Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Laki laki Mengerikan


__ADS_3

Kiano menatap kagum pada tubuh Aruna yang terbalutkan kebaya buat akad pernikahan mereka.. Brokat tipis yang menutupi bahu dan lengannya seakan digunakan untuk memamerkan kulit putih yang bening itu. Sangat cantik dan seksi.


Tapi Kiano ngga rela teman temannya dan para tamunya melihat kecantikan dan keseksian Aruna demgan mata jelalatan. Apalagi Glen dan Reno. Mata kedua sahabatnya itu bisa lepas dan pasti akan menempel terus di tubuh Aruna.


"Ganti," seru Kiano menolak keras.


"Tapi ini pilihan mama kamu," sergah Aruna ngga terima. Dia malas untuk bergonta ganti pakaian. Lagian cuma.dipakai sebentar. Apalagi masih ada tiga gaun ribet lagi yang belum dicobanya.


"Itu hanya untuk kita kalo berdua di kamar," tegas Kiano membuat wajah Aruna bersemu merah. Mbak mbak yang melayani Aruna pun ngga dapat menahan senyumnya.


"Kiano, apa yang kurang?" tanya tante Saraswati bijak, mencoba menengahi pertengkaran keduanya.


"Saya hanya ngga suka bagian atasnya yang terawang, tante," komentarnya membuat Aruna baru tersadar akan bagian tipis itu.


Maksudnya, dia melindungiku dari tatapan para laki laki nakal?


"Baiklah. Akan tante kasih puring, jadi nantinya ngga akan begitu terawang," sambut tante Saraswati setuju.


"Sekarang gaun resepsi ya," kata tante Saraswati sambil melirik asistennya agar mengajak Aruna ke ruang ganti. Tanpa kata Aruna pun mengikuti asisten tante Saraswati.


Kembali Kiano menatap Aruna ngga berkedip dengan batin mengomeli maminya.


Maminya terlalu mengeksplor keseksian Aruna yang selama ini ditutupinya.


"Apa baju itu ngga terlalu sesak?" tanya Kiano datar, menyembunyikan keterpesonaannya. Arunanya sangat cantik dan seksi, juga sangat menggoda.


Aruna yang sedari tadi malu dengan dandanannya yang cukup terbuka dan menempel ketat di tubuhnya menatap pada tante Saraswati agar beliau yang menjawab.


"Sudah pas, kan, Aruna?" tante Saraswati malah balik bertanya padanya membuat Aruna sedikit gugup.


"I iya."


Aruna ingin cepat mengganti gaunnya karena risih akan tatapan tajam.Kiano. Mungkin kakaknya Almira akan biasa saja memakai gaun seperti ini. Tapi tidak untuk dirinya.


"Tante, masih ada berapa gaun lagi ?" tanya Kiano memgalihkan tatapannya pada tabte Saraswati.


"Masih ada dua lagi."


"Boleh saya lihat dulu?" tanya Kiano lagi membuat Aruna menatap Kiano ngga ngerti.


"Boleh. Ayo," balas Tante Saraswati sambil berjalan duluan. Saat Aruna akan mengikuti, Kiano menahan tangannya.


"Gantilah bajumu dulu. Atau beli itu buat malam pertama kita," bisik Kiano nakal.


Wajah Aruna langsung memanas. Tanpa membalas ucapan Kiano, Aruna langsung berbalik ke ruang ganti.

__ADS_1


Kiano tersenyum lebar melihatnya sebelum melangkahkan kakinya mengikuti tante Saraswati.


Ngga lama kemudian Aruna bergegas menyusul Kiano. Dia agak was was dengan sikap Kiano akan gaunnya. Berharap Kiano bisa memilih gaun yang nyaman untuknya.


"Aruna, Kiano sudah memilihkan tiga gaun buat kamu," kata tante Saraswati saat melihatnya.Wajahnya terlihat sumringah.


"Aku memilih gaun gaun yang lebih sopan. Tapi kalo kamu lebih suka pilihan mami, akan aku beli. Tapi buat di kamar saja ya," goda Kiano membuat tante Saraswati dan dua pegawai yang berada di situ tertawa.Wajah Aruna kembali serasa disengat api.


"Ma mana gaun pilihan kamu?" tanya Aruna gugup sambil melototkan matanyq pada Kiano yang terkekeh.


"Ini Aruna," senyum tante Saraswati masih belum pupus dari wajahnya sambil meminta dua pegawainya mendorongkan tiga manekin yang sudah bergaun indah ke hadapannya.


Jujur dalam hatinya Aruna sangat berterima kasih pada Kiano. Gaun gaun yang dipilihnya sangat indah dan cukup tertutup. Ada dua yang berlengan pendek, tapi kedua tangannya dilapisi sarung renda sampai siku. Tidak ada belahan panjang, dada dan punggung tertutup rapi, dan ngga ada yang terawang. Gaun pun terlihat sedikit longgar di manekin tanpa meninggalkan kesan seksi.


Bibir Aruna tersenyum senang membuat Kiano yakin pilihannya disetujui Aruna. Kiano tau, Aruna ngga seperti gadis lainnya yang suka menonjolkan keseksiannya.


Herannya Kiano terhadap mamanya, padahal butik tante Saraswati cukup banyak menyajikan pilihan gaun gaun yang seksi namun sopan. Kenapa maminya malah memilih yang sangat menantang dan terlalu mengumbar keseksian Aruna.


"Gimana?" tanya Kiano ingin mendengar suara Aruna menyetujui pilihannya.


"Ya," jawab Aruna lega. Dia sangat berterimakasih karena sepertinya Kiano sangat paham dengan ketaknyamanannya akan gaun gaun pilihan mami calon mertuanya.


"Oke. Aku juga membeli selusin lingerie.," kata Kiano sambil memberi kode agar pegawai tante Saraswati membawa lingeri pilihannya.


Aruna terpengarah melihat deretan lingerie yang kini berada di depannya. Semuanya berbahan sangat tipis, penuh renda dan bertali spageti. Wajahnya sepertinya sudah matang biru.


"Ada bikini juga buat di kolam renang privat saat kita bulan madu," tambah Kiano dengan nada semakin menggoda..Dia pun tertawa senang memhuat Aruna semakin ingin melemparnya dengan manekin manekin yang ada di depannya.


Sementara tante Saraswati dan dua pegawainya mengalihkan pandangan ke arah lain dengan wajah yang ngga dapat lagi menahan senyum lebar mereka.


*


*


*


Kiano tersenyum lebar setelah Aruna keluar sambil membanting pintu mobilnya dengan sangat keras. Kiano mengantarkan Aruna pulang ke rumahnya. Dia sudah mendapat ijin karena dua hari lagi mereka akan menikah.


Sepanjang jalan Aruna membungkam mulutnya dan memasang wajah galaknya. Tapi Kiano ngga menggodanya lagi. Hatunya sangat senang karena Aruna ngga menolak lingerie dan bikini yang dipilihnya tadi. Gadis itu seperti hilang kata dan menurutinya bagai anak kucing.


Kini Kiano tergelak melihat reaksi akhir Aruna.


*Akhirnya, ternyata bisa marah ju*ga, batinnya tertawa dalam hati.


Masih dengan tawa di bibir, Kiano menjalankan mobilnya pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Kembali mengingat kata kata Regan kalo kemarin dia pingsan di lantai. Ternyata dia halu karena mengira sudah memeluk Aruna saat itu. Kiano tertawa lagi. Memeluk gadis itu sudah menjadi candu dalam dirinya.


Tapi begitu Kiano masuk ke ruang keluarga di rumahnya, maminya sudah berdiri dengan berkacak pinggang menghadangnya.


"Kenapa gaun gaun yang mami pilihkan kamu ganti!" semprot mami Kiano murka. Tante Saraswati sudah memberitahukannya lewat telpon setelah Kiano dan Aruna meninggalkan butik.


Kiano hanya tersenyum kalem. Kekek neneknya, juga papinya ikut menatap serius padanya.


"Pilihan mami membuat Aruna ngga nyaman," katanya separuh jujur, separuh bohong. Gengsi kalo Kiano harus jujur mengatakan hatinya panas jika nanti tamu tamu pria akan sangat fokus menatap keseksian Aruna di depan matanya.


"Masa? Itu sangat pas sekali buat Aruna. Dia pasti sangat cantik sekali," tegas mami membantah kesal.


"Aruna lebih nyaman dengan pilihan Kiano, mi," sangkal Kiano membuat mami terdiam.


"Kiano pengen tiduran dulu ya, mi," pamitnya sambil melangkah melewati maminya yang masih terdiam sambil mencium pipi maminya.


"Sudah mi. Yang mau menikah, kan, Kiano," cegah papi ketika melihat istrinya mau membuka mulut untuk kembali mengomeli putra mereka.


"Belum pernah aku mendengar Kiano memilih gaun buat perempuan," kekeh kakek Kiano dengan wajah senang. Dia bahagia, cucu pembangkangnya menyukai pilihannya.


"Kelihatannya Kiano juga menyukai Aruna," balas nenek Kiano dengan raut wajah bahagia.


"See? Kiano suka Aruna. Itu yang penting, kan," bujuk papi Kiano lembut membuat mami Kiano terpaksa tidak jadi memaksakan kehendakmya. Padahal beliau hanya ingin membuat Aruna terlihat cetar membahana di resepsi pernikahannya. Dan Kiano bertekuk lutut melihat keseksian Aruna. Hanya itu.


*


*


*


Untung rumah sepi. Aruna langsung masuk ke kamar dan menelungkupkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Di kepalanya masih terbayang lingerie dan bikini yang sangat seksi, yang dipilih langsung oleh Kiano. Rasanya Aruna ngga sanggup memakainya di depan Kiano.


Dia pun ngga pernah mengenakan yang seperti itu untuk baju tidurnya. Cukup daster batik saja, itu saja yang berlengan pendek. Aruna ngga pernah memakai daster seksi tanpa lengan, apalagi bikini di kamarnya. Walaupun tetap ada cukup banyak di lemarinya, karena mama dan kakaknya selalu rajin membelikannya.


Apalagi nanti harus mengenakannya di depan Kiano. Aruna pasti ngga akan sanggup. Kiano laki laki yang sangat mengerikan ternyata. Apa nanti mereka akan melakukannya?


"Aaaaahhh! Tidaaaakk!" teriak keras Aruna tanpa sadar setelah membayangkan dengan perasaan ngeri.


"Non, ada apa?" seru Bi Anti dari balik pintu dengan panik sambil mengetuk pintu dengan keras.


"Ngga, bi. Ngga ada apa apa," balas Aruna beteriak antara kaget dan malu.


Ngga kedengaran lagi suara pembantunya membuat Aruna bernafas lega.

__ADS_1


Bodoh! makinya dalam hati dan kembali menelungkupkan dirinya di atas tempat tidurnya dengan perasaan malu.


__ADS_2