Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Misi Reno


__ADS_3

"Selamat siang Om Ruslan, Tante. Maaf kita mau mengganggu sebentar waktunya," ucap Kiano yang sudah berada di dekat pembaringan Ruslan Dintara. Istrinya sedang duduk di seberang Kiano.


"Siang, nak. Ngga apa apa. Ada apa ini rame rame?" tanya Om Ruslan ramah. Beliau yang dalam posisi duduk menyandar membalas dengan ngga kalah ramahnya. Istrinya pun tersenyum, apalagi saat melihat Aruna. Bidadari penolong keluarga mereka.


"Kalo ngga salah, anda Pak Robert, ya," sapa om Ruslan saat mengenali Papa Reno yang tersenyum padanya.


"Iya, pak. Bagaimana kabarnya? Maaf sekali saya baru sempat menjenguk," sapa Papa Reno sambil memgulurkan tangannya yang langsung disambut Papa Rain hangat.


"Ngga apa apa. Saya sudah hampir sembuh."


"Syukurlah."


Keduanya sama sama tersenyun hangat.


"Oh iya, kenalkan ini putra saya, Reno," ucap papa sambil merangkul bahu Reno.


"Apa kabar, Om?" sapa Reno sangat sopan kemudian menyalim dan mencium tangan Om Ruslan dan isttrinya.


Dalam hati Papa Reno tertawa dibuatmya.


Hebat juga anak gadis Pak Ruslan bisa membuat sisi kesopanan anaknya bangkit.


Aruna pun tanpa sadar mendecih di belakang Kiano.


Bisa bisanya sopan begitu.


"Baik," balas papa dan mama Rain bergantian. Mereka cukup terkesiap dengan adab sopan santun Reno.


Kiano tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pada Aruna, memberi isyarat agar ngga berkomentar apa apa.


Aruna hanya tersenyum miring. Iya, dia tau, jangan sampai rencana ini rusak karena keceplosannya.


Misi mereka saat ini membuat citra Reno tampak baik di depan kedua orang tua Rain. Jadi saat Nadia mengungkapkan hal buruk tentang keduanya pada mama dan papa Reno, bisa langsung mental. Ngga akan dipercaya.


"Reno ini sahabat SMA Kiano, Om. Juga teman Aruna. Kita satu SMA. Satu angkatan," tambah Kiano memberikan poin penting yang positif tentang Reno.


Di musuh waktu SMA, koreksi Aruna membatin.


Reno menatap keduamya berterimakasih. Khususnya Aruna yang terlihat menurut dengan Kiano.


Dia akan memberikan hadiah spesial buat Aruna setelah misi ini selesai.


"Oh, iya, iya," sahut Om Ruslan sambil menatap Reno penuh minat. Begitu juga istrinya.


"Reno juga sudah lama mengenal Rain," tambah Kiano lagi. Mulai masuk.ke inti pembicaraan.


Orang tua Rain saling pandang. Mereka mulai menebak maksud kedatangan Reno dan papanya.


Reno juga ngga kalah tampan dari Kiano. Dia mewarisi hampir seluruh fisik papanya.

__ADS_1


"Maaf kalo kurang sopan. Kedatangan saya kemari untuk melamar Rain buat Reno," ucap Papa Reno.secara langsung.


Kembali kedua suami istri itu saling pandang.


"Sebenarnya saya ingin melamar setelah anda keluar dari rumah sakit. Tapi kata Reno terlalu lama," senyum Papa Reno hangat.


"Saya juga dengar dari Reno katanya Rain sedang skipsi. Berarti sebentar lagi akan lulus," tambah papa Reno lagi.


Reno yang menunggu jawaban dari kedua orang tua Rain jadi ketar ketir. Padahal papanya sudah berusaha membuatnya santai.


"Benar Pak Robert. Anak saya Rain sedang mengerjakan sktipsi. Mungkin agak terganggu karena juga menggantikan saya di perusahaan," jelas papa Rain juga dengan bibir tersenyum.


"Perusahaan kita menjalin kerja sama. Karena itu saya jadi tau hubungan Reno dan Rain," kata Papa Reno ikut menjelaskan.


"Oooh.... saya malah baru tau. Perusahaan kami beruntung bisa bekerja sama dengan perusahaan bapak," ucap papa Rain dengan hati senang.


Siapa pengusaha yang ngga mau bekerja sama dengan perusahaan yang memiliki pemimpin yang bersih dan terkenal dengan etos kerja yang baik di kalangan pebisnis.


"Anda terlalu memuji," ucap Papa Reno merendah.


"Terimakasih karena mau bekerja sama.dengan perusahaan saya yang lagi mengalami krisis," ucap Papa Rain terus terang.


"Sama sama. Anda santai saja. Saya ngga mengungkapkan ini agar anda menerima putra saya," kekeh Papa Reno ringan.


Papa Rain tersenyum lebar. Dia beruntung mengenal pebisnis kaya raya yang sangat sukses tapi rendah hati. Bahkan putranya pun tertarik pada putrinya.


"Apa nak Reno sudah lama mengenal Rain?" tanya mama Rain. Beliau cukup tertarik pada Reno. Hanya saja harus membicarakan ini dengan Rain dahulu sebelum mengambil keputusan.


"Sudah, tante. Saya dan Rain memutuskan untuk serius baru baru ini," ucap Reno berusaha tenang.


CEKLEK


Semua pasang mata mengarah pada pintu yang terbuka tiba tiba.


"Rain," panggil mamanya agak terkejut melihat kedatangannya. Begitu juga dengan papanya yang menatapnya penuh arti.


Rain berdiri di situ dengan gugup dan nafasnya agak tersengal. Wajar saja, dia agak berlari dari parkiran hingga ke ruang inap papanya.


Dan semakin terkejut melihat banyaknya orang yang berada di dalam kamar itu.


Rain menatap Rano yang menghampirinya dengan senyum jahil.


Laki laki itu mengirim pesan padanya akan langsung mengaku pada papanya di rumah sakit tentang apa yang sudah dilakukannya pada Rain. Tepatnya satu satu jam setelah kepergiannya dari ruangan Rain.


Rain yang takut Reno bakal dimarahi papanya dan papanya akan memgalami anfal, buru buru ke rumah sakit untuk mencegah perbuatan nekadnya.


Tapi Rain jadi bingung melihat banyaknya orang orang yang berkumpul. Ada dokter Aruna dan suaminya, juga ada satu laki laki yang masih tampak gagah walau sudah seumuran dengan papanya.


Papa Reno, kah? tebaknya dalam hati.

__ADS_1


Tanpa sadar, Rain sudah digandeng Reno dan dia menurut saja langkah Reno yang menghampiri laki laki gagah itu yang setelah Rain perhatikan mirip sekali dengan Reno.


"Ini papa ku," ucapnya mengenalkan.


Pap Reno tersenyum menyambut uluran tangan Rain dan terharu saat gadis itu mencium tangannya. Sangat sopan.


Beliau yakin, Reno jadi lebih santun begini karena pengaruh Rain juga.


Rasanya senang sekali sebagai orang tua melihat ada perempuan yang bisa merubah Reno.


"Cantik sekali," puji papa Reno tulus kemudian mengalihkan tatapannya ke arah papa dan mama Rain.


Wajah Rain merona karena malu.


"Kami baru dua kali bertemu. Pertama saat meeting, dan kedua saat ini. Tapi Reno sering bercerita soal Rain," jelas papa Reno hangat.


Papa dan mama Rain saling pandang dan saling melempar senyum saat melihat Rain mendekati mamanya dengan malu malu.


Apa yang sudah Kak Reno katakan? Kenapa papanya juga ikut?" pikiran Rain bertanya tanya


Rain mengawasi keadaan papa dan mamanya yang nampak baik baik saja.


Kak Reno seperinya belum mengatakan apa apa? Tapi apa tujuannya ke sini dengan papanya? Bahkan dia mengajak dokter Aruna dan suaminya.


"Rain, nak Reno dan Papanya, juga nak Kiano dan nak Aruna kesini buat ngelamar kamu jadi istrinya nak Reno. Kamu setuju?" tanya mamanya langsung.


Rain terpana mendengarnya.


Jadi ini maksud pesannya yang membuatnya sampai terburu buru ke sini?


"Kata nak Reno kalian sudah membicarkannya. Berarti kamu sudah memutuskan jawabannya?" tanya papanya lembut.


Rain mematung mendengarnya.


Setelah masalah besar yang menimpa keluarganya yang selalu diselimuti awan gelap yang hitam pekat, kini pelangi yang muncul membawakan keluarganya kebahagiaan.


Semua ini masih ada hubungannya dengan Kiano dan istrinya. Berawal dari dibantunya biaya pengobatan seorang dokter yang merupakan istri dari putra pengusaha yang sangat kaya raya dan sukses, Dika Mahendra. Berlanjut dibantu juga melanjutkan bisnisnya yang hampir bangkrut. Sekarang malah sahabat putranya yang juga putra dari pengusaha sukses dan kaya raya itu ingin menjadikan Rain sebagai istrinya.


Sungguh roda kehidupannya dan keluarganya sudah bergerak ke atas lagi.


"Om jamin, Reno sudah jinak sama kamu," kekeh papa Reno membuyarkan suasana yang tegang dan kaku.


Tawa pun mulai terdengar. Suasana pun berubah santai dan menyenangkan.


Papa dan mama Rain juga tertawa melihat putrinya yang semakin salah tingkah.


"Udah, terma aja Rain," sambung Aruna dengan senyum lebarnya. Sementara itu sebelah tangan suaminya masih merangkul bahunya. Bahkan Kiano pun ikut tertawa.


Reno tambah berterimakasih pada Aruna atas dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2