Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tensi Rendah


__ADS_3

Aruna mengomeli Kiano dengan kesal karena laki laki itu banyak meninggalkannya kissmark di leher dan dadanya.


Kenapa dia sampai ngga sadar, sih, rutuk Aruna lagi.


Aruna menghembuskan nafas kasar.


Tadi setelah berhubungan cukup lama, Kiano menggendongnya ke bath up. Dan Ketika Kiano juga ingin ikut masuk ke dalam bath up, Aruna mengusirnya. Aruna yakin kalo Kiano ikut ke bath up bersananya, mereka ngga akan jadi mandi, tapi melakukan aktivitas yang lain.


Kiano pun mengalah dan mandi di shower. Tentu saja laki laki itu sudah selesai lebih dulu. Sedangkan Aruna membutuhkan banyak waktu untuk membersihkan tubuhnya. Berendam di air hangat membuat bekas hisapan dan gigitan Kiano sedikit menyembuhkannya.


Dia seperti monster penghisap darah, umpat Aruna lagi.


Dan aku mangsa yang sangat jinak, hinanya pada dirinya sendiri.


Ciiihh, bibirnya mencebik kesal.


TOK TOK


"Dokter sudah datang, Aruna," panggil Kiano mengagerkannya.


APA?


Wajah Aruna langsung memerah.


Apa nanti kata dokter saat melihat leher dan dadanya penuh bercak?


Suaminya na*fsunya gede ya mbak?


Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangannya frustasi. Dia ngga sanggup keluar dari kamar mandi. Padahal tadi dia sudah mengatakan pada Kiano kalo dirinya baik baik saja. Ngga perlu seorang dokter untuk memeriksanya.


Apa Kiano lupa kalo dia seorang dokter? Bahkan dokter spesialis, batinnya mengomel panjang lebar.


"Aruna? Kamu ngga pingsan, kan?" suara Kiano terdengat panik.


Aku yang bakalan pingsan kalo ketemu dokter karena malu, batinnya mumet dan bingung.


Padahal Kiano memiliki IQ tinggi. Harusnya kalo Aruna bilang dia sehat, ya sehat. Ini masih saja meragukannya.


"Aruna, aku dobrak ya," seru Kiano tambah panik.


Aruna menghela nafas. Terpaksa dia keluar dan menghadapi rasa malu yang besar.


Semoga saja bukan dokter di rumah sakutnya, do'a Aruna dalam hati.


"Iya, sebentar," jawabnya enggan.


Aruna pun mulai mengenakan kaos over size nya. Sementara bawahannya Aruna mengenakan rok span yang panjangnya selutut.


CKLEK


Saat pintu di buka, Aruna kaget karena Kiano sudah berdiri di depannya dengan wajah cemas.


Tanpa kata Kiano pun menggendong dirinya membuatnya kembali terkejut mendapat perlakuan hangat Kiano. Jantungnya kembali berdebar kencang dan wajahnya langsung merona.

__ADS_1


Perlakuan perlakuan Kiano selalu membuat hatinya berbunga bunga dan melayang. Aruna pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Kiano..


Percintaan mereka pun selalu dilakukan Kiano dengan lembut. Kiano memperlakukannya bagai keramik yang mudah pecah. Sangat hati hati. Aruna merasa sangat dihargai dan dicintai. Mungkin karena itu juga dirinya mulai luluh dan mempercayai Kiano lagi.


Tapi momen romantis itu langsung buyar dan berganti rasa malu yang amat sangat besar ketika melihat dokter Nirma yang bekerja satu rumah sakit dengannya berada di kamarnya juga. Rasa panas menjalari wajahnya sampai ke leher Aruna.


Kok, bisa Kiano meminta dokter Nirma yang datang?


Apa mau memeriksa dirinya?


Aaahh... Tidak!


"Aku sengaja memanggil rekan kerja kamu di rumah sakit," katanya tanpa rasa bersalah. Sementara sang dokter mengulum senyum melihat wajah malu Aruna karena kissmark di lehernya yang terlihat jelas.


"Aruna, saya akan cek tensi kamu ya," kata dokter Nirma lembut sambil menahan senyum. Dia tau saat ini Aruna sedang merasa sangat malu terhadapnya.


Sungguh suami yang polos, tawa dokter Nirma dalam hati. Tapi dokter Nirma malah bahagia karena dokter Aruna mendapatkan suami yang sangat mencintainya, juga perhatian padanya.


Mungkin suaminya ngga sadar udah memperlihatkan kissmark yang telah dia ukir di sepanjang leher dan dada istrinya. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah kesembuhan istrinya.


Dokter Nirma merasa iri dengan pasangan muda ini. Tadi pun dia melihat Aruna yang digendong ala brydal oleh Kiano.


"Tensinya rendah, dokter Runa," ucap dokter Nirma membuat Kiano menatapnya khawatir.


"Mungkin karena masih terpengaruh kejadian tadi sore," jelas dokter Nirma lagi maklum. Dirinya saja yang mendengar ceritanya menjadi terguncang, apalagi dokter Aruna yang menjadi korban langsung.


"iya, dokter," jujur Aruna menjawab.


Aruna mendelikkan matanya pada Kiano.


Tuh dengar. Aku butuh banyak waktu istirahat, teriaknya dalam hati


Kiano yang mendapatkan tatapan kesal Aruna mengernyitkan dahinya bingung.


Kenapa dia marah?


Untungnya dokter Nirma cukup mengerti, tidak meminta Aruna menaikkan kaos Over size nya. Beliau hanya memberikan sejumlah vitamin untuk mempercepat pemuliham kondisi Aruna.


"Cepat sembuh ya, Aruna. Sekarang penjagaan di rumah sakit diperketat. Tiap masuk di gerbang harus menunjukkan identitas sama pake sidik jari. Jadi kamu ngga usah khawatir lagi, ya," ucap dokter Nirma menenangkan hati Aruna.


Aruna menganggukkan kepalanya walau masih ragu.


"Kemarin rumah sakit kecolongan. Supir yang asli rupanya diculik. Untung ngga apa apa dan berhasil selamat. Sekarang polisi lagi menyelidiki. Semoga cepat ketahuan ya, siapa dalangnya," sambung dokter Nirma lagi.


"Istirahatlah beberapa hari. Pasien pasien kamu akan merindukan kamu," canda dokter Nirma membuat Aruna dan Kiano tersenyum.


Akhirnya dokter Nirma pun pamit. Aruna bersyukur tadi ngga perlu membuka kaos over size nya. Dokter Nirma hanya mengecek tensinya aja.


"Aku lega sekarang kamu ngga apa apa. Cuma tensi kamu harus dinormalkan," kata Kiano sambil merebahkan dirinya di paha Aruna yang masih duduk menyandar di tempat tidur.


Aruna membelai perlahan rambut tebal Kiano. Keduanya saling pandang dengan senyum tipis di bibir.


"Mau makan sate kambing? Biar tensi kamu yang rendah cepat naek," tawar Kiano sambil memutar ponselnya.

__ADS_1


"Ya," sahut Aruna setuju.


"Oke, sayang. Aku pesan ya."


Kiano pun memesan sate kambing dua porsi pada layanan resort.


"Kiano, emmm... ada yang mau aku tanyakan," ucap.Aruna ragu ragu.


"Apa?" tanya Kiano kini menatap wajah Aruna heran..Dia sudah melakukan proses pemesanan. Sebentar lagi akan diantar ke homestay mereka.


Aruna masih bingung untuk meneruskan apa yang menjadi ganjalan di hatinya. Aruna ngga mau dianggap sebagai istri yang terlalu posesif atau pencemburu.


"Kamu mau nanya apa, sayang?" tanya Kiano lembut. Rasanya nyaman sekali saat rambutnya dibelai Aruna.


"Emmm...." Aruna masih menggantungkan kalimatnya.


"Mau dicium dulu baru ngomong?" canda Kiano menggoda. Tapi dalam hatinya, dia berkata kalo itu bukan candaan, tapi serius, Aruna.


Aruna reflek mendengus kesal.


Selalu itu dalam pikirannya..


Kiano terkekeh melihat eksoresi kesal istrinya.


"Oke oke, sekarang ngomong, dong, aku penasaran," kata Kiano mengalah dengan sisa tawa di bibirnya.


"Ngga jadi," tolak Aruna kesal.


"Beneran mau dicium?"


"Kiano!"


Kiano tertawa lagi.


Aruna menggigit bibir bawahnya


Haruskah dia bertanya soal.Claudia?


TOK TOK TOK


"Sebentar, sayang. Sate kita datang," kata Kiano sambil bangkit dari tidurnya.


Aruna ngga menjawab hanya menatap punggung Kiano yang menjauh untuk membuka pintu.


Ngga lama kemudian, Kiano menghampirinya dan lagi lagi tanpa kata meraih tubuhnya untuk.digendong ala brydal.


"Kita makan sate dulu ya. Setelah itu baru aku makan kamu," canda Kiano membuat Aruna mencubit lengannya tanpa ampun.


"Ampun, Aruna. Nanti kamu jatuh loh," ringis Kiano. Lengannya pun sukses berwarna merah.


Cubitan istri memang nikmat


Aruna yang takut jika jatuh menghentikan cubitannya dan mengalungkan kedua tangannya di leher Kiano membuat laki laki tampan ini tergelak gelak melihat kelakuan manis istrinya.

__ADS_1


__ADS_2