Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Cerita Qonita


__ADS_3

"Lo kenapa lagi, Qoni?" tanya laki laki muda yang tampan dan kini sedang duduk di sampingnya.


Mereka sama memandang ke halaman rumah yang dihiasi berbagai jenis anggrek. Qonita adalah penggemar anggrek sejati. Dia selalu merawatnya dengan penuh kasih sayang Bahkan pernah menangisinya anggreknya yang tiba tiba saja mengering dan perlahan lahan mati.


"Apa laki laki wajar punya banyak kekasih?" gumamnya pelan. Tapi laki laki di sampingnya ternyata mendengar dengan sangat jelas. Dia.pun tertawa lepas.


"Wajar," timpalnya enteng membuat Qonita langsung memukul keras berkali kali pundak laki laki itu yang ngga membalas atau mengelak. Dia terus tertawa dan membiarkan Qonita melepaskan kekesalannya.


"Ternyata semua laki laki itu sama aja," sungutnya setelah lelah memukul dan kini memasang wajah manyun.


"Dengar Qonita sayang. Laki laki dengan banyak kekasih itu bukan salahnya. Salah perempuannya yang masih mau aja dengannya," gelak Laki laki tampan itu sampai wajahnya memerah.


Qonita mendelikkan matanya kesal.


"Tapi kalo istri cukup satu aja. Biar anaknya ngga bingung yang mana mamanya," tambahnya lagi sambil terus tergelak.


"Mamiiiii! Kak Arik, mau poligami!" teriaknya kencang mengadu pada maminya.


Laki laki yang dipanggil Arik itu tambah keras tawanya. Bahkan sampai berguncang guncang.


"Apa, sih, kamu ribut melulu, Qonita," seru maminya yang kini sudah datang dan malah memarahinya.


"Kak Arik mau poligami, mam. Qoni mau laporan sama Kak Zesa," lapornya mengancam membuat maminya menggeleng gelengkan kepalanya. Sedangkan Arik masih saja tertawa tergelak gelak.


"Arik, tante udah siapin cake coklat buat Zizi, ya. Bilang sama Zizi, ya, kalo cake nya dari omanya yang cantik dan awet muda," ucap maminya sambil memamerkan senyum yang lebar banget.


"Iya, tante sayang," balas Arik sambil berusaha menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Teman teman Zizi di playgroup ngga nakal nakal, kan?" tanya mami Qonita agak khawatir.


Zizi terlalu imut. Beliau marah dengan kakaknya-mami Arik, yang mengijinkan cucu mereka di sekolahin. Padahal baru berumur dua tahun setengah.


"Ngga, kok, tan. Malah Zizi senang banget di sekolah," respon Arik setelah tawanya mereda.


Dia harus segera mengklarifikasi, karena maminya sudah pusing mendengar omelan adiknya setiap hari yang terus memarahinya karena ngga mau menjaga cucu imutnya itu dan lebih memilih menyekolahkannya.


"Yang benar?" tuding mami Qonita galak. Baginya Zizi kesayangannya setelah Qonita sangat mandiri dan ngga butuh dicerewetinya lagi.


"Bener, tan," tegas Arik meyakinkan.


Rasain dimarahin mami, batin Qonita dengan bibir tersenyum puas.


"Nanti sesekali tante mau ke playgroup ngelihat Zizi. Dibully atau engga," kata mami Qonita mambuat mata Arik terbelalak..Sedamgkan Qonita mulai ngikik melihat keposesifan maminya.


"Engga, dong, tan. Anak sekecil itu mana tau pembuliyan," sangkal Arik berusaha meyakinkan tante tersayangnya ini.


Kini dia mengerti kenapa maminya sangat gerah jika beradu pendapat dengan adiknya. Padahal harusnya maminya sebagai kakak yang menekan, tapi di keluarga mereka, adik bungsu maminya ini lah yang paling dominan.


"Pokoknya tante besok akan nge cek keselamatan cucu kesayangan, tante," kata mami Qonita bersikeras


Ya, ya, ya. Lanjutkan, mi, aku mendukung, kikik Qonita membatin.


"Iya tante sayang. Iya," ucap Arik mengalah karena udah ngga ada lagi kata yang bisa dia ucapkan sebagai penyangkalan.


Mami pun tersenyum puas. Kemudian beliau melirik pada putri tunggalnya.

__ADS_1


"Kamu ajak Arga milih tempat buat prewed."


DUAR!!


Qonita hampir jatuh dari duduknya saking kaget mendengar titah sang kanjeng mami.


"Buat apa, mi?" tanyanya dengan tampang blo-on.


"Ya, buat foto foto lah. Tempatnya harus bagus dan bercita rasa tinggi," tandas mami kemudian pergi meninggalkan Qonita yang hanya bisa melongo.


Dia tersadar mendengar tawa sepupunya yang kembali mengejeknya.


Dalam hati Qonita membatin ngeri.


Nikah?


NGGAAAK!


Arik pun terus tertawa sampai dia merasakan ponsel di saku celananya berdering merdu


"Angkat telponnya ayah."


Qonita menepuk jidatnya mendengar suara ponakannya yang di setting menjadi nada panggilan ponselnya.


"Bentar. Kak Arik mau ngomong sama Kak Athar dulu," pamitnya sambil menjauh dengan masih ada sisa tawa di wajahnya.


Qonita hanya mendengus kesal dan memggerakkan jari jari tangannya seolah mengusir ayam yang lewat.

__ADS_1


Arik hanya tertawa melihat polah dosen kekanakan yang merupakan sepupu kesayangannya ini.


__ADS_2