Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Ulah Reno


__ADS_3

"Kak Lilo antar kamu ke perusahaan kamu, ya. Nanti Kak Lilo lamgsung ke perusahaan kakek," ucap Lilo sambil melangkah bersama Rain.


"Ya, kak."


Tiba tiba ponsel Lilo berdering pelan. Dia pun cepat mengangkatnya begitu tau siapa yang menelponnya.


"Lo kemana aja? Papi tadi nyari lo. Katanya ada berkas lo yang masih kurang," seru Reno pura pura panik sambil mengawasi Lilo dan Rain yang berada ngga jauh di depannya.


"Ngga mungkinlah. Tadi udah gue kasih semua," sangkal Lilo cepat dan ngga ngerasa salah.


Dia sudah memberikan semua file proyeknya tadi setelah selesai meeting.


"Ya mana gue tau. Lo temuin aja papi di ruangannya," pungkas Reno kemudian mematikan sambungan ponselnya tanpa menunggu jawaban Lilo.


"Heeh, kok, maen mati matiin aja." Lilo menatap kesal layar ponselnya.


"Ada apa, kak?" tanya Rain heran melihat wajah Lilo berubah kesal. Padahal tadi baik baik aja.


Ada masalah, ya?


"Kamu duluan ya, ke parkirannya. Kak Lilo ada urusan dikit dengan papinya Reno. Tunggu kak Lilo di sana," ucap Lilo sambil menyimpan ponselnya ke saku jasnya.


"Oh iya, kak," jawab Rain patuh.


Dia pun tersenyum sambil melihat kepergian Lilo.


Tapi baru saja Rain berjalan empat langkah, seseorang menarik tangannya dan memaksanya ikut bersamanya.


"Kak Reno," kaget Rain dan reflek ingin menghempaskan tangannya.


"Lepas!" seru Rain kesal.


Tapi cekalan Reno terlalu kuat dan dia pun langsung membawa Rain pergi dari situ tanpa berkata sepatah kata pun.


Reno terus melangkah ke arah parkiran yang berbeda dari parkiran mobil Lilo berada. Parkiran khusus CEO.


"Masuk," perintah Reno sambil membuka pintu mobilnya untuk Rain.


Rain menggelengkan kepalanya. Dia mulai merasa takut. Tubuhnya mulai gemetar dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya. Apalagi di parkiran CEO sangat sepi.


"Nggak."


"Aku hanya ingin bicara," kata Reno sedikit memaksa sambil mendorong tubuh Rain yang berkeras menolak.


"Aku ngga mau!" seru Rain takut takut. Rain ingat, saat dia marah, Reno.semakin kasar.


Dia trauma. Takut kejadian yang ingin dia lupakan terjadi lagi.


"Oke, kita bicara di sini," putus Reno ketika melihat wajah Rain yang pucat karena tindakan nya yang seperti akan berbuat jahat padanya. Dia pun melepaskan cekalannya pada lengan Rain.


Lengan itu terlihat memerah karena Reno mencekalnya cukup kuat.


"Maaf," ucapnya pelan. Dia memarahi diirinya yang sudah berlaku kasar lagi pada Rain.


Rain mencoba mengatur jalan nafasnya yang tersengal.


Reno menutup pintu mobilnya dan memilih bersandar di samping Rain.


"Sebelumnya, aku minta maaf karena udah ngga percaya sama kamu," ucap Reno sambil menatap wajah Rain yang mulai memerah lagi. Nafas Rain pun sudah teratur.


Tapi gadis itu memalingkan wajahnya, menjauhi tatapan dalam Reno. Dada Rain tiba tiba sesak.

__ADS_1


Reno menghela nafas panjang. Gadis ini sepertinya sudah ngga mau mengenal dirinya lagi. Mungkin membencinya dengan amat sangat. Wajarlah, dia sudah berlaku sangat kejam. Ngga berperasaan. Mengambil miliknya yang paling berharga secara paksa.


"Aku pun kaget bisa bertemu kamu lagi. Aku tau pasti kamu ngga suka dengan pertemuan ini. Tapi kita harus profesional dalam bekerja," ucap Reno membuka pembicaraan setelah mereka terdian cukup lama.


Rain masih ngga menyahut. Dia hanya ingin agar laki laki jahatnya ini cepat mengutarakan maksudnya menyanderanya di sini. Setelah itu dia akan pergi. Selamanya.


"Kamu sudah test kehamilan?"


Rain menatap Reno heran. Bukannya laki laki itu yang sudah memberikannya pil agar dia ngga hamil? Dia oun sudah meminumnya.


"Aku salah ngasih obat. Kermarin yang ku kasih vitamin penyubur kandunagan, bukan pil pencegah kehamilan," kata Reno sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Frustasi.


Apalagi Rain. Bibirnya setengah terbuka mendengar kenyataan ngga terduga yang dia dengar. Kakinya melemas seolah kehilangan kekuatannya untuk berdiri tegak.


"Mak maksudnya?" tanya Rain dengan suara bergetar. Bayangan buruk sudah menghampirinya.


"Sudah lebih dua minggu. Kurasa sedang proses."


PLAK!


Rain menampar keras pipi Reno sampai dia berpaling.


Sejujurnya itu yang ingin Rain lakukan setelah Reno memaksanya dengan sangat kejam. Tapi baru kesampaian sekarang.


Raib merasa aneh, bukan rasa lega yang dia dapatkan, melainkan perasaan takut dan kalut.


Apa yang harus dia lakukan jika nantinya hamil anak dari laki laki yang sebentar lagi akan menikah dengan perempuan lain.


Rain juga takut kesehatan papanya akan kembali memburuk jika mengetahui kehamilannya.


Reno terdiam mengamati ketermanguan Rain. Pipinya masih terasa panas.


Pasti merah, pikirnya dalam. hati. Dia tau sangat pantas mendapatkannya.


Dia mengambil sebuah kantong plastik kecil di dalam dashbord mobilnya.


Sudah dia beli sejak tau dari Vira jika dia salah mengambil obat. Tapi baru bisa diberikan pada Rain karena gadis itu mendadak menghilang. Susah dia temui.


"Kamu bisa cek. Katakan hasilnya padaku. Aku... aku akan tanggung jawab," katanya agak ragu. Ada kebimbamgan dalam hatinya.


Gimana caranya memberitahukan pada papinya. Juga Nadia. Mereka ngga lama lagi akan menikah.


Walaupun Reno ngga menyukai perjodohan ini, tapi dia ngga berani menolak keinginan papinya.


Rain menerima dengan tangan bergetar. Kemudian memasukkannya ke dalam tasnya.


Dia akan tanggung jawab hanya kalo hamil? Kalo ngga hamil, berarti ngga tanggung jawab? batin Rain tersinggung.


"Tau, kan, cara memakainya?"


Rain hanya mengangguk.


"Besok aku akan ke.perusahaan kamu untuk melihat hasilnya. Kita ketemu saat jam makan siang."


Rain ngga menjawab. Karena merasa sudah selesai maksud Reno membawanya ke tempat ini, Rain memilih pergi begitu saja meninggalkan Reno.


Dadanya semakin sesak. Langkahnya terasa gontai. Matanya pun sudah siap menumpahkan sumber airnya.


Tubuh Rain menegang ketika merasakan ada dua tangan yang merangkul pinggangnya.


"Maaf. Maafkan, aku," bisik Reno yang menaruh kepalanya di bahu Rain.

__ADS_1


Rain ngga menolak, juga ngga meronta. Dia bingung. Air matanya mengalir jelas. Dia takut, takut menghadapi penghakiman dari orang orang yang tau jika dia ternyata hamil sebelum pernikahan.


Reno yang merasakan tetesan air mata itu kemudian membalikkan tubuh Rain, bermaksud memeluknya.


"Lepasin!" marah Rain yang tersadar kalo laki laki yang memeluknya adalah laki laki yang sudah merusaknya.


Dia pun meronta agar bisa lepas. Tapi Reno memeluknya erat sampai akhirnya Rain menangis di dada Reno tanpa perlawanan lagi.


"Kamu jahat! Kamu jahat!"


Hanya itu kata kata yang terucap dari bibirnya diiringi isak tangisnya.


"Maaf," bisik Reno lagi. Berkali kali. Dia seakan bisa merasakan ketakutan di hati Rain.


*


*


*


"Om, berkas apa yang belum lengkap?" tanya Lilo langsung ketika sudah berhadapan dengan papi Reno dan abang Reno.


Beruntung Lilo menemukan papi Reno yanng masih berada ngga jauh dari ruang mereka tadi meeting.


"Berkas?" Alis papi berkerut dan matanya menatap Alvian yang juga menatap dirinya penuh tanya.


"Tadi Reno menelpon, katanya ada berkas yang kurang," jelas Lilo lagi.


Papi Reno terdiam. Menyadari Lilo datang sendiri tanpa putri Pak Ruslan, beliau semakin curiga. Kalo ini adalah akal akalan Reno untuk berdua saja dengan gadis itu.


"Oh, om lupa. Maaf ya, Lilo. Ada sedikit miskomunikasi dengan Reno. Sudah semua berkas dari kamu," kata papi Reno ringan sembari memberikan isyarat agar Alvian menutup mulutnya.


"Oh, syukurlah kalo begitu, Om," kata Lilo lega.


"Kamu sendirian?" tanya papi pura pura heran.


"Rain saya minta nunggu di parkiran," sahut Lilo.


"Rain?" tanya papi seolah ingin menegaskan nama itu.


"Putrinya Om Ruslan, namanya Rain, om," sahut Lilo lagi.


"Om, saya pamit kalo gitu. Setelah mengantar Rain, saya harus ke perusahaan kakek."


"Oke, oke," ucap papi dengan senyum lebarnya.


"Salam buat kakek Suryo," kata Alvian sebelum Lilo pergi.


"Iya, bang."


Kemudian Lilo melarikan kakinya ke tempat Rain menunggunya.


Setelah punggung Lilo menjauh, papi menatap Alvian.


"Coba cek cctv tempat Lilo meninggalkan gadis itu."


"Siap, pap."


"Papi makin curiga dengan adikmu," katanya sambil memijat keningnya. Beliau yakin, putranya akan membuat skandal.


Alvian ngga menjawab, tapi dalam hati menyetujui perkataan papinya.

__ADS_1


Dia pun berlalu pergi ke ruang cctv.


__ADS_2