Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
SHOCK


__ADS_3

"Kenapa, sih, bukan laki lo yang ngantar. Kenapa mesti gue," seru Reno marah melihat wajah cantik yang tersenyum tanpa dosa menyambut kedatangannya.


Sepupunya yang sempat dia curi pil kbnya.


"Ulu ulu... marah nih.... Belum dapat ciuman Nadia, ya," tawa Vira berderai derai seraya berjalan mendekati mobil Reno.


Dia meninta Reno menjemputnya untuk mengantarkannya ke tempat praktek dokter kandungan karena Deri-suaminya ngga bisa mengantarnya.


"Lo percaya aja laki lo bilang ada meeting mendadak. Gue laki. Gue tau pasti dia mau nemuin selingkuhannya," sarkas Reno sambil membukakan pintu mobil untuk sepupu yang sebaya dengannya.


BUGH


"Adoooh," ringis Reno ketika kepalanya ditimpuk Vira dengan tas brandednya.


"Dery ngga kayak lo. Nih, dia meeting bareng abang Lo," kesal Vira pada sepupunya yang selalu saja menjelekkan suaminya.


Dia pun menunjukkan foto yang dikirimkan Dery. Memang Dery sedang meeting dengan abangnya dan beberapa orang yang lain.


"Hemmh," dengus Reno keras secara menutup pintu calon bumil tukang kdrt ini.


Saat mobil sudah meninggalkan rumah Vira, dan melaju ke arah praktek dokter kandungan, terdengar Vira berdehem.


"Lo kenapa malam itu masuk ke kamar gue sama Dery?"


Haahh, dia tau? Reno langsung gelagapan.


"Gaya lo kayak maling. Lo nyuri apa di kamar gue?" ketus Vira sambil melototi sepupu kurang ajarnya.


"Emang ada barang lo yang hilang?" tanya Reno berusaha tetap tenang dan cuek.


Vira terdiam.


Ngga ada yang hilang, sih.


Dia ingat, setelah melihat rekaman cctv saat Reno masuk ke kamarnya yang hanya sebentar, Vira langsung mengecek posisi semua barang di kamarnya.


Hanya satu yang berubah, letak vitamin penyubur kandungannya.


"Lo pengen hamilin siapa sampai ngasih vitamin penyubur kandungan gue!"


CCKKKIIIITTT!


"Reno!" seru Vira marah campur kaget karena Reno langsung ngerem mendadak.


Dia langsung mengelus perut yang nantinya akan ada calon anaknya.


BUGH BUGH BUGH


"Calon anak gue kaget, bodoh!" marahnya sambil memukul lengan Reno dengan tas brandednya.


"Adduuuh, stop Vir," seru Reno meringis sambil menangkis pukulan maut sepupunya itu.


Untung keadaan jalan sepi, hingga saat ngerem mendadak tadi ngga ditabrak atau pun menabrak. Dan untungnya lagi dia melajukan mobilnya dengan santai karena membawa calon bumil.


"Gue kaget, bego!" sentak Vira masih kesal tapi menurut juga dengan berhenti memukul bahu Reno.


Dia sekarang sedang menstabilkan nafasnya.

__ADS_1


Ini yang membuat dia kesal, kenapa harus Reno yang mengantarnya ke dokter kandungan. Bisa bahaya buatnya dan calon anak yang sedang dia proses bersama suaminya.


"Bukannya itu obat yang mau lo buang?" tanya Reno shock.


Dia sangat shock mendengqr kata kata majleb sepupunya.


"Udah lama gue buang. Itu vitamin semua, bego!" lagi lagi Vira memakinya terang terangan.


Reno ngga bisa membalas, apalagi membantah. Dia malah terdiam seperti patung.


"Astaga! Maksud lo mau ngasih obat kb gue ke cewe lo?" Vira baru tersadar melihat ekspresi Reno yang sangat jelas terbaca.


Reno ngga menyahut. Dia masih berdiam, sibuk dengan banyak pikiran yang berkutat di kepalanya.


Tanpa bicara lagi keduanya pun melanjutkan perjalanan ke tempat praktek dokter kandungan.


Vira yang tau Reno sedang kalut pikirannya, meminta suaminya yang masih meeting untuk menjemputnya saja. Dia membiarkan Reno pergi tanpa menanyainya lagi.


Ekspresi Reno sudah menjelaskan semuanya. Ngga tau siapa perempuan yang sudah diberikan vitamin penyubur kandungannya. Padahal dia sudah bertunangan.


Vira jadi penasaran, seperti apa perempuan yang membuat Reno bisa bisanya lost control. Seperti bukan sepupunya saja. Dia selalu bermain aman sampai pernah Vira menyumpahinya.


Apa sekarang sumpahnya sudah terkabul?


Di sinilah Reno sekarang. Di parkiran kafe tempat Rain bekerja.


Sekarang tepat jam sepuluh malam. Satu persatu pegawai kafe keluar meninggalkan kafe. Bahkan Reno dapat melihat laki laki yang menurutnya brengsek karena selalu oulang bersama Rain juga pulang sendiri.


"Kemana dia? Dia udah ngga kerja lagi?" gumamnya pelan.


Mati dia. Mati.


Batin Reno terus saja menyumpahi dirinya sendiri.


Entah berapa banyak zat unggul yang dia berikan untuk Rain hari itu. Ditambah vitamin penyubur kandungan. Pasti saat ini sudah mulai berkembang biak dengan sangat baik.


Reno mengusap wajahnya lagi dengan kasar.


Bodoh!. Dasar bodoh!


Reno yakin, Rain pun pasti belum menngecek keadaannya. Jika sudah, dan terbukti positif, pasti gadis itu akan mendatanginya meminta pertanggungjawaban.


Apa yang bisa dia beri? Menikahinya?


Reno membuang nafasnya kesal.


Dia belum mau menikah! Apalagi yang mengikat mereka hanya kebencian. Kebencian Rain.


*


*


*


Glen menunggu kedatangan Meti dengan resah. Malam ini dia putuskan pergi ke rumah mantan tunangan Alva.


Dia harus pastikan sesuatu.

__ADS_1


"Kak Glen."


Glen mengangkat wajahnya saat mendengar suaranya di panggil dengan nada bergetar.


Glen berusaha tetap tenang dan tersenyum tipis. Meti pun dengan kikuk duduk di sampingnya.


"Maaf," ucap Glen langsung.


Wajah Meti merona.


"Kakak ngga salah," ucapnya pelan sambil menunduk.


"Kak Glen akan tanggung jawab," ucapnya ngga gitu yakin. Karena masih ada yang mengganjal di pikirannya.


"Ngga perlu, kak," tolak Meti sambil menggelengkan kepalanya.


Dia masih gugup bertemu dengan Glen. Segugup saat dia terbangun dan melihat keadaannya yang polos.


Kepingan ingatan itu muncul perlahan. Acak dan ngga begitu jelas.


Saat Glen masih di kamar mandi, Meti dengan tangan bergetar secepatnya memakai pakaiannya. Kepalanya masih sangat pusing akibat banyaknya alkohol yang dia konsumsi.


Dengan langkah cepat Meti meninggalkan Glen dan kamar sialan itu.


"Kenapa? Kalo nanti kamu hamil?" tanya Glen ragu


Dia terlalu mabok malam itu. Susah baginya untuk mengingat apa yang sudah dia lakukan pada Meti. Tapi mengingat tubuh polos Meti membuat Glen ngga mau menjadi laki laki brengsek. Dia akan tanggung jawab. Harus.


"Kita, kita ngga ngelakukan apa apa," bisik Meti lirih. Dia takut ada yang menguping mereka.


Ya, itu sebenarnya yang ingin Glen dengar. Sisi brengseknya yang ngga mau bertanggungjawab.


"Kamu mabok, aku juga," bantah Glen.dengan bisikan yang juga lirih. Tapi penuh tekanan.


Meti terdiam. Mereka memang mabok berat sampai sampai dirinya pun ngga merasakan apa pun jika memang sudah kehilangan miliknya yang paling berharga.


"Apa kak Glen yakin udah melakukannya?" tanya Meti masih pelan. Wajahnya terasa kian panas. Hal ini terlalu tabu untuk dibicarakan secara terus terang.


Glen terdiam. Bukan dia ingin menyangkal dan membela sisi kebrengsekannya. Tapi dia pun yakin, malam itu juniornya masih tau tata krama. Masih tau sopan santun.


Hanya saja dia terlalu terkejut ketika mendapat mereka berdua sudah tidur bersama.


"Enggak, kan, kak," sambung Meti lagi.


Glen terdiam. Dia menatap wajah yang merona itu lekat.


Walaupun ngga terjadi apa apa, kenapa dia ngga merasa lega?


Glen menghela nafas panjang.


"Kita lupakan saja, kak," tambah Meti lagi.


Glen masih terdiam.


Baru kali ini dia sadar mengapa Aruna melarang keras minum alkohol saat dia konsultasi dulu.


Alkohol selain merusak organ dalam tubuhnya, juga terbukti mengganggu pikiran dan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2