Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dua Sahabat


__ADS_3

"Hai," sapa.Tamara membuat Aruna terdiam bagai patung saking kagetnya. Gimana engga kaget, begitu Aruna buka pintu, Tamara menyapanya dengan senyum lebarnya.


"Hei, kamu ngga jadi gagu, kan? Mau nikah malah ngga bisa ngomong," canda Tamara sambil mendekat.


Aruna mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha meyakinkan lagi kalo di depannya benar Tamara. Sahabatnya.


"Hei....! Halloooow, anybody home?" Tamara mengguncang bahu Aruna yang masih bergeming dan bengong menatapnya.


"Tamara, ini ini beneran kamu?" tanya Aruna tergagap dan terkejut karena guncangan Tamara yang mulai menyadarkannnya.


"Bukan. Tetangganya," gelak Tamara sambil mencubit pipi Aruna.


"TAMARAAA!" jerit Aruna sambik memeluk sahabatnya, semakin membuat Tamara tawanya berderai derai. Tamara pun balas memeluk Aruna.


"Kamu semakin kurus," ledeknya sambil terus tertawa. Rasanya lega melihat sahabatnya yang besok akan menikah masih baik baik saja.


Tamara tentu saja kaget saat mendapat kabar pesan singkat dari Aruna kalo dia akan menikah. Sangat di luar dugaan, apalagi mengetahu dengan siapa Aruna menikah. Setelah berhasil mendapatkan medali, Tamara minta ijin pulang duluan. Untungnya karena sudah mendapatkan medali emas, Tamara mendapat keistimewaan. Padahal harusnya dia pulang lusa bersama teman temannya.


Sepanjang perjalanan Tamara ngga tenang, mencemaskan keadaan fisik dan mental Aruna. Secara dulu Kiano.dan geng nya suka membully Aruna. Belum lagi Monika cs.


"Kelihatannya kamu bahagia " ledek Tamara lagi setelah pelukan mereka terurai.


"Ngawur," bantah Aruna sambil menghapus air matanya yang menetes. Dia sangat terharu dengan kedatangan Tanara yang tiba tiba. Mama dan kakaknya sama sekali mgga mengatakan apa apa soal kedatangan Tamara. Ini kejutan yang indah buatnya.


"Cengeng," cibir Tamara melihat mata sahanatnya yang basah. Dia sih kebal dengan momen momen begini.


"Biarin," balas Aruna manyun sebentar sebelum kemuadian tertawa renyah.

__ADS_1


"Aku senang kamu di sini," ucap Aruna riang. Kini mereka sudah duduk di tempat tidur Aruna.


Tamara tambah lebar aja senyumnya mendengar kata kata Aruna.


"Kamu serius mau nikah sama Kiano?" Tamara menatap serius sahabatnya. Nada suaranya masih ngga percaya.


"Iya," aku Aruna jujur kemudian menggigit bibirnya.


"Kok, bisa?" kejar Tamara kepo.


Aruna menghela nafas berat. Dia tau Tamara pasti sangat kaget mendengar kabar pernikahannya yang dadakan.


"Kamu....?" tanya Tamara dengan suara memggantung karena Aruna ngga kunjung menjawab


Aruna mengikuti arah sorot mata sahabatnya yang kini turun ke perutnya. Logikanya muncul.


"Oya, sorry," kekeh Tamara dengan matanya yang menyipit.


Aruna memukul pundak Tamara karena semakin kesal melihat sahabatnya ngga bisa berhenti tertawa.


"Salahmu ngga pernah cerita kalo pacaran sama Kiano," ejek Tamara dalam derai tawanya.


"Aku ngga pacaran sama dia," bantah Aruna stres campur pusing. Bingung gimana mau cerita dari awal tentang hubungan ribetnya dengan Kiano.


"Lha, kok, bisa nikah? Dadakan lagi," cibir Tamara dengan susah payah menghentikan tawanya karena melihat wajah seram Aruna.


"Aku merawat kakek kakek yang suka bad mood. Ngga tau kenapa beliau menjodohkan aku sama cucunya. Dan aku baru tau cucunya Kiano," cerita Aruna akhirnya.

__ADS_1


"Itu sebelum dia pedekate sama kamu?" tanya Tamara seolah ingin mencocokkan kepingan kepingan puzzle yang dia punya. Dulu Aruna sempat cerita sedikit.


"Pedekate apa?" sangkal Aruna. Dia lupa pernah keceplosan cerita pada Tamara.


"Kamu dulu, kan, pernah cerita dikit. Tapi asisten kamu udah cerita sangat detil," jelas Tamara membuat wajah Aruna memerah.


"Asisten?"


"Tadi aku ke rumah sakit kamu dulu. Asisten perawat kamu langsung cerita banyak pas aku nanya kamu," kata Tamara kemudian nyengir.


Dasar, maki Aruna dalam.hati. Kenapa suster kepercayaannya ngga bisa sedikit mengerem mulut embernya.


"Cinta mati kayaknya Kiano sama kamu ya?" ledek Tamara kemudian terkikik melihat wajah Aruna yang tambah manyun.


"Cinta mati apanya kalo masih nempel nempel sama perempuan lain," balas Aruna sengit membuat Tamara tambah terkikik.


Aruna menghela nafas kasar. Hatinya masih ada sedikit keraguan. Walau sikap laki laki itu sudah membuat hatinya berbunga bunga.


"Tante dan om terlihat sangat senang," komentar Tamara membuat Aruna menghela nafas kesal.


"Iya, karena aku akhirnya menikah."


Tamara memgembangkan senyumnya.


"Aku do'akan kebahagiaanmu. Cerita sama aku kalo Kiano nyakitin kamu. Akan aku hajar dia," kata Tamara sungguh sungguh.


Aruna tersenyum tipis. Sebenarnya dari dulu Tamara ingin menghajar Kiano setelah tau apa yang sudah dilakukan Kiano cs. Tapi selalu dia cegah, karena Aruna ngga mau Tamara yang malah terluka. Walaupun Tamara jago karate, yang dia lawan adalah laki laki yang punya teman cukup banyak. Bisa saja Kiano mengerahkan bala bala nya untuk mengeroyok Tamara.

__ADS_1


__ADS_2