
Reno menatap foto wajah maminya dengan kesal.
Kenapa dia ngga diajak maminya. Kenapa hanya adik bungsunya saja.
Begitu selalu dia marah dalam hatinya.
Kedua kakak laki lakinya sudah menikah, dan kini hidup bahagia dengan anak dan istrinya. Sedangkan dirinya harus tetap tinggal bersama papinya yang gila kerja dan ngga pernah memperhatikannya lagi seperti dulu, waktu masih bersama maminya.
Makan malam pun sendirian, hanya ditemani para pembantunya. Papinya ngga pernah makan malam bersamanya. Apalagi saat sarapan dan makan siang.
Karena itu Reno selalu pulang tengah malam, sengaja lembur atau menghabiskan waktu di kafe atau club. Bahkan kadang ngga pulang.
Dan paginya dia pun sengaja melewatkan sarapan dan makan di kantin saja. Lebih menyenangkan karena ngga merasa sedirian.
"Sedih mulu. Udah gede," sapa kakak tertuanya sambil meepuk bahunya. Sengaja meledeknya. Bang Alvin.
"Gue ngga sedih," bantahnya kesal.
Abangnya pun tertawa melihat reaksinya.
"Di panggil papi. Di tunggu di ruang kerja."
"Tumben," sahutnya ngga acuh.
Biasanya papinya hanya menegurnya di kantor. Itu pun hanya formalitas menyangkut pekerjaan.
Alvin kembali tertawa.
"Papi mau bicara soal perempuan sama lo."
Mata Reno memicing menatap abangnya.
"Papi mau nikah lagi?"
__ADS_1
Alvin kembali ngakak mendengar nada sarkas adiknya.
"Bukan buat papi. Tapi buat lo," jelas Alvin setelah reda tawanya.
"Gue ngga mau dijodohin," balasnya malas sambil ngeloyor pergi meninggal kakak tertuanya yang hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukannya.
Tapi langkah Reno terhenti di depan tangga karena papinya sudah menunggunya di sana.
Beliau sadar kalo putranya pasti akan menghindarinya dan dengan sengaja mencegatnya.
"Ikut papi," perintahnya tanpa bisa ditolak dan berjalan lebih dulu.
Reno hanya bisa mendengus kesal.
Tentu saja dia terpaksa mengikuti keinginan papinya karena sudah bertemu muka. Walau pembangkang dia segan jika sudah bertemu muka dengan papinya.
Begitu ruangan kerja dibuka sang papi, Reno pun masuk dan duduk d di sofa dengan posisi miring. Khas anak kurang ajar.
"Kapan kamu akan menikah?" tanya papi sambil duduk di kursi kerjanya. Jarak mereka cukup terbentang.
Setelah nikah apa? Buat anak? Terus cerai? batinnya mengejek kehidupan papinya. Juga teringat akan papi Regan.
Nasibnya lebih beruntung dari Regan. Papinya hanya sekali saja menikah. Tapi papi Regan berkali kali. Bahkan Regan punya beberapa orang saudara tiri karenanya.
Karena itu mereka berdua ngga ada niat untuk menikah.
"Teman temanmu hampir semuanya mau nikah."
"Glen sama Regan belum."
"Bentar lagi Glen dan juga Regan akan dijodohkan."
Reno menatap papinya aneh. Udah lama ngga berdebat dengan papinya. Sejak mami pergi menikah dengan laki laki lain. Papinya yang dulu hangat berubah dingin dan menjadi gila kerja tanpa mempedulikan dirinya.
__ADS_1
"Pasti ditolak Glen sama Reganlah."
Segaris senyum muncul di wajah lelah papinya.
Papinya mendirikan sebuah pigura ukuran sepuluh R dan menghadapkannya pada Reno.
"Kalo sama yang ini kamu mau nggak?"
Reno menatap malas.
Cantik, sih, tapi dia ngga minat.
"Ini anak Pak Hadinata, teman papi yang bisnis transportasi dan media. Papi ingin kamu berkenalan dengannya."
Reno menegapkan tubuhnya.
Matanya menyorot memperhatikan foto perempuan itu sekali lagi.
"Ngga ada yang lebih cantik lagi, pi."
Papinya berdehem, ngga mau dibantah.
"Besok temui dia di kantornya, ajak makan siang. Tapi jangan ajak tidur," kata papinya sedikit bercanda. Tapi dengan nada serius.
Beliau tau betapa brengsek putranya yang satu ini.
"Kenapa kalo aku ajak tidur?" tantang Reno berani. Dalam hatinya muncul ide mau mencari hotel mewah yang akan di sewa besok. Lumayan buat ngilangin kesal.
"Paginya kalian akan langsung papi nikahkan," senyum papinya melebar. Anaknya masuk dalam jebakannya.
Beliau tau, Reno menyukai hubungan bebas tanpa ikatan. Jika menyangkut komitmen, dia akan mundur.
Reno langsung komat kamit tanpa suara. Kesal parah setelah mendengar kata kata papinya.
__ADS_1
Berarti yang ini hanya boleh dilihat, tapi ngga boleh diunboxing, dong.
"Namanya Nadia."