Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Terlambat?


__ADS_3

Alva pun duduk dengan santai di ruang tunggu pasien. Masih ada dua pasien lagi. Dia baru akan menelpon Kiano ketika melihat pintu ruang periksa Aruna terbuka tiba tiba.


Aruna dan suster Uci dan juga Tamara(?!) terlihat memapah seorang pasien wanita yang berumur sepertinya empat puluhan yang terlihat lemah.


Tanpa ragu Alva menghanpiri mereka.


"Ada apa?" tanyanya mengambil alih tugas ketiga wanita lemah itu.


"Alva," kaget Aruna.


Kenapa dia ke sini? batinnya heran.


"Kamu ngapain di sini?" nge ngas Tamara ngga suka melihat kehadiran Alva


"Gue mau jenguk nenek gue," sahut Alva asal.


Tamara menatapnya ngga percaya.


Ngga mungkin. Lo disuruh Kiamo, kan? batin Tamara mencibir.


"Di ruang apa?" tanya Aruna kepo.


"Apanya?" tanya Alva blank.


"Nenek lo dirawat," seru Tamara kesal.


Oiya, nenek gue, batinnya nyengir.


"Nanti aja tanya jawabnya. Berat nih, mau di bawa kemana ibu ini?" tanya Alva mulai kesal karena mereka masih ngga gerak dari situ. Sementara ibu ini cukup gemuk juga badannya. Pantasan ketiga wanita lemah tadi kepayahan.


"Sebentar. Suster, tolong urus dulu pasien pasien saya, ya," kata Aruna meminta tolong.


"Siap dokter."


Ngga lama kemudian seorang suster di depan mereka berlarian sambil membawa kursi roda.

__ADS_1


"Tolong dudukin di sini dulu, Al," pinta Aruna sambil membantu Alva mendudukkan ibu itu ke kursi roda.


"Oke."


Setelah mendudukkannya, Kiano membiarkan perawat tadi mendorong kursi rodanya.


"Mau dibawa kemana?" tanya Alva ingjn tau.


"Katanya keluarganya nunggu di tempat parkir."


"Kenapa ngga ke IGD aja? Kelihatannya agak parah," protes Alva karena melihat kondisi pasien yang nampak lemah.


"Tadi beliau minta rekomendasi untuk berobat ke luar negeri. Jadi setelah ini mau langsung berangkat," jelas Aruna.


"Kenapa ibu ini sendirian? Harusnya, kan, ditemani anak atau ponakan atau suaminya?" cicit Alva heran sambil melangkah mengikuti langkah mereka.


"Tadi anaknya yang ngantar, terus pergi bentar belum balik lagi ke sini" jelas Aruna dengan sabar.


Tamara mendelikkan mata sewot mendengar kecerewetan Alva.


"Jadi laki cerewet banget, sih," kecam Tamara yang ikut menemani Aruna.


"Suka suka gua. Mulut mulut gua," balas Alva sengit.


Tamara mendengus kesal. Aruna hanya menghela nafas panjang melihat pasangan yang sebentar lagi akan menikah ini.


Mereka lebih mengerikan dari pada dirinya dan Kiano dulu.


"Aruna, kenapa lo ikut ngantar? Kan cukup perawat ini aja. Kasian pasien pasien lo yang ditinggal?" protes Alva heran.


Jadi dokter ngga tanggung jawab banget, celanya dalam hati.


"Ada yang mau aku katakan pada anggota keluarganya tentang kesehatannya,."


Aruna merasa lebih tenang kalo mengatakan sendiri tentang keadaan kesehatan pasiennya pada keluarga mereka. Biasanya mereka akan lebih banyak bertanya dengan santai dan Aruna akan menjawabnya dengan senang hati demi membantu keluarga dalam merawat pasien. Karena itulah banyak pasien sangat betah dan menyukai keberadaannya.

__ADS_1


"Loh, kok, ngga parkir yang di depan?" tanya Alva heran melihat perawat itu membelokkan arah kursi roda ke parkiran samping.


"Eh, iya. Kok, kamu tau kalo keluarga pasien itu berada di parkiran sini bukan di depan?" cicit Tamara bertanya mulai curiga. Dari tadi baik pasien maupun perawatnya hanya diam saja. Hanya kicauan Alva saja yang terdengar disambut dengan sahutan Aruna.


"Kamu perawat baru?" tanya Aruna ramah, karena dia belum pernah melihat perawat itu sebelumnya.


Tamara dan Alva langsung waspada. Bahkan Tamara langsung menarik tangan Aruna ke dekatnya.


"Eh, Tamara, kamu ngapain?" protes Aruna tapi ngga dipedulikan Tamara yang sudah menghenikan langkahnya termasuk Alva dan perawat itu.


"Iya, saya perawat baru, dokter," sahut perawat itu sambil melihat sekeliling.


Alva mengikuti arah pandang perawat itu. Mereka hampir.sampai di ujung lorong parkiran samping yang anehnya cukup sepi.


"Kenapa? Komplotanmu belum datang?" ejek Alva tenang sambil berdiri di depan kedua wanita lemah ini.


"Alva kenapa?" bisik Aruna dengan jantung berdegup keras pada Tamara. Kata kata Kiano yang memintanya hati hati terhadap pasiennya kembali terngiang ngiang di telinganya.


"Jangan jauh jauh dari gue," sahut Tamara balas berbisik sambil mengetatkan genggamannya di tangan Aruna.


Aruna hanya bisa mengangguk. Dia mulai takut. Mereka hanya bertiga


*Kiano?


Bisa datang sekarang?


Aku takut*.....


Bahaya buat mereka. Tamara ngga tau apa Alva bisa dihandalkan. Yang parahnya lagi dia ngga tau ada berapa jumlah orang yang akan mengeksekusi mereka nantinya.


Sunyi sesaat. Terasa hening mencekam. Satu senyum sinis mendadak menyeruak di bibir perawat perempuan muda itu.


"Sudah, kok. Itu keluarga pasien baru datang," sahut perawat baru itu saat melihat dua mobil suv hitam metalik berhenti di depan mereka.


Alva tau, ini akan jadi pertarungan ngga seimbang.

__ADS_1


Sialan, nasib gue apes banget, rutuknya dalam hati.


__ADS_2