Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Cerita Regan


__ADS_3

Regan merasa aneh dengan dirimya yang tiba tiba saja memikirkan gadis berkerudung itu.


Sudah lama juga rasanya dia ngga melihatnya. Menjadi CEO di perusahaan papanya benar benar membuatnya kehilangan waktu untuk bersantai.


Regan menatap jam di tangannya. Sebentar lagi jam makan siang.


Ada keinginan komyol dalam hatinya untuk maen ke kampus gadis itu.


Arga ke sana ngga ya? batinnya kemudian mengambil ponselnya. Kalo Arga mau ke kampus Qonita, dia ingin ikut bareng biar ngga celingukan sendirian.


"Ya, ada apa?" terdengar suara Arga menyahut. Ngga begitu jelas. Seperti kurang sinyal.


"Lo lagi di mana?" tanya Regan heran.


"Ini lagi lihat tempat prewed."


Regan terdiam. Saat mendengar suara perempuan yang rasanya dia kenal.


"Sama siapa lo?"


"Qonita," jelas Arga.


"Oh ya ya."


Pantas saja Regan seperti mengenal suara itu.


"Ada apa lo telpon? Ada tender?"


"Nggak," tawa Regan.


"Ya udah. Semoga lancar foto foto prewed lo."


"Thank's bro."


Regan pun menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


Dia memutar mutar ponselnya.


"Pergi nggak, pergi nggak?" gumamnya ragu.


Ngga berapa lama, Regan pun menyimpan ponselnya di saku celananya. Dia pun melepaskan ikatan dasinya dan melemparkannya ke meja.


Setelah mengambil kunci mobil dan dompetnya, Regan beranjak keluar meninggalkan ruangannya.


"Anda mau pergi, pak?" tanya Miya, sekertaris cantik yang diberikan papanya. Umur gadis itu pun hanya tiga tahun di bawahnya.


"Ya," jawab Regan cuek.


Padahal dia meminta sekertaris laki laki tapi papanya menolaknya.


Katanya Miya menguasai empat bahasa asing dan sangat kompetibel dalam membantunya dengan seabrek jadwal dan pekerjaannya.


Hanya saja Miya suka berpakaian seksi dan selalu berusaha menarik perhatiannya.


Tapi Regan ngga bakalan mengikuti jejak papanya yang jatuh dan terpedaya dengan sekertarisnya sampai punya anak.


Sekertaris di perusahaannya yang bersama para sahabatnya, Nova, juga suka berpakaian seksi. Tapi gadis itu bersikap profesional dalam pekerjaannya. Dia tidak pernah berusaha menggoda. Malah Glen, Alva dan Reno.yang suka menggoda.


Mungkin bagi mereka, penampilan seksi dapat membantu bos dalam memenangkan tender.


"Maaf, pak, hanya mengingatkan, jam dua ada meeting dengan klien dari Pert," ucapmya lembut.


Regan hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh. Dia terus berjalan pergi tanpa mempedulikan reaksi Miya atas sikap ngga sopannya.


Dan di sinilah Regan sekarang. Di pelataran kampus yang rame. Kali ini dia sedikit terlihat seperti mahasiswa yang tanpa jas dan dasi yang ditinggalkannya di kantor.


Dengan pe-de, Regan melangkah ke dalam kampus. Matanya mulai berputar mencari keberadaan Dinda. Kemudian berjalan lagi sambil terus mencari.


Gotcha


Regan akhirnya menemukan keberadaan Dinda dan dua orang temannya.

__ADS_1


Regan agak menyembunyikan dirinya, karena mengingat salah satu perempuan yang ada di sama selalu rutin mengirimkan pesan untuknya. Dan Regan mengabaikannya.


Regan tersenyum saat melihat keduanya pergi. Dia pun mulai mengikuti kemana Dinda akan pergi.


Jalan setapak di daerah cukup rawan dan cukup sepi, Regan memulai aksinya menutup mata si cantik itu dari belakang.


Dan senyumnya terbit sangat lebar ketika melihat wajah Dinda yang bersemu merah. Malu dan salah tingkah.


"Ikut aku, ya. Temenin aku makan," kata Regan sambil menarik tangan Dinda agar mengkuti langkahnya.


"Ki kita mau kemana?" tanya Dinda heran..Dia sedikit trauma berdekatan dengan Regan setelah kejadian yang dulu.


"Ke tempat yang sangat menyenangkan," goda Regan sambil mengedipkan matanya dengan ekspresisebelah nakal.


Dinda langsung berasumsi negatif.


"Aku ngga ikut, Kak Regan."


Langkah Regan terhenti, begitu juga Dinda. Bahkan ada sinar protes dari mata Dinda yang menyorot padanya.


"Mau digendong?" ancam Regan pura pura serius. Padahal dalam hati mau ngakak mengingat ekspresi takut Dinda dulu. Dan sekarang masih sama.


Dinda menggeleng cepat.


"Ayo," ucap Regan lagi sambil menarik lembut lengan gadis itu agar mengikutinya.


Regan pun membuka pintu mobil dan membantu Dinda masuk dan duduk di dalam mobilnya.


Dinda menahan nafas saat jarak mereka terlalu dekat. Regan membantu Dinda memasang seat beltnya.


Setelahnya Regan bergegas memasuki mobilnya.


Setelah menghidupkan mobilnya, sebelah tangan Regan di atas stir. Tapi sebelah lagi menggenggam erat jari jari tangan Dinda.


Dinda menatap Regan dengan jantung berdetak sangat kencang.

__ADS_1


Tapi Regan malah fokus ke depan, ngga memperhatikan tingkah gadis itu.


Hanya tangannya saja yang nakal sesekali meremas jemari Dinda yang kini tubuhnya sudah menegang kaku


__ADS_2