Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Debat Mami dan Glen


__ADS_3

"Glen, kapan kamu punya pacar?" tanya maminya saat Glen baru saja memasuki rumahnya.


"Mami sengaja nungguin Glen di sini hanya untuk nanya soal itu?" kekeh Glen sambil terus berjalan tanpa mau menjawab pertanyaan maminya yang sudah berjamur di kupingnya. Tapi maminya dengan sabar mengikutinya dari belakang.


"Mami tidur sana. Udah jam sepuluh malam loh. Nanti perawatan anti penuaan mami yang puluhan juta itu sia sia aja," ledek Glen masih terkekeh.


BUGH BUGH BUGH


Maminya dengan gemas memukul bahunya berkali kali.


Bukannya meringis, Glen malah tambah tertawa ngakak.


"Ada apa ini, sudah malam loh," kata papi yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya.


Kepalany digelengkan berulang kali melihat kelakuan istri dan putra bungsunya.


"Tuh, mam, tidur. Papi udah minta dikelonin," ledek Glen lagi.


PTAK!


Kali ini bukan mami yang menjitak kepalanya, tapi papinya.


Glen terus saja tertawa tawa senang berhasil menggoda mami dan papinya.


"Pi, cariin jodoh buat Glen, dong. Teman temannya semuanya udah punya istri atau pacar," lapor mami gemas.


Alis papi bertaut akan permintaan aneh istrinya. Dulu katanya ogah menjodohkan Glen. Katanya biar Glen nyari sendiri.


"Apa tinggal Glen sendiri yang jomblo?"


"Iya."


"Nggak lah. Regan dan Reno juga belum pasti. Masih bayang bayang," kilah Glen cepat.


"Apaan? Tadi Reno bawa pacarnya ke butik mami," bantah mami juga cepat. Bahkan cenderung menggebu gebu.


"Reno di jodohkan, mam," kata Glen menjelaskan.


"Apa iya?" tanya papi heran karena baru mendengar kabar ini.


"Iya."


"Masa, sih. Kok, Reno bilangnya pacar. Bukan dijodohkan," sangkal mami ngga percaya. Soalnya Glen sering ngibulin mereka.


"Masa mami ngga percaya. Reno aja udah ngenalin Nadia ke kita," bantah Glen lagi ngga mau kalah.


Eh, Nadia?


"Sembarangan. Bukan Nadia. Tadi namanya siapa ya... Rena, Rani... Ah, lupa. Pokoknya mirip mirip gitu," protes mami sambil berusaha mengingat dengan sangat keras.

__ADS_1


"Rain maksud mami?" tebak Glen asal nyebut


"Yaa! Rain!" seru mami kencang.


Papinya hanya jadi penonton drama perdebatan ibu dan anak yang cukup seru itu.


"Nggak mungkin. Mami salah dengar, kali. Calon istri Reno namanya Nadia. Kalo Rain, sih, cuma teman saja," bantah Glen lagi.


"Hiiiih, kamu susah banget dibilangin. Pokoknya kata Reno, nama pacarnya Rain yang tadi dibawa ke butik mami," tegas mami galak.


"Bentar mam, bentar," kata Glen berusaha mendinginkan suasana yang sudah memanas.


Dia pun mengeluarkan ponselnya dan mengklik icon gallery, dan memilih foto Nadia yang sedang bersama Reno di acara nikahan kemarin


"Ini, mam, calon istri Reno yang dijodohkan sama papinya," ucapnya sambil menunjukkan foto itu.


Papi pun ikutan melihat.


"Bukan yang ini!" mami tetap berkeras memprotes. Walau hatinya jadk bimbang karena mengira sudah dibohongin Reno.


Tapi gestur dan ucapan Reno terlihat jujur.


"Bentar, mam. Bemtar," kata Glen lagi sambil mengambil ponselnya dan mengklik foto Rain yang sedang berdiri dengan Lilo di acara yang sama. Nikahan Alva.


"Ini namanya Rain," katanya lagi sambil menunjukkan foto Rain. Lagi lagi papi mendekat, untuk melihatnya.


Keseringan bo'ong, kali, ya, batinnya geli.


"Nah, ini. Rain. Ngga mungkin Reno bohongin mami. Emang kamu," pungkas mami sambil mendelikkan matanya pada Glen kesal.


"Ngga mungkin, mam," sangkal Glen sambil menatap maminya lekat, untuk melihat apakah maminya sedang menge prank dirinya atau engga.


"Kenapa? Kamu ngga percaya sama mami?" kesal mami kemudian dengan gemas menjewer kupingnya sampai tubuh Glen terangkat sedikit Perasaan kesal mami sudah naek ke ubun ubun.


"Aaddu du du duh... sakit, mam," ringis Glen.


Papi pun tertawa melihat mani akhirnya menggunakan jurus andalannya.


"Tapi Glen ngga bohong, mam. Rain itu cuma teman. Nadia calon istrinya Reno," tetap saja Glen ngeyel. Karena kali ini dia jujur. Benar bena jujur


Tapi dalam hatinya dia kini memaki Reno yang tega teganya membohongin maminya.


Awas besok, ancamnya membatin.


"Sudah sudah. Lepasin, mam. Papi akan telpon papinya Reno," pinta papi berinisiatif karena ngga tega melihat kesakitan Glen, yang kali ini ngga pura pura.


Mami pun melepaskan jewerannya sambil manyun.


Rasain, batin mami marah.

__ADS_1


Glen pun ngga kalah manyun sambil mengelus kupingnya yang jadi korban gara gara kebohongan Reno.


Besok dia akan membalas Reno. Dua kuping sekaligus. Anggaplah itu bunganya. Dia sangat dendam kali ini.


Papi serius dengan ucapannya. Beliau pun menelpon papinya Reno.


"Maaf, mas, mengganggu malam malam," ucap papi ketika mendengar suara papi Reno di seberang sana.


"Ngga apa apa. Mau bahas proyek?"


"Engga mas. Cuma mau nanya soal Reno."


"Ada apa dengan Reno?" tanya papi Reno setelah semenit terdiam, bingung. Nada suaranya terdengar agak khawatir.


"itu mas, apa nama pacarnya Reno, Rain?" tanya papi agak ngga enak. Mengganggu malam malam malah menanyakan hal receh. Tapi terpaksa beliau dilakukan demi keselamatan Glen dari amukan istri tercintanya.


Istrinya ngga bakal berhenti menyiksa Glen, sampai putra bungsunya menyerah. Tapi dalam kasus ini, Glen kelihatannya jujur, ngga bohong sama sekali. Karena itu dia ngga mau menyerah. Keduanya sangat keras kepala kalo merasa apa yang mereka pikirkan itu benar.


Ngga mungkin, kan, istrinya akan menjewer Glen sampai pagi?


Ngga ada jawaban, yang terdengar malah suara tawa papi Reno. Kelihatannya sangat senang sekali atas pertanyaannya.


"Saya kira ada hal penting apa. Iya, pacar Reno namanya Rain," ucap papi Reno membenarkan setelah tawanya reda.


Karena papi meloudspeaker ponselnya, mami dan Glen bisa mendengar dengan sangat jelas.


Mami tampak tersenyum senang, sedangkan raut wajah Glen tampak ngga terima.


Tapi papi memberinya kode keras saat akan membuka mulut untuk memprotes, sehingga dia pun langsung kircep dengan merutuk Reno dalam hati


Kurang ajar! Apa maksudnya Rain juga pacarnya. Apa dia mau poligami.


Glen membuang nafasnya kesal.


Kenapa Rain mau mau aja jadi istri kedua. Dasar pada bodoh semua!


"Oke mas, makasih infonya. Maaf sudah mengganggu malam malam dengan pertanyaan ngga penting," jawab papi jadi sungkan


Tapi suara tawa papi Reno melegakam sedikit rasa sungkannya.


"Ya, ya, ngga apa. Santai saja." Akhirnya telpon pun terputus.


"Apa mami bilang. Ngga percayaan, sih, sama orang tua," ejek mami kemudian melenggang pergi meninggalkan Glen yang komat kamit ngga jelas dan papi yang terkekeh melihatnya.


"Sudah tidur sana. Besok saja kamu minta klariifikasi sama Reno," kata papi sambil menepuk bahunya sebelum pergi menyusul istrinya yang terlihat puas dan sudah memasuki kamar tidur mereka.


Glen pun menghentakkan kaki dengan kesal.


Awas besok lo, Reno! Sakit kuping gue harus dibalas!

__ADS_1


__ADS_2