
Arga menyimpan kembali ponselnya.
Sinyalnya sangat ngga jelas.
Qonita yang tadi menatapnya kini mengalihkan tatapannya ketika netra Arga balas menatapnya.
"Teman gue, Regan."
"Ngga nanya."
Arga tersenyum lebar melihat reaksi judes Qonita.
"Cuma ngasih tau aja," jawabnya cuek.
"Ngga perlu dikasih tau," ngeyel Qonita kesal. Sebenarnya dia malu tadi ketahuan menatap laki laki itu ketika sedang menelpon.
Dia terlihat sangat tampan dengan tubuh tinggi menjulang.
Qonita mencebikkan bibirnya lagi, kesal karena laki laki itu tersenyum miring.
"Regan pasti suka kalo tau ada tempat ini," katanya sambil mengeluarkan lagi ponselnya. Dengan acak dia pun memfoto sekeliling curug.
Sampai akhirnya mengarahkan ponselnya ke Qonita yang langsung memalingkan wajahnya, tapi terlambat.
KLIK
Arga tersenyum melihat hasil fotonya.
Gadis itu sedikit membelalakkan matanya.
"Lumayan buat ngusir nyamuk," tawanya sambil terus mengamati foto candid itu.
Gini aja cantik.
"Hapus!" seru Qonita kesal saat Arga memamerkan foto jeleknya. Itu pose terkejutnya. Sangat sakit dipandang. Apalagi disimpan oleh laki laki yang menyebalkan ini.
"Nggak!"
"Hapus!"
"Ngga mau! Hape gue. Situ, kok, repot," ejek Arga semakin memanaskan hati Qonita.
"Gue berhak nge larang. Itu wajah gue. Bukan buat konsumsi publik," marahnya.
Arga tertawa mendengarnya.
"Cuma buat konsumsi pribadi. Paling mau gue tunjukin ke ponakan lo yang cantik itu," ancam Arga, tapi hanya candaan. Memancing reaksi Qonita.
__ADS_1
Qonita tambah naek darah mendengarnya. Bisa bisa dia dibuly ponakannya yang super gemes dan nyebelin itu.
"Hiiiiih," serunya gemas.
"Kiss dulu," kata Arga sambil memberikan pipi kanannya.
"Baru hapus," sambung Arga lagi dengan kedipan nakalnya.
"Apaan, sih," geram Qonita tambah kesal.
Aaaah, dia butuh udara segar, teriak Qonita dalam hati.
Dia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Arga yang makin keras tawanya yang pastinya sedamg mengejeknya.
*
*
*
"Gimana perkembangan hubunganmu dengan Nadia?" tanya papi ingin tau.
Beliau sengaja mengunjungi putra bungsunya di ruangannya.
Reno menatap papinya sebentar sebelum kemudian mengalihkan tatapannya pada berkas yang sedang diceknya.
Putra yang penurut, batinnya terkekeh.
Padahal beliau sedang menunggu laporan dari Nadia kalo Reno sudah meniduri dirinya. Tapi sampai hari ini ternyata hal itu belum terjadi juga. Nadia masih aman.
"Kamu ngga suka dengan pilihan papi?" tanya papi sambil duduk di depan Reno. Meja adalah batas antara mereka.
"Apa aku ada pilihan?" tanyanya ngga semangat.
Harus dia akui, Nadia cukup sabar menghadapi sifat cueknya.
Tapi bukan seperti itu perempuan yang dia inginkan, batinnya dan ingatannya kembali pada wajah pucat Rain.
Dasar murahan. Kerja.sampai ngga ingat kondisi diri sendiri, geramnya jadi kesal.
Hatinya masih panas mengingat Rain berboncengan dengan teman kerjanya untuk melakukan side jobnya.
Sekarang dia sudah tau dimana Rain bekerja. Selain tempat side jobnya.
Benar benar menyebalkan.
Papi menatap bingung dengan ekspresi wajah anaknya yang mendadak berubah seperti menahan marah.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya beliau sambil melirik jam tangannya.
"Nggak pa pa," jawabnya tanpa menatap papinya.
"Papa ada meeting. Malam ini kamu ngga lupa, kan, mau tukar cincin sama Nadia?" ucap papinya sambil bangkit dari duduknya.
Reno menghela nafas panjang.
"Boleh ngga, pi, dibatalkan?"
Papinya tersenyum.
"Perjanjiannya, kan, sudah jelas. Kamu bawa calon kamu, maka akan papi batalkan perjodohan ini."
"Kenapa harus cepat cepat, sih, pi," balasnya menahan kesal.
"Kata Om Zaki, Nadia udah suka sama kamu."
Reno menatap papinya dengan kesal.
Bisa bisanya gadis itu menyukainya. Sinting, kali, batinnya mengumpat.
Dia ngga pernah berlaku manis pada Nadia. Malah sengaja membuatnya kesal. Tapi gadis itu malah menyukainya?
Mau kiamat kali dunia!
"Papi ngga nyangka, pesona papi nurun ke kamu," tawa sang papi sangat renyah.
Reno meliriknya sebal. Memamg banyak yang bilang, dia yang paling mirip wajahnya dengan papinya.
Tapi ngga dengan wataknya. Papinya tetap setia setelah berpisah dengan maminya. Sedangkan maminya sudah menikah lagi. Reno merasa dari segi watak.dia lebih mendekati maminya.
"Oke, paoi pergi dulu. Jangan lupa nanti malam," kata papinya sambil melqngkah meninggalkan ruangannya. Suara tawanya masih terdengar.
Reno menghela nafas panjang setelah papinya menghlang di balik pintu.
Apa dia harus menuruti papinya?
Reno bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah jendela kantornya. Menatap langit yang nampak dekat dari gedumgnya.
Dia pun ngga tau kapan mereka memesan cincin.
Ini terlalu cepat. Reno belum mau cepat cepat menikah seperti Alva, maupun Arga.
Mereka sama dijodohkan.
Harusnya perasaannya ngga ada yang mengganjal. Harusnya dia bisa seperti kedua temannya itu. Tapi rasanya ada yang salah. Apalagi setelah bertemu Rain.
__ADS_1
Reno kembali menatap jauh ke arah langit seakan akan ada malaekat yang bisa menolongnya. Membawanya ke surga, tapi mungkin dicemplungin dulu ke neraka.