
"Hai, Rain," sapa Glen demgan senyun lebar menggodanya.
"Kamu cantik banget," sambungnya lagi.
"Aruna yang memilihkan gaunnya. Ternyata cocok banget ya," puji Lilo dengan senyum lebar.
Rain balas tersenyum tipis.
"Cocok sekali," timpal Regan sambil melitik Renonyang masih diam terpaku menatap Rain.
"Kamu, kok, bisa kenal dia, sih. Ini rajanya buaya loh," tawa Glen tergelak. Hampir semua tertawa mendengar candaan Glen. Hanya Reno yang begitu sulit menggerakkan bibirnya.
Lilo pun ikut tertawa. Dia mgga marah, sudah biasa karena sering masuk dalam cyrcle pertemanan dengan Kiano, kakak sepupunya.
"Buaya yang sangat berkualitas," balas Lilo tergrlak, semakin membuat yang lain pun menggeleng gelengkan kepala atas kepercayaan diri Lilo yang sangat tinggi.
"Ngga nyangka kamu putrinya Pak Ruslan. Maaf ya," ujar Arga dengan senyum hangatnya.
"Kalo lo cerita dari awal pasti kita akan langsung bantu," kata Regan tanpa merinci kesulitan Rain.
"Iya. Tapi untunglah kamu ketemu orang yang tepat," balas Glen antusias.
"Aruna, lo bidadari banget. Makanya Kiano cinta berat sama lo," puji Regan sambil terkekeh.
Kiano tanpa malu mencium kening istrinya.
"Iya, dong," balasnya setelah kecupannya lepas.
Aruna hanya tersenyum.
Semua tertawa dan tersenyum senang. Bahkan Qonita dan Nadia juga ikut tersenyum mendengar candaan candaan mereka.
Hanya Reno yang tetap kaku dan ngga bereaksi apa apa. Regan tentu saja mengawasinya. Juga Glen.
"Sekarang papa lo keadaannya gimana, Rain?" tanya.Arga kepo.
"Sudah mulai membaik, kak."
"Syukurlah," Glen yang menjawab.
"Sorry ya, saya sebagai dosen kamu terkesan ngga peduli dengan kesulitan yang kamu hadapi," ucap Qonita dengan rasa bersalah.
"Ngga pa pa, bu," jawab Rain ringan. Dia ngga mau membebani orang lain.
Qonita mengusap bahu Rain lembut.
Dirinya yang hampir setiap hari bersama Rain, malah ngga tau kesulitan mahasiswinya.
Malah ada orang lain yang lebih peka. Qonita melirik Aruna yang sedang dirangkul laki laki yang sangat tampan.
Perutnya terlihat membuncit dikit.
__ADS_1
Dia hamil? Jadi itu suaminya? batinnya menerka.
"Lihat aku aja, jangan lihat suami orang," bisik Arga di telinga Qonita dengan senyum nakal di bibirnya.
Qonita memanyunkan bibirnya membuat Arga tertawa kecil.
Ooo, suaminya. Kelihatannya seperti laki laki baik baik. Beda banget dengan yang satu ini, batinnya kesal.
Kenapa dunia ngga menyisakan satu lagi yang seperti ini untuknya, serunya dalam hati frustasi.
Melihat sikap laki laki itu pada istrinya, pasti dia laki laki yang lembut dan setia, lagi lagi batin Qonita menganalisa Kiano.
"Kami berteman sejak SMA, juga dengan pengantinnya," jelas Arga tiba tiba.
Nadia yang ikut mendengarkan, manggut manggut mulai mengerti. Kenapa sikap Reno bisa hangat dengan Tamara, pengantin perempuan yang ditenuinya di kafe tempat Rain bekerja.
"Sejak SMA?" tanya Qonita ngga percaya ada persahabatan seawet itu terhadap lebih dari dua orang.
"Ya," Regan kali ini yang menjawab.
"Mereka itu pacarannya sejak SMA," lanjut Regan sekenanya dengan suara pelan sambil menunjukka dagunya pada Kiano dan Aruna.
Arga hanya tertawa kecil melihat Qonita yang terpana mendengarnya.
Kamu memang paling gampang dibohongi, tawa Arga dalam hati. Dia pun yakin Regan berkeyakinan sama dengannya karena melihat reaksi polos Qonita.
"Katanya kamu sudah tunangan dengan Reno?" tanya Regan mengalihkan topik pembicaraan.
Rain tanpa sadar melihat ke arah jari manis Reno dan jari manis Nadia silih berganti.
Tapi waktu itu, masih calon, kan? batinnya ngenes.
Nadia menghirup udara sebanyak banyaknya. Rasanya sesak pengap.
Teganya laki laki ini. Setelah mengambil semua miliknya tanpa sisa, kini dia benar benar digeletakkan begitu saja.
Walaupun Rain dari awal sudah sadar ngga ada gunanya mengharapkan Reno, tapi tetap saja dia merasakan sangat sakit. Juga terhina. Seperti sampah yang ngga berharga.
"Malam kemarin kita langsung tukar cincin. Hanya dihadiri keluarga inti saja," cerita Nadia malu malu.
"Selamat, ya," kata Aruna sambil mengulurkan tangannya. Juga Qonita. Dan terakhir Rain.
"Terima kasih." Hanya kata kata itu yang berulang kali Nadia ucapkan pada ketiga gadis yang mengulurkan tangan padanya bergantian.
Reno berjalan menjauh. Dia merasa kepanasan. Dia pun mengambil segelas minuman dingin dan langsung meneguknya hingga habis
"Kamu kenapa?" tanya Glen yang sudah berada di sampingnya.
Reno hanya meliriknya sebentar.
"Pantas saja Rain ngga jadi menjual virginnya dia. Ada Aruna dan Kiano yang sudah membantu."
__ADS_1
Reno ngga mempedulikannya. Dia mengacuhkan sahabatnya yang terlihat bawel malam ini. Pikirannya masih semrawut.
Kenapa dirinya ngga mau berhenti ketika gadis itu sudah memohon padanya.
Ternyata Rain berkata jujur. Ada yang membantunya tanpa harus menjual miliknya yang paling berharga. Tapi dia sudah sangat memaksanya.
Pantas saja cek setengah milyar yang dia berikan dirobeknya bagai kertas coretan yang ngga berguna lagi. Sudah ada yang memback upnya.
Matamya melirik Rain yang ternyata melihat ke arahnya juga. Tapi mata itu cepat berganti arah.
Reno.dapat melihat tangan Lilo yang merangkul mesra pinggang Rain. Seperti lem, ngga dilepas sejak kedatangan mereka tadi.
Hatinya geram. Ingin sekali dia menarik tangan Lilo dan mendorongnya agar menjauh.
"Apa Kiano sedang menjodohkan Rain dengan Lilo," kekeh Glen seakan ngga tau betapa panasnya hati Reno saat ini.
Atau sengaja?
Reno mengingat kata kata Regan kalo Glen juga tau tentang perasaannya pada Rain.
Reno menyerahkan gelas kosong itu kepada pelayan yang mendekat dan berlalu meninggalkan Glen.
"Eh, lo mau kemana?" kaget Glen dalam kekehannya melihat Reno yang berjalan meninggalkannya.
"Lo suka sama Rain?" tanya Glen sambil menjejeri langkah Reno.
"Emamg kenapa? Lo suka juga?" sentak Reno kesal. Saat ini dia sedang menahan marah, tapi Glen terus saja memancing mancingnya.
"Lo, kok, nge gas," kekeh Glen seakan mengetawakan kekesalannya.
Reno ngga menjawab. Dia sudah hapal watak Glen. Karen diandan Alva juga setioe dengannya..Mereka.akan suka mengganggu dan menjadi bensin yang akan terus menyiram hingga kompor itu akan meledak.
"Kalo lo suka, gue ngga akan suka," pamcing Glen lagi.
"Ambil aja," ketus Reno kemudian berhenti di depan stan puding
Sisa gue, batinnya melanjutkan.
"Gue udah anggap dia adik. Lo tau, kan, gue ngga punya adik."
Glen pun mengikuti Reno yang mengambil puding coklat beserta vlanya.
"Adik ketemu gede," sarkas Reno masih dengan nada ngga enak di dengar.
Glen malah tertawa mendengarnya. Seakan akan hatinya sangat senang melihat kemarahan Reno yang meledak ledak.
"Lo cemburu sama Lilo, ya. Dari tadi marah melulu," tukas Glen lagi sangat santai setelah menelan pudingnya.
"Lo ngga lihat gue udah punya Nadia," delik Reno tambah kesal.
Sekarang dia baru menyadari betapa menyebalkannya dirinya saat berada di posisi Glen.
__ADS_1
"Yaah, siapa tau lo maen mata," sindir Glen masih dengan wajah meledeknya.
Reno ngga mempedulikannya. Dibiarkannya Glen yang tertawa tawa kesenangan mengganggunya.