Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Dihajar


__ADS_3

Alva pun pergi tanpa mempedulikan teriakan teriakan histeris Meti. Dia terus melangkah keluar dari resto yang membuat nafasnya sesak. Tapi setelah sampai di parkiran restoran nafasnya menjadi tambah sesak melihat mobil sport terbaru yang dibelikan papinya dua hari yang lalu, yang akan dia tinggalkan. Demi harga dirinya yang menolak Meti.


Dia pun mengelus kaca lampu depan mobilnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Selamat tinggal my love, aku pasti akan merindukanmu," gumannya dengan hati sangat sedih. Setelah mengelus kaca lampu mobil itu sekali lagi, Alva berjalan lunglai dan menaiki taksi yang sedang nganggur.


Dia butuh banyak alkohol untuk melupakan kesedihannya akibat banyak kehilangan haknya. Itu terlalu menyakitkan.


Tingkahnya tadi perhatikan papinya dan papi Meti. Keduanya menyusul keluar meninggalkan istri istri mereka yang sibuk membujuk Meti yang ngga henti hentinya menangis pilu.


"Bal, aku ngga pa pa Alva ngga jadi menikahi putriku. Aku sudah sangat senang karena dia sangat menyayangi Meti," kata Papi Meti ngga tega melihat kelakuaan Alva tadi. Tapi bibirnya mengulas sedikit senyum.


Papi Alva tersenyum lepas. Bebannya seakan lenyap.


"Terimakasih. Bagiku Meti sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Apa pun statusnya, kami sangat menyayangi Meti, putrimu," ucapnya lega karena sahabat sekaligus tetangganya ngga marah dan membenci dirinya dan putranya.


Papi Meti balas tersenyum hangat.


"Lupakan ancamanmu dengannya. Kembalikan barang barangnya tadi. Ngga tega aku ngelihatnya," kekeh papi Meti.ngga tahan lagi membuat papi Alva ikut terkekeh.


Beliau tau sehedon apa kelakuan Alva. Anak itu ngga mungkin bisa kehilangan kemewahan yang sudah menjadi ciri khasnya.


"Biarkan saja. Aku ingin dia berubah," sahutnya tanpa mengurangi durasi tertawanya.


Papai Meti tambah tergelak gelak.


"Kamu tega banget," celanya dalam derai tawanya.


Papi Alva ngga menjawab, tapi tambah tergelak sambil membayangkan putranya akan bekerja keras untuk memenuhi segala keinginannya. Atau bahkan berhemat, dan mengurangi keinginan keinginan hidup hedonnya.


Jadilah laki laki kuat dan bertanggung jawab, Alva.


*


*


*


Langkah Alva yang akan memasuki club mewah langganannya terhenti saat dia berpapasan dengan seorang laki laki tegap berjas hitam yang melangkah keluar meinggalkan club sambil menelpon.


Nama Kiano yang dia sebut membuat Alva penasaran dan mengikuti kepergian orang itu. Sampai akhirnya dia memdengar dengan jelas percakapan terakhir laki laki itu.


Alva yang sudah panas menjadi tambah panas dan langsung menghadiahkan bogemannya ke pipi laki kaki itu sampai jatuh dan ponselnya terlempar entah kemana.


Orang ini pasti lah ada hubungannya dengan yang mau mencelakakan Aruna, batinnya yakin.


Kembali Alva menendangnya membuat laki laki itu tambah tersungkur. Lagi lagi Alva menghajarnya membuatnya hanya bisa meringis.


Setelah melihatnya ngga berdaya, Alva segera menarik tangan laki laki itu dan menyeretnya meninggalkan lorong remang remang pojokan club.


"Lo ikut gue ke kantor polisi," sentaknya geram.

__ADS_1


Alva akan meminta bantuan sekuriti club yang biasa berada ngga jauh dari situ untuk membantunya membawa laki laki itu ke kantor polisi.


Sebelah tangannya mengambil ponsel. Dia akan menelpon Kiano dan mengabarkan tangkapan besar ini. Pelaku yang dicari cari kini dia temukam dalam kondisi hidup dan sudah babak belur dihajarnya.


BUG


"Aahh," jerit Alva ketika merasakan bahunya dipukul balok kayu. Dia hampir terjatuh. Untung tadi dia sempat merasakan angin dari pukulan balok itu ke arah kepalanya, jadi sempat merunduk menyelamatkan kepalanya yang sangat berharga.


Matanya membesar melihat ada lima orang laki laki tegap yang kini sudah mengurungnya dengan berbagai senjata. Ada yang bawa balok kayu dan juga tongkat.


Alva tersenyum miring. Dengan cepat dia menekan nomer 1, yang merupakan nomer Glen.


"Hajar dia!" perintah laki laki babak belur yang kini sudah terlepas pegangannya dari tangan Alva. Matanya menyorot penuh rasa sakit hati.


Tanpa banyak kata, mereka pun mengeroyok Alva. Tempat itu agak sepi karena di pojok club. Hanya orang yang ingin bercinta dengan cepat datang ke situ.


BUG BUG BUG


"Sok ikut campur!"


"Mati lo!"


"Ngga sayang umur!"


"Rasakan!"


Alva melawan habis habisan..Tapi dia sendirian dan ngga bersenjata apa pun. Dia pun menjadi bulan bulanan pukulan, tendangan.dan ayunan balo .dan tongkat yang menghajar seluruh tubuhnya.


Saat nafas Alva sudah termegap megap dengan darah yang bercucuran dari kening, tangan dan kakinya, satu bayangan balok yang bentar lagi akan menghantam kepalanya meluncur cepat.


Temannya pun menahan balok yang akan mengakhiri hidup Alva dengan kesal.


"Kenapa?" tanya.temannya kesal. Dia masih dendam karena Alva tadi sempat memukul dan menendangnya.


Laki laki itu menampilkan seringai jahatnya.


Dia berjongkok.dan menarik rambut Alva hingga dia terdongak.


"Kita buat dia mati tersiksa," kata laki laki itu sangat dingin.


Dia pun mengambil jarum suntiknya dan tanpa ragu menyuntikkan ke lengan Alva yang jasnya sudah dilepas, karena dipakenya untuk menangkis pukulan balok dan tongkat. Sekaligus juga untuk menyabet para laki laki itu. Hanya ada kaosnya yang sudah rrobek dan penuh darah segar.


Alva mengernyit ketika merasakan ujung jarun semakin dalam menembus daging lengannya.


"Obat itu?" tanya temannya yang masih memegang balok.


"Ya," seringai jagat bermain di wajahnya.


"Selamat menikmati rangsangan hebat sampai mati anak muda!"


BUGH

__ADS_1


Dia pun menghempaskan. kepala Alva dengan keras. Kemudian menendang tubuh Alva hingga terlempar ke pojokan yang lebih tersembunyi.


BUGH


"Dia akan mati kehabisan darah dan orang orang akan mengira dia mabok, over dosis dan berantam," tawa laki laki itu dibalas teman temannya. Mereka merasa aman, karena pojokan club ngga ada cctv.


"Kamu terlalu ikut campur. Rasakanlah!"


Keenam laki laki berjas itu pun pergi sambil masih sambil membawa balok dan tongkat yang terlihat samar percikan darah.


*


*


*


"Ngapain kita ke club," sergah Tamara ketika ketika mobil teman temannya malah parkir di sebuah club mewah.


"Sesekali Tamara," kata Wahyu sambil keluar dari mobil.


"Lo yakin bisa minum?" ejek Mita yang juga ikut keluar setelah Tamara.


"Bisalah," balas Wahyu sombong.


"Ayo, kita buktikan," tantang Gery sambil melangkah masuk ke dalam club.


Karena cemberut dan kesal Tamara berjalan sambil menunduk memyusul teman temannya.


BRUKK


Tamara hampir saja jatuh karena ditabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya.


"Hati hati, nona," kata orang yang ditabraknya sambil berlalu pergi.


Tamara ngga menjawab tapi malah memperhatikan rombongn orang yang tadi menabraknya, yang kini mereka menaiki suv hitam dan melaju pergi dengan cepat.


Tamara yakin itu para pengawal, karena mereka mengenakan jas hitam. Tapi tongkat dan balok yang dibawa mereka membuat pikran Tamara berasumsi negatif.


"Darah?" gumamnya saat melihat lengan kaos biru mudanya terdapat noda merah.


Tamara membaui noda yang.masih segar itu.


Amis, jantungnya berdebar keras.


Matamya berpaling ke arah datangnya orang orang itu.


Tembok tinggi yang membatasi club meninggalkan celah di bagian pojok yang remang remang.


Instingnya mengatakan seperti ada sesuatu yang salah.


"Tamara, ayo masuk!" seru Wahyu dengan suara lantang memanggil. Teman temannya pun sudah berada di depan pintu masuk club.

__ADS_1


"Duluan aja, aku menyusul," balasnya berseru sambil memberikan kode kode dengan tangannya.


"OK," balas Wahyu, Gery, Mita, Disa dan Ongki mengerti dan langsung memasuki club.


__ADS_2