Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Inginnya Reno


__ADS_3

"Lo mau kemana?" tanya Reno menjajari langkah Kiano yang keluar dari ruangannya.


"Gue mau jemput Aruna di rumah sakit," ucap Kiano sambil terus melangkah.


"Oooh."


Senyum Reno terbit melihat wajah calon papi muda yang sangat menyayangi istri dan anak yang masih berupa embrio.


"Lo kelihatan bahagia," kata Reno jujur.


Kiano menatapnya dan menampilkan segaris senyum.


"Ya, gue ngga lama lagi akan jadi papi," balasnya penuh semangat.


"Masih tujuh bulan lagi, bro. Sabar," kekeh Reno.


Kiano semakin melebarkan garis senyumnya.


"Gue ngga mau kehilangan hari hari penting selama menunggu dia lahir," katanya sambil menutup pintu lift begitu Reno sudah masuk di dalamnya.


"Kapan, ya, gue ketemu perempuan yang bisa bikin gue berubah kayak lo," cetus Reno dengan mata setengah berharap.


Papinya sibuk bekerja sampai maminya pergi dan hanya membawa adiknya saja ikut dengannya. Sedangkan dia ditinggalkan begitu saja bersama papi yang ngga mempedulikan apa pun yang diperbuatnya Bahkan maminya sudah menikah lagi. Reno akui suami baru maminya sangat perhatian. Mungkin itu yang maminya ngga dapat dari papinya.


"Tergantung niat lo," sahut Kiano ringan.


"Gue ikut lo ya, ke rumah sakit. Siapa tau ada perawat yang mau gue jadiin istri," canda Reno sambil ngakak.


"Seperti asisten Aruna dulu? Suster Uci?" tebak Kiano kemudian tertawa.


Reno makin ngakak mengingat tingkah manja sang suster yang dulu cukup menghiburnya.


"Sayang udah punya pacar," selanya masih ngakak.


"Lah, lo ngga serius," ejek Kiano dalam derai tawanya.


Mereka berdua melajukan mobil masing masing ke rumah sakit tempat Aruna bekerja.


"Gur mau ke kantin dulu. Siapa tau ada suster cantik jomblo," katanya setelah keluar dari mobilnya.


"Oke," balas Kiano yang juga sudah keluar dari mobil.


"Semoga ketemu, ya. Tinggal lo berdua Glen yang belum kelihatan hilalnya," ledek Kiano dengan senyum lebarnya bersama Reno.

__ADS_1


Memamg dirinya dan Glen yang belum dijodohkan, tawanya dalam hati.


Keduanya pun mengambil arah yang berbeda.


Malang sekali bagi Reno, kantin hanya berisi para perawat yang sudah berumur dan pengunjung yang juga sudah mendekati usia emas.


"Apes, gue," rutuknya kesal kemudian mengitari sekeliling kantin dengan matanya.


**DEG


DEG**


Jantungnya tiba tiba berdetak keras. Matanya menyorot tajam, dan mendadak ada kemarahan dalam hatinya.


Gadis yang berani beraninya mem-php dirinya ternyata ada di sini.


Kenapa? Mau cek kehamilan? sinis Reno dalam hati.


Dia yakin, pasti gadis itu telah berhasil menjual kevirginannya dengan harga yang lebih tinggi dari yang Rain tawarkan padanya.


Dasar gadis plin plan, umpatnya kesal.


Tanpa disadari Rain, Reno mendekatinya dengan langkah perlahan dan kini sudah berdiri di belakangnya.


Hidungnya mengendus bau harum segar dari rambut yang sangat lurus dan panjang.


Adrenalinnya naik tiba tiba. Antara perasaan marah dan ingin yang belum kesampaian.


Ngga virgin malah baik untuknya.


Saat Rain membalikkan badan karena pesanan bubur ayam yang akan dimakan papanya sudah ditangannya, jantungnya berdetak sangat keras melihat wajah Reno yang mengeras di hadapannya.


"Aaaa!" jeritnya kaget kemudian spontan menutup mulutnya.


Sejak kapan dia di sini? batinnya takut.


Mengingat dia pernah menolak Reno di saat saat akhir karena bantuan yang datang dari dokter Aruna.


"Ikut aku," bisik Reno dingin sambil menyeret tangannya dan melangkah pergi meninggalkan kantin.


"Ke kemana?" tanya Rain gugup dengan sebelah tangan yang masih memegang plastik berisi bubur.


Reno ngga menjawah, tapi terus saja menyeret Rain agar mengikutinya.

__ADS_1


"Sebentar, kak, aku mohon," pinta Rain mengiba karena papanya belum makan dan kepengen makan bubur ayam.


Reno menghentikan langkahnya, ngga tega juga mendengar suara memohon gadis itu yang terdengar seksi di telinganya.


Pasti akan lebih panas kalo di ranjang, batin Reno sambil menyeringai. Perasaan kesal karena ingin yang dulu ditolak begitu saja membuat Reno ingin membalasnya sekarang. Mungkin akan beronde ronde.


Rain menghampiri seorang perawat yang lewat dan memberikan plastik berisi bubur itu padanya dengan pesan agar disampaikan ke papanya yang sedang menunggu bersama mamanya.


"Sudah?" tanya Reno dingin.


Rain hanya menganggukkan kepalanya dan dengan terpaksa mengikuti langkah lebar kaki Reno.


"Ki kita mau kemana, kak?" tanya Rain semakin gugup dan takut.


"Melakukan yang belum sempat dilakukan," jawab Reno menyindir penuh makna.


"Ja jangan, kak," tolaknya dengan wajah pucat.


Reno ngga menjawab, tapi terus saja menyeret Rain sampai ke mobilnya.


Kemudian membuka pintu mobil dan menatap Rain penuh intimidasi.


"Masuk!" perintah Reno galak.


"Kak, aku minta maaf. Tapi aku harus kembali ke rumah sakit," mohon Rain mulai ketakutan.


Aura yang Reno pancarkan cukup mengerikan. Begitu dingin dan tajam.


Tanpa kata Reno mendorong tubuh Rain dan mengenakan seatbeatnya.


Setelahnya membanting pintu mobil sangat keras sampai membuat Rain terlonjak saking kagetnya.


Dengan cepat Reno berjalan memutar bagian depan mobil dan masuk ke dalam mobilnya, serta langsung melajukannya ke tempat perjanjian dulu yang gagal terealisasikan.


Rain mengusap air matanya. Dulu dia memamgnya menginginkannya. Tapi sekarang sudah ngga lagi. Rain ngga perlu lagi memikirkan apa apa lagi soal biaya pengobatan dan keperluan sehari harinya. Dokter Aruna benar benar membantunya tanpa memperhitungkan betapa besar biaya yang sudah dia keluarkan dan ngga meminta untuk diganti.


Apa menjadi dokter bisa menjadi sangat kaya? batin Rain saat itu.


Bahkan dokter Aruna membantunya mencari pekerjaan paruh waktu sebagai kasir di sebuah kafe atas rekomendasi sang dokter.


"Kak Reno, dulu aku khilaf. Sekarang ngga lagi," katanya mulai terisak.


Reno hanya mendengus. Sudah biasa dia melihat kebohongan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2