
"Maksud Tamara?" tanya mami Alva sambil melirik putranya yamg sepertinya pasrah. Hanya menunduk diam.
"Tidak ada yang terjadi antara saya dan Alva, tante," jawab Tamara mendadak mumet. Ngga mungkim dia secara detil bercerita tentang pelecehan Alva terhadapnya. Apalagi di depan banyak orang tua yang berkumpul.
"Sebenarnya apa yang terjadi. Aku dengar Tamara menyelamatkan Alva dari pengeroyokan pengawal pengawal Herman," tukas papi Kiano dengan rasa penasaran tingkat tinggi.
Papi Rifki menarik nafas panjang
"Itu dia. Ternyata ngga hanya mengeroyok, tapi Alva juga diminumkan obat secara paksa," ucap papa Rifki menjeda ucapannya sambil menatap Tamara yang mulai ngga tenang dan salah tingkah.
"Obat?" gumam papa Kiano dan sama mengarahkan pandangannya pada Tamara. Begitu juga Aruna.
"Obat apa?" celutuk nenek bingung.
Kakek Surya mulai paham.
Yang menjengkelkan Alva tetap menunduk diam. Laki laki manja ini hanya tinggal menunggu penolakan Tamara setelah kekacauan yang dibuatnya pagi ini.
Persoalan Meti sudah selesai tadi malam. Perjodohannya sudah dibatalkan. Meti masih tetap histeris waktu meninggalkan ruangannya. Bahkan gadis kecil itu bersedia menjadi yang kedua.
Ciihh, kepala Alva rasanya mau pecah. Mau punya satu istri aja dia malas, apalagi dua.
"Sebentar, bisa saya dan Tamara bicara berdua?" tanya mami Alva mengambil inisiatif setelah suasana lengang menyelimuti mereka.
Beliau mengerti, hsl ini terlalu sensitif, apa lagi melihat Tamara yang sudah mulai gerah.
"Iya, mari kita bicara di kamar," respon mami Kiano segera bangkit dari duduknya. Beliau ingin mengetahui secara langsung dari mulut Tamara sendiri. Beliau juga ngga yakin kalo Tamara mau mau saja dipaksa Alva. Secara Tamara adalah atlet karate yang mumpuni.
Tamara menatap Aruna dengan tatapan ngga terbaca. Tapi Aruna tau, Tamara butuh dia temani.
"Aku ikut mami," ucap Aruna sambil memegang lengan Tamara yang juga sudah berdiri. Lengan sahabatnya terasa dingin saat kulit mereka bersentuhan.
Kiano menganggukkan kepala ketika Aruna menatapnya seolah berpamitan.
Bahkan nenek Kiano pun ikut dengan mereka tanpa berkata sepatah kata pun.
"Alva, lo ikut gue," seru Kiano sambil menahan kesal.
"Maaf, Pi, Kek, Om. Kiano harus bicara dengan Alva," ucapnya ketika melihat Alva sudah berdiri dan melangkah mendekatinya.
"Ya ya ya," kata Kakek Suryo tenang.
"Oke, Kiano," sahut papi Alva.
__ADS_1
Papinya sendiri hanya tersenyum tipis.
Begitu tiba di halaman belakang, Kiano langsung berkacak pinggang. Menatap Alva dengan kesal.
"Lo buat ulah apa lagi?!" kesalnya sambil menatap Alva tajam.
Mengganggu Tamara bisa membuat Aruna juga ilfeel dengannya.
"Gue hanya mencoba peruntungan," kekeh Alva santai.
"Maksud lo?" tanya Kiano makin kesal melihat reaksi tanpa bersalah sahabat tengilnya.
Ni anak minta ditampol kepalanya biar cepat balik normal lagi, ya, umpatnya dalam hati dengan tangan yang sudah gatal untuk melaksanakan niatnya.
Alva ngga menjawab, malah menatap jauh ke arah langit.
"Lo tau, kan, gue dijodohkan dengan Meti," katanya beberapa menit kemudian.
"Hemm...."
"Meti udah gue anggap adik perempuan gue sendiri," cicitnya lagi.
"Terus?"
"Ini satu satunya cara yang berhasil membuat perjodohan kami batal," kata Alva dengan senyum lebar di bibirnya.
"Tapi mengenai obat itu memang benar. Gue sempat mencium Tamara sebelum dia membuat gue pingsan," jelas Alva tanpa rasa menyesal. Kemudian dia terkekeh pelan.
"Lo memang gila," umpat Kiano kasar. Dia memejamkan matanya, memikirkan jika Aruma tau perbuatan Alva. Pasti istrinya akan marah besar. Dirinya juga bisa kena efek sampingnya.
"Gue yakin, Tamara akan menolak lamaran ini. Lo tenang aja, setelah ini gue akan minta maaf dan berterimakasih padanya," sambung Alva lagi, masih santai tanpa beban.
"Pastilah dia nolak Lo. Gue rasa dia sudah sikat bibirnya ratusan kali buat hilangin racun bibir lo," tawa Kiano mengejek.
"Enak saja. Bibir gue dibilang racun. Ni bibir udah bikin cewe cewe ngga kuat bercinta sama gue," respon Alva vulgar. Walau kesal, tapi Alva terkekeh lagi.
Walaupun samar, Alva masih mengingat keterpakuan Tamara saat bibir mereka bertemu.
Ciuman pertama, heh, gelaknya membatin Kalo ngga ada pengaruh obat itu, ngga mungkin dia bisa seberani ini mencium bibir atlet karate nasional yang super galak. Terpikir aja engga pernah.
Kiano memberikan tatapan penuh ejekannya atas kepedean Alva sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa cukup berat karena membayangkan Aruna nantinya pasti akan memarahinya.
*
__ADS_1
*
*
Saat berada di kamarnya, Tamara pun menceritakan kejadian yang dia alami saat menemukan Alva yang babak belur, sampai harus membawa Alva ke kamar hotel. Tapi tentang pelecehan yang dialaminya, Tamara hanya mengatakan sedikit saja. Ngga mungkin dia menceritakan semua hal yang akan memalukan dirinya. Ngga mungkin juga Tamara ikhlas menerima Alva jadi suaninya. Bisa jadi mereka akan cerai setelah kata Sah diucapkan.
"Alva cuma sempat cium pipi Tamara, tante. Setelah itu Tamara terpaksa lumpuhkan Alva dan mrendamnya di bath up sampai Regan, Arga dan Glen datang."
Keempatnya saling pandang dan tentu saja langsung percaya akan kemampuan bela diri Tamara.
"Menurut aku, Alva berbohong, mba. Dia pasti punya tujuan sampai seberani ini," ucap mami Kiano hati hati.
"Bukannya kata kamu kalo Alva dIjodohkan dengan Meti?" sambung mami Kiano lagi karena ngga ada tanggapan dari mami Alva.
"Tadi malam sudah dibatalkan karena pengakuan Alva yang ingin bertanggungjawab pada Tamara," jelas mami Alva dengan senyum di bibirnya.
Di hati mama Alva ada satu keyakinan hanya Tamara yang bisa menjinakkan Alva, putra tengilnya. Beliau akan merealisasikan keinginan Alva.
Tamara sampai ternganga mendengarnya.
Gila! Orang itu sudah gila! Tamara terus saja mengumpat Alva.
"Ini ngga benar, tante," bantah Tamara dengan bibir bergetar. Dia ngga akan sudi bersuamikan laki laki songong dan kurang ajar ini.
"Sudah terlambat Tanara. Bentar lagi orang tua Tamara juga akan datang," tukas mami Alva membuat Tamara lagi lagi terkaget kaget.
Kenapa semudah ini membuat orang tuanya datang? batinnya penuh tanda tanya.
"Tamara, tante dan om langsung mencari tau siapa orang tua Tamara. Ternyata om penah bekerja sama dengan papa Tamara. Om dan tante makin ngga mungkin menolak keinginan Alva, apalagi kalo sampai orang tua Tanara tau perbuatan ngga terpuji anak tante," tegas mami Alva panjang lebar.
NGIIINNGGG
Kepala Tamara langsung merasa sangat pusing.
Habislah dia kalo oramg tuanya tau kelakuan kurang ajarnya Alva padanya.
"Siapa orang tua Tamara?" tanya mami Kiano ingin tau
"Hendi Wicaksono, pengusaha batu bara," jelas mami Alva.
"Perusahaan kita pernah dua kali kerja sama dengannya," sambung mami Alva cukup lega.
"Hendi Wicaksana? Bener Tamara, kalo kamu putrinya?" tanya mami Kiano semakin ngga percaya.
__ADS_1
Tamara menghela nafas panjamg.
"Iya, tante. Beliau papi saya. Saya putri ya yang ketiga," jawabnya terpaksa menjelaskan. Padahal selama ini dia selalu menutupi identitas keluarganya. Hanya Aruna dan keluarganya yang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya