
Tamara menaruh gelas es campurnya yang bersisa sedkit di atas nampan. Kemudian mendekati menu soto babat yang cuma antri tiga orang saja.
Akhirnya dia pun memperoleh sotonya. Tangannya pun menyendokkan
sambal sebanyak dua kali dan memberikan sedikit kecap
"Tambah lagi kecapnya. Itu masih pedas," terdengar suara seseorang yang paling disebalinya ternyata sudah berada di dekatnya..
Tanpa mengacuhkan Alva, Tamara berjalan ke arah kursi kosong dan mendudukkan dirinya di sana
Alva hanya nyengir melihat kecuekan Tamara.
Saat sedang tergelak bersama Arga, netranya melihat Tamara yang berjalan sendiri ke arah menu soto.
"Gue pergi dulu," pamitnya sambil pergi.
Arga hanya tersenyum ngga menyahut. Dia tau kemana akan perginya Alva.
"Lo udah suka, kan, sama Tamara?" gumam Arga pelan mengejek kesombongan Alva
"Mau kemana si Alva?" tanya Regan yang mendadak muncul di samping Arga. Dia baru saja berhasil pergi setelah papanya memaksanya untuk berkenalan dengan rekan rekan bisnis papanya.
Arga hanya menunjukkan lewat dagunya membuat Regan tetkekeh.
"Kalo kita kerjain Alva, mau ngga lo?" tanya Regan masih dengan kekehannya.
"Boleh juga," respon Arga langsung mengerti maksud ucapan Regan. Dia pun jadi terkekeh juga.
"Nih, minum lo," ucap Alva sambil meletakkan gelas air mineral di samping Tamara.
Sama seperti tadi, Tamara pun ngga menjawab. Bahkan dia berlaku seolah olah Alva ngga ada di sampingnya.
Alva ngga tersinggung. Dia dengan tenang meneguk es kopinya sambil duduk di sanping Tamara.
"Kalo feminim gini lo cantik juga," puji Alva dengan senyum miringnya. Saat ini Tamara mengenakan dres selutut lengan pendek.
Wajar Alva berkata begitu, karena setiap ketemu Tamara, Alva selalu melihat gadis itu mengenakan celana panjang jeans dengan kaos atau kemeja. Kecuali saat Kiano.dan Aruna menikah. Alva sempat terpesona karena kebaya yang Tamara kenakan.
Tamara ngga menyahut dan tetap fokus dengan sotonya. Tamara berusaha ngga terpancing dengan sikap fuckboy laki laki calon suaminya ini.
Alva kembali meneguk es kopinya dengan santai seolah ngga terpengaruh dengan sikap acuh ngga acuh Tamara padanya.
"Hai, Al," sapa dua wanita cantik dengan sangat mesra.
"Hai," balas Alva ramah.
Kedua wanita cantik itu langsung duduk di dekat Alva
"Minum.ea kopi aja?" tanya salah satunya yang bernama Lira sambil melirik gelas es kopi yang tinggal separuh di tangan Alva.
__ADS_1
"Kalian ngga milih menu?" Alva balik bertanya.
Dia mengenal kedua wanita cantik yang duduk di dekatnya. Mereka juga direktur di perusahaan keluarganya masing masing. Lira dan Anya. Alva cukup memgenal mereka, bahkan sahabat sahabatnya juga.
"Temenin, dong, Al," ucap Lira manja.
"Iya, kita mau nyoba soto juga," tambah Anya juga manja.
Alva tertawa sambil melirik Tamara sekilas yang masih tetap cuek.
'Ayo, young ladies," tukasnya sambil berdirii. Kemudian dengan gaya gentlemennya mengantarkan kedua wanita itu ke dekat menu soto yang tadi dia datangi.
Benerkan? Memang orang ini sangat menyebalkan, geram Tamara dalam hatinya.
Saat ini dia masih bisa mendengar obrolan menye menye kedua wanita itu dengan laki laki yamg akan di nikahkan dengannya bulan depan.
Apa orang tuanya ngga tau watak dan karakter player calon mantunya ini, batinnya dongkol.
Sotonya pun ngga berselera lagi dia habiskan. Tamara pun ngga menyentuh minuman yang diberikan Alva. Rasa pedas soto pun ngga dia rasakan. Tamara menilih berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Tanpa Tamara sadari, Alva meliriknya.
*
*
*
Tamara yang sedang melamun menjadi kaget ketika sudah ada Regan di sampingnya. Tangannya pun terulur meraih sirup itu dan meneguknya perlahan.
"Selamat, ya" ucap Tamara canggung. Dia belum terbiasa berinteraksi secara baik baik dengan sahabat sahabat Kiano.
"Jangan dipaksakan," balas Regan ringan, seolah tau perasaan Tamara. Mereka ngga pernah akrab, bahkan Tamara juga ngga menyukai dirinya, Kiano dan juga sahabat sahabatnya dulu karena pernah menyakiti Aruna.
Tamara ngga menjawab. Dia kembali meneguk pelan minumannya.
"Kita dansa?" ajak Regan sambil memgambil gelas dari tangan Tamara dan memberikannya pada pelayan yang lewat.
"Eh, enggak," tolak Tamara langsung.
Memang saat ini sudah ada pasangan pasangam yang turun ke tengah ruangan karena suara melow romantis dari musik.yang diputar.
"Kita bisa menberikan Alva sedikit shock teraphy," kekeh Regan berterus terang akan maksudnya yang sebenarnya.
"Ngga perlu," tolak Tamara lagi. Selain sungkan juga Tamara tau ada papanya dan papa Alva.
Apa kata mereka nanti tentangnya? Harusnya dia tetap protagonis tanpa dosa, kan? batin Tamara.
Seakan tau yang dipikirkan Tamara, Regan menunjukkan dagunya ke arah pasangan yang baru turun untuk berdansa.
__ADS_1
Tamara langsung mendengus kesal. Laki laki menyebalkan itu ternyata mulai berdansa dengan salah satu wanita yang menyapanya tadi.
"Ayo," paksa Regan sambil menarik tangannya dan berjalan ke tengah ruangan.
Dengan tenang Regan meletakkan kedua tangan Tamara di bahunya dan dia sendiri merangkul pinggang Tamara.
"Santai saja, jangan nervous," ucap Regan dengan senyum tipisnya melihat kegugupan Tamara.
Saat ini banyak.pasang mata terarah pada mereka. Apalagi Regan adalah tokoh utamanya di acara ini.
"Regan dengan siapa?" tanya istri ketiga papa Regan sambil terus menatap Regan dan wanitanya membuat suaminya juga mengikuti arah tatapannya.
"Itu putriku," jawab papa Tamara tenang.
"Oh," sahut papa Regan kembali memfokuskan pandangannya pada Regan setelah sempat menoleh pada papa Tamara.
"Cantik, ya," puji istri ketiganya sedikit iri melihat perlakuan lembut Regan pada Tamara.
Regan selalu dingin terhadapnya dan juga adik tirinya yang balita.
"Sangat jarang Regan menunjukkan kedekatannya dengan perempuan," ucap pqpa Regan terus terang. Regan ngga sepertinya yang senang bermain main dengan wanita cantik dan seksi.
Papa Tamara tertawa kecil.
"Mungkin karena putriku calon istri sahabatnya," ucap papa Tamara sambil.melirik papa Alva yang agak merasa sungkan karena saat ini Alva malah berdansa dengan wanita lain.
"Putri anda sudah punya calon suami?" agak terkejut papa Regan bertanya. Tapi senyum miring terukir di bibirnya
Menarik, batinnya..
"Anakku calon suaminya," jawab papa Alva berusaha tersenyum walau dirasanya kaku.
"Alva?" kali ini papa Regan melebarkan garis bibirnya. Apalagi dia melihat Alva juga sudah berdansa dengan wanita muda lainnya.
"Mereka dijodohkan," tambah papa Kiano menimbrung dengan kekehannya, berusaha membuat suasana santai.
"Ooh," balas papa Regan mengerti.
"Alva terlalu beruntung mendapatkan Tamara," kata papa Alva jujur dan merasa ngga enak hati melihat kelajuan putra semata wayangnya.
"Santai, bro. Mereka juga perlu adaptasi," kekeh papa Tamara agar calon besannya ngga terlalu merasa bersalah membuat papa Alva tersenyum lega.
Maklum, hanya Alva dan keluarganya yang baru melamar Tamara. Tapi kini papa Tamara lebih senang lagi, karena Regan pun ngga kalah berkualitasnya dengan Alva.
"Mereka itu sahabat lama. Ngga akan terlalu mempermasalahkan," timpal papa Glen santai.
"Betul," tambah papa Reno.
Karena hubungan anak anak mereka, hubungan para orang tua mereka juga akhirnya menjadi dekat.
__ADS_1