAAHHHH," jerit Claudya kesakitan. Pistolnya jatuh dan tangannya terluka dan berdarah.


"Claudya!" seru Melvin panik saat melihat tangan adiknya yang terkulai lemas dan berlumuran darah.


Keadaan sempat hening sebentar saat mendengar suara letusan pistol Alva.


Aruna dan Kiano selamat. Tapi tidak dengan Alva. Tubuhnya kembali ditendang pengawal Claudya membuatnya kembali berguling menjauhi Tamara. Tapi pistol di tangannya masih dipegang erat.


Tamara bergegas bangkit, dan membantu Alva yang dihajar para pengawal Claudya.


"Nona, apa perlu kita juga menembak?" teriak perawat yang tadi menyamar. Keadaan mulai kacau dan ngga terkendali. Beberapa dari mereka membekali dirinya dengan pistol. Perawat itu sudah berdiri di dekat Claudya.


"Tembak saja!" teriak Claudya penuh dendam.


"JANGAN!" seru Melvin agar para pengawalnya ngga menuruti perintah Claudya.


"TEMBAK!" seru Claudya sudah ngga peduli.


"JANGAN!" seru Melvin lagi sangat panik ketika melihat beberapa pengawalnya menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya pada Athar, Kiano, Aruna, dan dua orang teman Kiamo


"TIARAP!" seru Athar dan Kiano bersamaaan.


"Aruna, maaf, kalo aku belum bisa bahagiakan kamu," bisik Kiano sambil menggulingkan tubuh mereka ke lantai dengan mendekap tubuh Aruna erat.


Air mata Aruna mengalir deras. Dia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Kiano. Perasaannya menjadi sedih mendengar kata kata Kiano, seakan merupakan ucapan selamat tinggal untuknya.


"I love you, Kiano. So much," bisiknya dengan suara bergetar. Dia ngga mau ditinggalkan Kiano sekarang, di saat lagi sayang sayangnya.


Kiano mengangguk dalam sambil tangannya terus menahan kepala dan punggung Aruna. Helmnya sudah sejak tadi dia lempar ke arah para pengawal Claudya.


DOR DOR DOR DOR DOR


DOR DOR DOR DOR DOR


"AAAHHH!"


"AAAHHH!"


"Sorry kita telat!"

__ADS_1


__ADS_2