Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Kekesalan Meti


__ADS_3

"Tamara, kamu ngga jenguk Alva?" tanya Aruna begitu Kiano memasuki ruang periksa.


"Udah banyak yang nemenin dia," sahut Tamara malas.


Pastilah teman teman Kiano yang lain menemaninya, batinnya.


"Kan beda sama kamu yang calon istri," goda Aruna dengan senyum jahilnya.


"Mulai, kan" kesel Tamara sambil manyun m membuat Aruna tergelak.


Aruna tau, Tamara ngga menyukai perjodohannya dengan Alva. Apalagi terkesan terburu buru.


Bang Athar dan temannya sudah pamit karena mau menjadi saksi kejahatan Claudya di kantor polisi, jadilah Tamara yang tinggal sendiri menemani Aruna sampai menunggu Kiano selesai diperiksa.


"Awalnya aku ngga yakin degan Alva. Tapi karena kejadian tadi, aku kaget melihat Alva mati matian melindungi kita. Terutama kamu," ucapnya setelah tawanya reda.


Masih terbayang betapa Alva rela kena pukulan dan tendangan demi melindunginya dan Tamara.


Tamara ngga menanggapi. Mengingat sikap plin plan laki laki itu membuat Tamara ngga terlalu berharap kalo perjodohannya bakal lancar.


"Biasa aja Aruna. Dia, kan, laki laki, wajarlah di posisi itu dia melindungi kita. Pasti dia ngga mau dimarahi Kiano kalo kita sampai celaka," respon Tamara santai menutupi perasaan kesalnya.


"Mungkin juga, sih," jawab Aruna ragu. Tapi hatinya meragukannya.


"Kalo Regan gimana nurut kamu?" lanjut Aruna memancing.


"Kamu naksir Regan?" ledek Tamara balik menggoda. Dia tau Aruna berusaha membongkar isi hatinya.


"Gila ya, kamu. Kalo Kiano dengar, dia bisa ngamuk," kekeh Aruna sambil memukul pelan lengan Tamara yang kini ikut terkekeh geli.


"Serius Tamara. Lo suka ngga sama Regan? Dia kelihatan lebih baik dari Alva," desak Aruna penasaran.


"Ngga tau. Aku ngga pernah mikir," jawab Tamara jujur.


"Berarti lo udah rela dinikahkan sama Alva?" ledek Aruna menggoda Tamara yang kali ini memamerkan wajah manyunnya


"Ngga tau lah, Aruna. Jangan singgung singgung lagi," balasnya kesal membuat senyum Aruna semakin lebar.


"Kalian ngomong apa? Serius banget?" tanya Kiano yang baru saja membuka pintu ruang periksa


"Kiano, gimana? Kamu ngga apa apa?" tanya Aruna ngga sabar ketika Kiano sudah ada di dekatnya


"Aku baik baik saja," jawab Kiano ringan kemudian mendorong kursi roda Aruna

__ADS_1


"Kamu ngga bohong?" tanya Aruna kurang percaya.


"Iya, aku ngga bohong," sahut Kiano tegas.


"Syukurlah kalo begitu," ucap Aruna lega.


"Kita lihat Alva, ya," tukas Kiano setelah mengusap bahu Aruna lembut.


"Iya."


"Eh, Tamara. Kok, malah diam aja. Ayo, ikut," ajak Kiano ketika ngga melihat Tamara di samping mereka. Ternyata Tamara masih bergeming di tempatnya berdiri tadi


"Iya, Tamara. Aku mau ngucapin makasih ke Alva," lanjut Aruna sambil menoleh pada Tamara.


"Ya," sahut Tamara sungkan. Dia merutuki kegugupannya dalam hati.


Hariusnya biasa aja, kan.


*


*


*


Orang tua mereka dan sahabat sahabatnya tergelak mendengarnya


Alva yang sudah merasa sehat mendadak kepalanya jadi pusing karena kehadiran Meti.


"Calon istri Kak Alva mana? Egois sekali, malah kelayapan. Dasar ngga punya perasaan," sarkas Meti menambah sakit di kepala Alva.


"Tamara lagi diperiksa dokter kayaknya," bantah Reno sambil terkekeh.


"Tamara ikutan berantem juga?" tanya mami Alva terkejut dan khawatir.


"Iya, tante. Alva sama Tamara yang melawan para pengawal Claudya duluan, baru di susul yang lain," jelas Regan membuat papi Alva dab papi Meti menghembuskan nafas kesal.


"Tamara itu bisa bela dirl?" tanya Meti meremehkan.


Paling dia menyusahkan Kak Alva tadi, cibirnya dalam hati.


"Tamara itu atlet karate nasional, Meti," cetus Glen di sela tawanya.


Anak.kecil ini cemburu rupanya, ejek Glen membatin sambil melirik Alva yang menatap Meti dengan kesal.

__ADS_1


"Haah? Masa, sih?" kaget Meti ngga percaya.


"Makanya Kak Alva takluk," ledek Reno membuat Alva mendelik kesal. Sementara sahabat sahabatnya makin tergelak.


Meti memanyunkan bibirrnya sewot.


Ngga mungkin, serunya dalam hati menolak percaya.


"Kita ngga bisa tinggal diam," bisik papi Alva mulai serius.


"Gadis itu ngga boleh dibebaskan dalam waktu cepat lagi. Ngga ada jamina kalo dia ngga bakal berulah," tandas papi Meti setuju balas berbisik.


"Kita sudah memberikan kesempatan pada Herman. Tapi anakku malah celaka lagi karenanya," geram papi Alva pelan.


"Ya, untung Alva hanya luka ringan," ucap papi Meti berusaha menyabarkan hati papi Alva yang panas.


Beberapa hari yang laku, Herman-dady Claudya membuat kesepakatan, Claudya akan terbang langsung ke Inggris setelah dibebaskan. Tapi ternyata anak perempuan Herman itu malah membuat hal yang sangat gila. Bahkan putranya hampir celaka.


CEKLEK


Pintu ruangan terbuka dan perhatian mereka pun terarah ke sana. Kiano yang mendorong kursi roda Aruna dan Tamara yang berada di sampingnya.


"Om, tante," sapa.Kiano sambil membawa Aruna mendekati kedua orang tua sahabatnya. Kemudian tanpa ragu menyalimnya, termasuk Aruna dan Tamara.


"Yang di tunggu tunggu akhirnya datang, nih," goda Glen saat melihat kehadiran Tamara.


Tamara pura pura mgga mendengar, sementara Meti menatap Tamara kesal. Saingan beratnya.


"Aruna, Tamara, kalian ngga pa pa, kan?" tanya mami Alva khawatir.


"Kami baik baik aja, tante," sahut Aruna mewakili menjawabnya.


"Syukurlah kalo begitu," katanya lega sambil tersenyum pada Tamara, calon mantu sahabatnya.


"Gimana keadaan kalian?" tanya papi Alva penuh perhatian.


"Cuma lecet sama memar sedikit, Om," jawab Tamara sekenanya.


"Katanya atlet," sindir Meti sinis membuat kepala Tamara terangkat dan balik menatap Meti kesal


Nih anak abis makan sambal sekilo apa. Sinis terus bawaannya, batin Tamara kesal.


"Ya, atlet juga, kan, manusia, Meti," bela Glen terkekeh. Yang lainnya pun terkekeh. Kiano dan Aruna yang awalnya bingung, dengan kata kata judes Meti kini ikut tergelak.

__ADS_1


Meti hanya mendengus kesal melihat semua orang mentertawakannya. Ngga ada yang membelanya.


__ADS_2