Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Interogasi


__ADS_3

"Bisa bicara sebentar?"tanya seorang dokter yang sudah keluar dari ruang IGD ke arah Regan dan teman temannya.


"Ya, dokter," sahut Regan sambil bangkit berdiri diikuti Glen dan Arga. Sementara Tamara tetap acuh ngga acuh, sibuk dengan ponselnya.


"Dalam darah Alva ditemukan kadar obat perangsang dalam dosis tinggi," jelas dokter Yakup membuat ketiganya langsung melengak kaget. Reflek mereka melihat ke arah Tamara yang masih sibuk dengan ponselnya, seakan ngga mendengar.


Apa Tamara sudah tau? batin mereka menebak.


Pantasan Tamara merendamnya di bath up, batin ketiganya lagi mengerti.


"Efeknya sangat kuat. Tapi sepertinya Alva sudah mendapatkan pertolongan pertama," tambah dokter Yakup lagi.


"Dia akan sadar dua jam lagi," sambungnya sambil menatap Regan. Kemudian menepuk bahu Regan pelan dengan bibir tersenyum lebar.


"Lain kali jangan terlalu keras memukul tengkuknya."


Regan dan kedua sahabatnya tersenyum lebar. Tambah mengerti kenapa Alva bisa pingsan di bath up


"Dia pasti sangat merepotkan," kelakar dokter Yakup sambil melangkah pergi.


Kali ini Regan, Glen dan Arga pun ngga bisa lagi menyimpan kekehannya.


Pasti Tamara sangat kesulitan tadi, tawa mereka dalam hati.


"Apa Alva sempat mencium Tamara?" bisik Glen menebak dalam kekehannya.


"Mungkin," balas Alva yang juga terkekeh. Bisa dibayangkan apa yang terjadi sama Alva. Pasti tadi Tamara benar benar menghajarnya.


Regan yang berpikir sama juga ngga dapat menahan tawanya.


Nasibmu bro, batinnya geli.


Tamara yang sibuk dengan ponselnya melirik sebentar pada ketiga laki laki aneh yang sedang tertawa padahal teman kurang ajar mereka sedang sekarat di ICU.


Tadi marah, sekarang malah ketawa bareng, umpat Tamara kesal dalam hati, mengingat saar mereka menemukan Alva yang pingsan di bath up, ketiga laki laki ini tampak marah dengannya dam sempat menuduhnya macam macam.


Tamara kembali mengalihkan perhatiannya pada notifikasi pesan yang masuk, dari teman temannya yang membuatnya bernasib apes karena mengajaknya ke club.


Mita


Lo kemana aja woiii.


Tamara menepuk jidatnya, dia melupakan kalo dia ditunggu mereka di dalam club. Ternyata bukan hanya Mita saja, hampir semuanya mengirimkannya pesan karena dia ngga menemui mereka di dalam.

__ADS_1


Teman temannya yang sudah menunggu lama di dalam Club memberikan banyak pesan. Karena untuk menelpon percuma, suara musik.yang berdentam ngga akan membuat mereka saling dengar apa yang akan mereka bicarakan.


Tamara pun terpaksa berbohong dengan mengatakan tadi sahabatnya Aruna menelponnya, dan menjemputnya untuk segera ke hotel. Untungnya mereka semua percaya.


Mita


Oke.


Tamara memijat kepalanya. Hari ini benar benar apes.


Sampai kapan dia tertahan di sini? Dia ingin segera istirahat di hotel, keluhnya dalam hati.


Mami dan papi Alva terlihat tergopoh gopoh mendekati Regan dan teman temannya. Di belakangnya juga ada keluarga Meti bersama Meti. Mereka masih mengobrol di restoran ketika mendapat telpon dari Regan.


Dan sangat kaget mendapat kabar itu. Padahal papi Alva dan papi Meti sempat melihat Alva baik baik saja ketika pergi.


"REGAN," panggil papi Alva begitu berada di dekat salah satu sahabat putranya.


Dalam hatinya sangat menyesal mengingat apa yang menimpa putra mereka. Istrinya pun ngga henti menyalahkannya.


"Om," sambut Regan segera menyalami orang tua Alva dan Meti. Glen dan Arga juga. Tamara agak rikuh dan mengikut ketiganya untuk bersalaman.


Meti melirik curiga pada Tamara.


"Alva udah ngga apa apa, Om, Tante. Kata dokter dua jam lagi akan sadar," jelas Regan membuat kedua orang tua itu tenang dan menghembuskan nafas lega.


"Tante mau lihat Alva," kata mami Alva ngga sabar untuk melihat keadaan putranya.


"Silakan, tante," jawab Regan sambil memberikan jalan untuk mami Alva masuk ke dalam ruang IGD.


"Meti juga mau masuk, mi," pinta Meti pada maminya yang juga menyusul masuk mengikuti mami Alva.


"Iya, sayang," sahut maminya sambil menggandengnya.


"Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Alva bisa dikeroyok orang?" tanya papi Alva setelah ketiga wanita itu memasuki ruang ICU.


"Kita juga ngga tau Om. Glen mendapat telpon dari Alva yang sedang berkelahi. Saat itu posisi kita lagi di kantor. Tapi sampai di Club, Alva sudah diselamatkan Tamara," jelas Regan panjang lebar.


Papi Alva dan papi Meti menatap Tamara penuh rasa syukur.


"Terima kasih, nak," ucap papi Alva sambil mengamati Tanara.


Ngga terlihat seperti gadis yang suka ke club, batin papi Alva mengira ngira. Karena Tamara ngga seperti gadis gadis yang suka ke club yang biasanya akan mengenakan dres atau gaun yang cukup seksi. Gadis itu hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang jeans.

__ADS_1


"Sama sama, Om," jawab Tamara sopan. Dia tau papinya Alva sedang menelisiknya.


Dalam hati Tamara mengutuk teman teman nya yang membawanya ke tempat yang bisa membuat dia terlihat bukan gadis baik baik. Padahal sampai se umur sekarang dia dan Aruna ngga pernah ke tempat begituan. Baru kali ini.


Sekarang gara gara ini image anak baik baik yang dibangunnya sejak lama hancur sudah.


"Kamu temannya juga?" tanya papi Meti ingin tau.


"Kita teman waktu SMA, om," kata Glen yang menyahuti. Glen dapat melihat perasaan ngga enak Tamara. Terbaca dari sikap resahnya.


"Ooh," sahut keduanya santai.


"Oiya, kelanjutannya gimana soal pengeroyok.Alva?" tanya Papi Alva mengalihkan ke topik utama. Dia ngga terima putranya mendapatkan perlakuan yang sangat buruk.


Dia pasti akan membalasnya lebih dari ini.


"Kami sudah melaporkan ke polisi Om. Juga sedang mencari identitas para pengawal itu," jelas Arga yang dari tadi hanya diam saja.


Papi Alva menghembuskan nafas kesal.


"Apa kalian punya rekaman CCTV nya?" tanya beliau sambil menahan kemarahannya.


"Punya Om, Tapi hanya rekaman CCTV yang merekam wajah para pengawal itu.di dalam club. Pengeroyokan Alva ngga terekam, Om, karena tempat itu ngga ada CCTV nya," jelas Glen.


"Sabar, Rifki," kata papi Meti menenangkan.


"Iya, aku sedang berusaha," katanya dengan suara bergetar. Kemudian beliau berdehem sebentar.


"Nak Tamara, jadi kamu lihat saat Alva sedang dipukul?" tanya papi Alva setelah menenangkan gejolak kemarahan dalam hatinya.


"Engga Om. Waktu itu saya bertabrakan dengan seseorang saat baru tiba di club bersama teman teman saya. Teman teman saya hanya ingin mencari hiburan sebentar setelah kami selesai..." Tamara ngga melanjutkan ucapannya karena tersadar akan ucapannya yang melenceng dari topik utama.


Bodoh, bisa bisanya dia keceplosan. Bisa tambah buruk stigma buatnya dan teman temannya, rutuk.Tamara dalam hati.


"Emm... maksud saya, saya bertabrakan dengan orang yang membawa tongkat," ucapnya setelah terjeda tadi ucapannya. Ternyata kedua laki laki paruh baya ini masih memperhatikannya penuh minat.


"Saat saya ke pojok club, saya segera menemukan Alva dan menghubungi Regan," sambungnya sedikit berbohong.


Bisa tambah hancur imagenya kalo kedua laki laki sebaya papanya tau jika dia membawa Alva ke hotel.


Regan saling pandang dengan Glen dan Alva, tersenyum mendengar kebohongan Tamara.


Tinggal bilang aja kalo lo bawa Alva ke hotel, decih Glen dalam hati.

__ADS_1


Memang harusnya lo telpon kita, bukan malahan merendam Alva di bak mandi, kekeh Arga dalam hati.


__ADS_2