Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Obrolan Sugar Baby


__ADS_3

"Bu, apa tadi pacar ibu datang sendiri saja?" tanya Rain yang langsung menghampiri Qonita begitu jam kuliah usai.


Rain langsung berlari mengejar Qonita dan membuatnya menghentikan langkahnya.


"Iya. Kenapa?" tanya Qonita penuh selidik.


"Emm... ngga pa pa bu. Kirain teman temannya yang kemarin ikut," kata Rain agak kecewa.


Qonita mengamati mahasiswinya dengan seksama.


"Kamu bisa menghubunginya," katanya seolah bisa membaca pikiran Rain.


Rain menggeleng lemah.


"Saya lupa minta nomer ponselnya. Apa ibu bisa menolong?" tanyanya sangat berharap


Qonita pun baru tersadar kalo dia belum memiliki nomer ponsel Arga. Laki laki mesum itu juga ngga pernah menghubunginya lewat ponsel. Dia malah selalu mendatangi Qonita secara langsung.


"Ibu juga ngga punya."


"Kok, bisa bu?" ceplos Rain heran.


Bukannya dia kekasih bu Qonita? batin Rain ngga ngerti.


"Perlu banget saya punya nomer ponselnya?" tanya Qonita judes.


"Eh, maaf bu," buru buru Rain meminta maaf melihat raut dosennya berubah kesal.


Kenapa ya, bu Qonita jadi marah? Bukannya tadi mesra? batin Rain tambah heran.


"Sudah, ya. Saya masih harus mengajar di kelas lain," pamitnya berusaha melenyapkan kemarahannya dengan tersenyum tipis.


"Ya bu."


Qonita pun melangkah pergi meninggalkan Rain yang masih berdiri menatap kepergiannya.


Qonita menghela nafas panjang. Biar bagaimana pun mahasisiwinya ngga bersalah. Momennya saja yang ngga tepat. Qonita masih kesal dengan kekurangajaran Arga tadi pagi, walaupun di akhir pertemuan mereka sikapnya berubah manis.


Haaah... Enggak boleh! batin Qonita langsung memberikan sirene tanda bahaya. Hatinya ngga boleh lemah karena sikap manis sesaat laki laki kurang ajar itu.


"Kamu kenapa?" tanya Vani yang kini sudah berada di dekatnya bersama Dinda. Rain terlihat melamun sampai ngga menyadari ledatangan mereka.


"Ngga pa pa," dusta Rain.


"Oh iya, jadi kita kerjainnya sekarang?" lanjutnya baru teringat kenapa kedua temannya menghampirinya.

__ADS_1


"Iya, dong. Ke kafe aja, ya. Aku lapar," ucap Vani lagi.


"Oke," sahut Rain sambil melangkah di samping keduanya.


"Kalian kemarin ngapain aja sama teman teman bu Qonita?" tanya Rain ngga bisa menahan rasa ingin taunya.


"Ada aja," ucap Vani berahasia. Senyum lebar tersungging di bibirnya.


Sementara Dinda hanya diam saja. Dia masih terbayang perbuatan kurang ajar laki laki itu. Dan berharap ngga bertemu lagi.


"Enak ya, lo," ucap Rain dengan wajah senang sekaligus iri.


"Lumayan dapat tambahan buat beli tas," kikik Vani dibarengi Rain.


"Beruntung lo," ucap Rain salut. Dia gagal kemarin malam. Laki laki yang bernama Glen itu langsung berhenti saat tau dia masih virgin.


Harusnya laki laki itu bahagia, bukannya malah mundur.


Tapi salahnya juga sih, ragu memberi jawaban atas pertanyaannya.


"Kamu mau jual perawan kamu berapa?"


Rain terus terang bingung. Dia baru mencoba job seperti ini. Dia hanya menginginkan menjadi sugar baby, sehingga ada yang menjamin kelangsungan hidupnya dan ngga perlu berganti ganti pasangan yang bisa membahayakan kesehatannya.


Karena roda ekonomi sudah berputar ke bawah untuknya dan keluargaya. Papanya mengalami kebangkrutan hebat akibat penipuan rekan bisnisnya.


Rain sudah ngga punya siapa siapa. Ngga ada yang mau membantu keluarganya yang sedang terpuruk. Karena itu Rain berpikir, cara yang paling gampang adalah menjadi sugar baby untuk mendapatkan banyak uang. Apalagi Rain masih virgin sehingga pasti akan mudah baginya mendapat uang yang sangat banyak dari laki laki yang mendapatkan keperawanannya.


Apalagi teman dari pacar bu Qonita sepertinya bukan laki laki sembarangan. Jas yang mereka kenakan, juga mobil yang mereka bawa, bukan barang mahal biasa, tapi masuk dalam kategori sangat mahal mahal sekali.


Tapi laki laki itu malah menarik diri saat tau dia virgin. Dan ucapannya yang terdengar asal, sangat lambat Rain tanggapi.


Karena itu sekarang Rain membutuhkan nomer ponselnya. Karena Rain sudah tau berapa harga keperawanannya sekarang. Harga itu adalah sebanding dengan harga pengobatan papanya selama satu bulan.


Tapi Rain meragu. Apakah laki laki itu mau?


"Kenapa melamun?" seru Vani mengagetkannya.


"Eh, iya," kaget Rain tersadar.


"Kamu punya nomer telpon teman laki lak kamu?" tanya Rain agak ragu.


Dinda menatap Rain tajam. Walau ngga akrab, tapi Dinda cukup tau tentang Rain. Dia beda dari Vani. Tapi kenapa Rain bertanya seperti itu pada Vani?


Ada tanda tanya besar dalam kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa bukan teman laki laki kamu aja?" tanya Vani agak kurang suka, takut ditikung.


"Aku lupa minta nomer ponselnya. Mungkin bisa kamu pinta kan nomernya?" tanya Rain hati hati ketika dirasanya Vani ngga suka sumur uangnya ikut dinikmati Rain.


"Ooo, kirain.....," jawab Vani mulai santai.


"Ngga apa juga, sih, kalo kamu mau. Kita tukeran," lanjutnya sangat ringan.


Dinda hampir tersedak mendengarnya.


"Boleh juga," balas Rain ngga kalah ringan. Rain ngga peduli, baginya yang mana saja oke. Asalkan bisa memberikannya uang yang sangat banyak.


Mereka apaan sih? batin Dinda gerah.


"Tapi aku ngga punya nomer ponsel laki laki yang bersamaku," jawab Rain ngga enak hati.


"Ngga pa pa, nanti aku minta sendiri nomernya. Tapi kamu ngga pa pa, ya, kita tukeran," ucap Vani menegaskan.


"Iya, ngga pa pa," jawab Rain mantap.


"Aku kirim nomer ponselnya, ya," ucap Vani sambil mengirimkan nomer ponsel Reno ke Rain.


Bibir Rain berkedut senang


Syukurlah. Semoga yang ini gampang, batinnya berharap.


"Dinda, boleh ngga aku deketin laki laki yang bareng kamu kemaren?" tanya Vani to the point.


"Boleh, ambil aja," jawabnya tanpa beban.


"Aku awalnya naksir sama laki laki itu. Siapa, ya, namanya?" tanya Vani mencoba mengingat.


"Regan," sahut Dinda cepat. Dia tentu ngga akan melupakan nama laki laki itu.


"Iya, Regan," seru Vani senang seperti mendapatkan tas branded secara gratis.


"Kamu ngga apa apa, kan, kalo aku mendekati dia?" tanya Vani lagi memastikan. Dia ngga mau ada perpecahan dalam timnya.


"Ngga apa apa, kok," jawab Dinda setenang mungkin. Tapi ada sedikit rasa ngga rela dalam hatinya. Tapi ya, sudah lah. Abinya bisa sakit jantung kalo tau anak perempuannya menyukai laki laki seperti itu.


Haah? Tidak! Dia ngga menyukai laki laki brengsek itu. Ngga boleh, seru batinnya berkali kali mengingatkan. Dia benci kenapa bisa goyah.


Padahal selama ini dia selalu menjaga diri dan hatinya dengan baik. Tapi laki laki bernama Regan itu berhasil mengusik tidurnya. Bahkan tadi malam pun dia bermimpi sedang bermesraan dengan Regan. Mimpi yang sangat menyesatkan.


"Makasih, ya, Dinda. Makasih banget," serunya girang.

__ADS_1


Saat melihat Regan, hati Vani sudah memilihnya. Tapi sayangnya laki laki itu telat, hingga dia harus bersama temannya.


__ADS_2