Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Cemas Yang Berlebihan


__ADS_3

"Gue ngga bisa! Pokoknya gue ngga mau," tolak Alva berapi api. Pagi ini dia sudah berada di ruangan Glen. Sengaja pagi pagi berangkat dengan alasan ngantor, padahal pengen curhat


Glen ngga bisa menyembunyikan wajah senangnya melihat Alva yang datang datang dengan wajah keruh dan langsung ngomel ngomel. Bahagia rasanya melihat sahabatnya yang songong itu menderita untuk menikah.


"Salah lo sendiri. Lo udah buat Tamara jadi korban, tapi lo malah merasa jadi korban."


Mata Alva mendelik kesal mendengar kecaman Glen


"Lo! Kenapa ngga belain gue!" sergahnya marah. Rasa kesalnya sudah mencapai ubun ubun. Mengharap Glen, sahabat yang otaknya sama ngga benarnya dengan dirinya itu membelanya. Ternyata dia salah besar.


"Lo pikir, deh, Al. Hanya buat mutusin Meti, lo pake Tamara buat tameng. Apa Lo ngga kasian. Padahal dia bisa dapat yang lebih banget dari lo," sarkas Glen ngga peduli akan kemaarahan Alva.


Alva menggaruk kepalanya yang ngga gatal.karena frustasi. Dalam hati membenarkan apa yang dikatakan Glen.


Tapi dia terpaksa. TERPAKSA, batinnya nge gas membela dirinya sendiri.


Saking kesalnya Alva membaringkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata.


"Gue pusing," keluhnya dengan kepala yang terasa sangat berat. Menghitung hari hari pernikahannya dengan Tamara bisa membuatnya gila.


"Makanya jangan asal kalo mau buat rencana," hina Glen mencibir.


"Lo tau sendiri, si Meti kayak lebah. Nguntit gue terus kemana pun gue pergi," sentak Ava emosi.


"Jadi si Meti lebah. Lo bunga gitu?" gelak Glen terpingkal pingkal.


"Perumpamaan bego! Segala cara udah gue coba buat nolak dia, selalu gagal! Nah, tumben yang sekarang berhasil," nge gas kembali Alva sambil memijat mijat keningnya.


"Memang berhasil dan sukses nge giring lo cepat nikah," sarkas Glen dengan tawanya yang berderai derai.


Alva mendengus kasar. Dia ngga bisa membiarkan pernikahannya berlanjut.


"Regan mau ngga gantiin gue," katanya setelah cukup lama berpikir


"Jangan aneh aneh. Lo yang punya tanggungjawab malah lo limpahin ke orang lain," tepis Glen dengan tawa yang mulai mereda.


"Siapa tau Regan mau. Dia sepertinya bisa menjinakkan Tamara," kata Alva serius sambil menatap Glen yang sekarang berdiri dengan bokong yang bersandar pada tepian meja kerjanya. Kedua tangannya pun ditaruhnya di dalam saku celananya. Terlihat santai.


"Lo kayak ngga tau Regan aja. Dia masih pengen jomblo," sanggah Glen super yakin.


"Siapa tau bisa berubah pikiran kalo sama Tamara," ngeyel Alva berkeras.


"Ngga mungkin. Regan paling anti kalo bicara pernikahan," bantah Glen ngga mau kalah.


Regan sama seperti dia dan Reno, lebih suka hubungan tanpa komitmen. Alva juga tau itu.


"Apes gue kalo gini," sungut Alva sambil mengusap usap wajahnya tambah frustasi. Tawa Glen yang tadinya udah berhenti mulai terdengar lagi karena ngga tahan melihat wajah putus asa Alva.


*

__ADS_1


*


*


"Kamu masih sama Tamara?" tanya Kiano saat menelpon Aruna.


Setelah papinya pulang, hatinya resah karena takut akan teejadi sesuatu dengan Aruna. Mau langsung ke rumah sakit tempat istrinya bekerja, pekerjaannya ngga bisa ditinggal.


Begitu juga dengan deretan meeting yang sudah lama terjadwal.


"Iya. Ada apa?"


Aruna yang saat ini ditemani Tamara di ruang kerjanya menatap ponsel itu dengan perasaan bingung.


Padahal tadi pagi Kiano sendiri yang mengantarkannya bersama Tamara ke rumah sakit.


Apa dia sudah pikun? batin Aruna sedikit mencela suaminya.


Masih muda udah pikun, ejeknya lagi dalam hati.


"Ya udah. Kamu jangan jauh jauh dari Tamara," pesan Kiano berusaha ngga terjadi apa apa.


"Kamu lagi ngerahasia in sesuatu?" tanya Aruna curiga. Biasanya kalo seperti ini ada yang Kiano tutup tutupi


"Engga. Cuma kangen aja dengar suara kamu," rayu Kiano. Sepertiganya bohong, dua pertiganya benar apa adanya.


Apa sejak mereka menghabis kan malam pertama?


Aruna menggelengkan kepalanya dan semakin malu karena Tamara memperhatikan tingkah absurdnya penuh selidik.


"Jangan terima pasien sembarangan, ya," pesan Kiano masih ngga tenang. Kiano mulai merasa ngga tenang dengan pasien pasien Aruna. Bisa saja, kan, Claudya atau pengawalnya menyanar.


Memikirkan sampai ke sana membuat Kiano tambah stres dan ngga bisa berbuat apa apa, hanya menggantung harap pada anak buah papinya.


"Sembarangan gimana, Kiano. Mereka hanya orang sakit," sanggah Aruna sedikit kesal. Aruna ngga terima pasien pasiennya dicurigai sebagai penjahat.


Nah, kan, ini yang membuat Kiano semakin takut dan kesal karena pikiran polos si bidadari baiknya. Ngga mau curiga. Malah ntar Kiano akan dapat nasihat, jatuhnya dosa kalo sering berprasangka buruk. Padahal maksud Kiano agar istrinya waspada dan hati hati.


"Okey, aku harus meeting. Love you," kata Kiano lembut sebelum memutuskan sambungan telponnya.


Sambil meraih laptopnya, dia bangkit untuk menuju ruang meeting. Tapi hatinya masih ngga tenang.


Langkahnya yang baru saja menutup pintu ruangannya terhenti kala melihat Alva yang barusan keluar dari ruangan meeting.


"Al, lo mau kemana?' tanya Kiano menahan langkah Alva.


"Gue ijin bentar. Kepala gue pusing," sahutmya sambil menunggu Kiano yang mendekatinya. Wajahnya terlihat keruh. Rambut acak acakan karena sudah digusarnya beberapa kali di ruang Glen saking stresnya.


"Oke. Bisa lo mampir ke rumah sakit nengokin Aruna? Gue ngga tenang, Claudya sudah bebas," cicit Kiano panjang lebar.

__ADS_1


"Apa! Kok bisa psikopat gitu bebas?" kaget Alva sambil membesarkan matanya.


Kiano membuang nafas kesal. Dia pun berpikiran sama dengan Alva. Claudya itu psikopat.


"Itu juga yang buat gue kesal."


"Oke-oke. Gue ke sana sekarang, ya," kata Alva sambil menepuk bahunya sebelum pergi.


"Terima kasih," seru Kiano begitu melihat sahabatnya sudah berbalik dan melangkah cepat menjauhinya.


"Sama sama," balas Alva berseru tanpa menoleh.


Kiano tersenyum tipis melihat respon cepat Alva. Walaupun banyak yang bilang Alva songong dan menyebalkan, tapi dia ngga pernah ragu jika dinintai tolong. Fast Response.


CEKLEK


Pintu ruangan Glen terbuka.


"Lo mau meeting?" tanya Glen yang juga membawa laptopnya.


"Iya."


"Tadi lo ketemu Alva?" tanya Glen sambil melihat punggung Alva yabg sudah menjauh


"Iya, gue suruh dia ke rumah sakit. Gue khawatir sama Aruna."


"Kenapa lagi? Claudya masih di penjara, kan?" tanya Glen dengan kening berkerut.


"Dia sudah bebas pagi tadi."


"APA?!"


Seperti ada petir di telinganya, bahkan laptop di tangan Glen hanpir jatoh.


Kenapa dia baru tau?


"Tapi kata papi, Claudya akan berangkat ke Inggris sama Sasya sore ini. Tapi gue ngga tenang selama dia masih di sini," kata Kiano terus terang dengan perasaan ngga enak. Dia tau kalo Glen sempat suka dengan Claudya. Bahkan Regan pun pernah dimusuhinya.


"Lo tenang aja, dia ngga mungkin berani macam macam," kata Glen menenangkan Kiano sekaligus mengejutkannya.


"Lo udah ngga ada rasa sama Claudya?" tanya Kiano penuh selidik.


"Hanya suka sesaat," kekeh Glen hambar. Dia juga bingung dengan perasaannya. Ada segumpal rasa kecewa mengetahui kelakuan Claudya.


Kiano ngga berkomentar. Dia ngga ingin menggali Glen lebih dalam.


"Ayo kita meeting. Alva pasti bisa dihandalkan," kata Glen sambil menepuk pundak Kiano.


"Semoga," kata Kiano penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2