Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Masih Perjuangan Arga


__ADS_3

Setelah dari makam Ayana, Arga menjenguk sahabatnya yang berada di rumah sakit. Regan.


TOK TOK


CEKLEK


Bibirnya tersenyum nakal saat dengan sengaja langsung membuka pintu setelah mengetoknya dua kali.


"Hai," sapa Regan dengan senyum lebarnya. Sementara Dinda, istri Regan tampak malu malu saat ketahuan melepaskan bibirnya dari Regan.


Regan, lo berubah menjadi ngga tau malu, batin Arga geli. Jauh sekali dari kesan Regan yang cool dan kalem.


Sekarang Regan cosplay menjadi Alva atau Reno atau Glen. Tiga orang yang ngga punya urat malu.


Tapi saat Dinda nau pergi, Regan menahan tangannya.


"Mau kemana?" tanya Regan lembut.


"Emm.... mungkin Kak Arga mau bicara penting," ucapnya agak malu karena ketahuan berciuman dengan Arga, calon suami dari dosennya.


"Ngga, kok. Santai aja, Din. Kamu di sini aja, siapa tau Regan butuh sesuatu dari kamu," jawab Arga sarat makna.


Wajah Dinda semakin merona melihat Arga dengan santai kemudian duduk di seberang Dinda. Dii dekat bagian dada Regan yang masih terbalut perban.


"Tuh, ngga apa apa, kok, dia. Kamu duduk di sini aja. Temanku yang ini baik, kok," kata Regan agak memaksa agar Dinda tetap duduk di sisinya, di atas tempat tidur seperti tadi.


"Ya, mas," sahut Dinda pelan dengan wajah semakn merona.


Arga tersenyun mendengar panggilan mas.


Pantas Regan susah berpaling, batinnya geli.


"Gimana dada lo? Masih sakit?" tanya Arha sambil melihat perban yang masih membaluti dada Regan.


"Mendinganlah. Gue penginnya cepat sembuh," ucapnya sambil melirik nakal Dinda.


Arga tergelak mendengarnya


Masih penasaran ya lo, ejek Arga dalam hati.


Paling sahabatnya hanya kissing kissing aja.


Kasian, cibirnya lagi dalam hati.


"Untung ngga kena bagian vital, ya," ujar Arga agak lega dengan nasib baik Regan. Lucky man.


"Iya," sahut Regan penuh syukur. Waktu itu sangat berbahaya sekali.


"Riko gimana? Dia udah nemuin mamanya di penjara?"


"Nggak sama sekali. Katanya dia hanya berdo'a saja, menyerahkan semuanya pada Allah."


"Pusing, 'kali dia kalo udah nemuin mamanya "


"Gue rasa Riko sudah sangat paham watak mamanya."


Tangan Regan mengelus hijab yang melindungi rambut Dinda. Untung tadi Dinda ngga kebablasan sampai membuka hijabnya


Mungkin kalo mereka berada di rumah sendiri, Dinda baru merasa nyaman ngga menggunakan hijabnya.


Kalo masih berada di rumah sakit, siapa pun bisa masuk tiba tiba. Terutama sahabat sahabatnya yang suka jahil.


"Gue rasa juga begitu."


Hening.


"Katanya Qonita batalin pernikahan kalian," ucap Regan prihatin mengalihkan topik. Regan juga ingin tau apa yang akan dilakukan sahabatnya.

__ADS_1


"Tapi orang tua kita jalan terus,' kekeh Arga berusaha santai walau ada nada getir yang berusaha dia sembunyikan.


"Lo harus berusahalah. Kasian orang tua kalian," ucap Regan sambil memggenggam erat jemari Dinda.


Dinda juga balas menggenggam. Dia pun merasa kasian dengan bu dosennya.


"Iya. Tapi gue mau nyoba ngambil hati dia lagi," tekat Arga sambil tersenyum pada DInda yang kelihatan ngga enak, seperti sedang menguping.


"Lo harus cepat cepat. Kata Dinda, bu Qonita sekarang sering bikin kuiz," kekeh Regan membuat Arga semakin terkekeh


Dinda mencubit lengan Regan, kesal karena cuitannya malah diungkapkan pada Arga.


"Aduh, yang. Tenang, Arga ngga bakalan buka rahasia ini kalo kamu yang nyebar. Bisa aja Rain, kan," ringis Regan menjawab.


Tapi jawabannya malah membuat Dinda gemas, hingga lebih dalam mencubit lengan Regan.


Regan yang hanya pura pura kesakitan kini tergelak.


Arga makin tergelak melihat keduanya.


Ngga nyangka bu dosen membuat mahasiswinya menderita karena pertengkaran mereka.


Kamu memang kekanakan, batinnya geli. Kembali dia mengingat kata kata Arik kalo sepupunya yang kelihatan kuat dan galak itu aslinya sangat manja dan kekanakan.


*


*


*


Arga kini membuntuti mobil Qonita yang baru saja keluar dari parkiran kampus.


Dia dapat info dari Arik, tentang jam pulang Qonita mengajar.


Arga masih bingung apa yang akan dilakukannya. Untuk langsung minta maaf, Arga merasa yakin kalo Qonita akan menolaknya mentah mentah. Padahal deadline pernikahan mereka semakin dekat.


Laki laki yang terkenal usil dan jahil itu sengaja menancapkan paku pada salah satu ban mobil favorit Qonita.


Selama dua hari Arik menyuruh para pemgawalnya untuk terus membuntuti Qonita.demi keamanan gadis itu.


Dan hari ini lah yang sudah bisa dipastikan kalo ban mobil Qonita akan mulai menunjukkan masalahnya. Karena itu sekarang adalah tugas Arga.


Dia akan muncul sebagai pahlawan yang akan menolong Qonita. Pasti sepupunya akan sangat terkesan.


Arik sangat yakin rencananya akan berjalan sukses, karena Qonita sama sekali ngga tau masalah mobil. Gadis itu hanya taunya membawa saja, dan bila ada masalah, dia akan menelpon Arik untuk minta bantuan.


Rencana itu pun berjalan sukses. Arga melihat mobil Qonita mulai berhenti di dekat ninimarket yang jalannya ngga begitu rame. Hari pun sudah rembang petang.


Qonita yang merasakan jalan mobilnya terasa aneh pun menghentikannya di depan sebuah mini market.


"Kenapa, ya?" tanyanya bingung. Sebenarnya sejak pagi tadi saat dia berangkat, mobilnya sudah terasa kurang enak. Hanya saja Qonita belum sempat menelpon abang sepupunya.


Qonita pun membuka mobilnya dan mulai memeriksa ban mobilnya satu persatu.


"Aaah," serunya stres saat melihat salah satu ban mobilnya kempes


Qonita mulai menyandarkan tubuhnya di badan mobil sambil.menekan nomer ponsel sepupunya.


Tapi wajahnya bertambah kesal ketika sepupunya ngga bisa dia hubungi.


"Kemana, sih. Aku lagi butuh bantuan, nih, malah ngilang. Kalo lagi ngga butuh, muncul terus," omel Qonita sewot.


Tapi dadanya berdesir saat melihat mobil sport merah yang melaju melewati dirinya.


Dia yakin itu mobil Arga. Bahkan saat melihat plat nomernya, hatinya mendadak sakit karena laki laki itu mengabaikannya.


"Dia ngga lihat apa?" gumamnya sedih. Mobil itu terus saja melaju pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Teringat lagi kata kata dingin laki laki itu yang merendahkannya. Seakan akan bibirnya diobral dengan murah.


Qonita akui dia salah, karena kepo. Tapi wajarkan kalo dia ingin tau kenapa kadang kadang Arga menatap lama isi dompetnya.


Seperti sedih


Ngga mungkin dia sedih karena kekurangan uang, kan.


Karena rasa penasaran itulah membuat Qonita nekad melihat isi di dalam dompet Arga.


Dia ketahuan. Dia kecewa. Arga bukannya menghiburnya. Malah memarahinya. Seakan dia ngga berarti apa apa untuk laki laki kurang ajar itu. Tapi wajarlah, Arga hanya memberikan hatinya hanya lima persen saja.


Harusnya dia yang udah dengan sombongnya mengatakan pada Laki laki itu, kalo ngga akan memberikan sepersen pun hatinya, ngga perlu marah marah.


Tapi Qonita bingung dengan hati dan pikirannya yang ngga sejalan. Dia terluka melihat kemesraan mereka di foto itu. Padahal itu sudah sangat lama. Dia juga sakit hati mendengar kata kata dingin dan datar laki laki itu tentang hubungan mereka.


Qonita memejamkan matanya. Rasanya setelah kejadian itu Qonita merasa sangat sedih karena Arga ngga sekalipun datang menemuinya. Minta maaf mungkin. Tapi laki laki itu terlihat ngga peduli padahal Arga pasti tau kalo kedua orang tua mereka tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka.


Gimana kepala Qonita ngga sangat pusing.


Apesnya lagi ketika Qonita merasakan titik titik air yang jatuh dari langit membasahi tubuhnya.


Langit pun ikut menangis melihat nasibnya.


Qonita menengadahkan wajahnya menjemput gerimis itu sambil memejamkan mata.


Eh, batin Qonita kemudian membuka matanya karena ngga merasakan lagi titik titik air itu membasahi wajahnya.


Dia menatap bingung pada payung yang menaunginya.


Siapa?


"Ngapain ujan ujanan."


DEG


Qonita terkejut melihat Arga yang sedang memegang gagang payung dan sedang tersenyum lembut padanya.


Keduanya saling bersitatap dalam diam. Tapi dengan dada berdebur seperti ombak pantai selatan yang ngga pernah berhenti menghantam bibir pantai.


"Maaf," kata Arga sambil memgulurkan buket bunga mawar putih yang tadinya disembunyikan di balik punggungnya.


Qonita bergeming dengan mata yang terasa panas. Tangannya terulur meraih mawar putih yang diberikan Arga.


"Hati hati, banyak durinya," kata Arga pelan.


Qonita masih ngga bisa menjawab. Tapi air matanya rasanya sudah mau keluar.


Kenapa ngga ngasih bunga yang ngga ada durinya aja, sih, protes Qonita dalam hati. Tapi bibirnya rasanya berat untuk berbicara. Dia masih ngga nyangka kalo Arga akan berbalik menghampirinya.


"Mau beli bunga lili putih, tapi udah habis. Jadinya mawar putih aja. Kalo mawar merah takut kamu tambah marah," kata Arga mencoba bercanda. Senyumnya terlihat sangat memikat.


Arga mengambil dompetnya dan membentangkannya di depan Qonita.


"Cuma ada foto kamu sekarang," katanya dengan mata bersinar lembut.


Qonita tak tau harus bereaksi seperti apa saat melihat fotonya yang sedang tersenyun lebar. Sepertinya diambil secara candid, karena Qonita ngga pernah berpose seperti itu untuk dijepret Arga.


"Kapan?" gumamnya pelan.


"Dulu aku sempat mengawasi kamu waktu mama dan papa akan menjodohkan kita. Sebenarnya cukup banyak foto foto kamu. Tapi ini yang paling cantik." Senyum lebar menghiasi wajah Arga yang sangat tampan.


Qonita menatap Arga ngga percaya dengan matanya yang sudah berkabut.


Dengan lembut Arga merengkuh Qonita dalam pelukannya.


Air mata Qonita pun tumpah di dada bidang Arga

__ADS_1


__ADS_2